8 Manfaat Menulis di Blog

Ahad, 5 Februari 2017 notifikasi dari wordpress kembali saya terima. Hari ini blog My Home Sweet Home genap berusia 8 (delapan) tahun! Sewindu sudah saya menulis di blog ini, dengan tema-tema ringan seputar kehidupan. Tepatnya seputar kehidupan saya, namanya juga blog pribadi. 🙂

Sebenernya saya sendiri cukup surprised kalo blog ini bisa bertahan selama 8 tahun. Padahal saya moody banget kalo nulis, plus tergantung ketersediaan waktu. Di sisi lain, saya belum pernah berniat untuk berhenti ngeblog. Bisa jadi karena saya udah ngerasain asik, seru, dan manfaatnya ngeblog. 

Berikut 8 manfaat yang bisa didapetin dari ngeblog, versi saya :

 

1. Belajar menulis.

Menulis di blog membuat saya belajar mengungkapkan apa yang saya rasakan, pikirkan, dan alami ke dalam bentuk tulisan.

Ketika di awal masa ngeblog saya masih dalam tahap mencari cara menulis yang nyaman dan sesuai karakter saya. Ada masa ketika saya mencoba menirukan gaya menulis blogger lain, tapi jatuhnya nggak cocok dan jauh dari kepribadian saya. Gak asik aja rasanya.

Ada masanya pula ketika saya terlalu mikir ketika nulis, bagus nggaknya, dibaca orang lain atau nggak. Akhirnya tulisan nggak jadi-jadi, jadi draft sampai berbulan-bulan. Duh.

Seiring berjalannya waktu, sepertinya saya udah menemukan gaya bahasa, cara menulis, pemilihan kata dan tema yang pas dan nyaman untuk saya. Lebih percaya diri karena nggak terlalu mikir, apakah dibaca atau nggak, di-like atau nggak, dikomen atau nggak. Namun, sebisa mungkin ada nilai manfaatnya, informatif, dan tidak merugikan.

Selama blog ini masih ada, proses belajar akan terus berlangsung.

 

2. Bisa curhat. 

Nah ini dia. Curhat adalah menu wajib untuk blog pribadi. Termasuk blog saya tercinta ini, banyak curhatan bertebaran di sana-sini. Hihi.

Tapi jangan salah, curhatan di blog ini tidak dalam rangka mencari simpati dan belas kasihan, loh. Karena biasanya curhatan saya posting setelah badai berlalu. Iya, masalah udah kelar curhatan mengudara kemudian.

Ketika menulis curhatan, saya seperti sedang mengurai benang kusut di dalam hati dan pikiran. Sehingga ujung dan pangkal masalah jadi lebih jelas, serta sisi terang dan hikmah akan muncul ke permukaan.

Maka tidak salah kalo menulis disebut sebagai salah satu terapi yang ampuh bagi hati dan pikiran yang sedang galau, selain berdoa tentu saja.

 

3. Kontemplasi.

Kontemplasi atau perenungan. Poin ini masih ada hubungannya dengan poin sebelumnya, yaitu curahan hati.

Setiap masalah pasti punya jalan keluar, hanya saja terkadang perlu dicari. Salah satu cara saya mengurai masalah dalam rangka mencari jalan keluar adalah dengan menulis. Terkadang di hati dan pikiran itu terasa penuh karena berbagai hal campur aduk jadi satu. Saat menuliskan berbagai macam hal tadi, secara tidak langsung pula saya akan berkontemplasi. Semacam self-talk, memberi kesempatan diri saya sendiri untuk berkomunikasi dan berkaca.

Nggak cuman sekali dua kali, hati dan pikiran jadi lebih tenang dan mampu berdamai dengan diri sendiri setelah menulis di blog.

 

4. Sebagai buku catatan.

Blog ini menjadi seperti buku catatan untuk saya. Semacam buku corat-coret yang berisi berbagai hal yang perlu saya ingat. Gak harus penting, tapi perlu dicatat.

Misal, saat saya jalan-jalan ke suatu tempat. Kalo cuman foto tanpa cerita, setahun kemudian bakal jadi koleksi foto semata. Akan jauh berbeda, ketika ada tulisan yang menyertai menguatkan memori yang tersimpan. Biasanya saya tuliskan pula tips dan trik yang berguna saat mengunjungi tempat tersebut.

Di blog ini saya juga sering menuliskan tentang prosedur mengurus berbagai hal. Misalnya administrasi rumah sakit, penambahan nama di paspor untuk keperluan umroh, dan cara mendapat vaksin meningitis.

Ada juga catatan materi setelah saya mengikuti sebuah seminar. 

Catatan-catatan semacam ini bisa dibuka lagi saat saya membutuhkan suatu saat nanti.

 

5. Berbagi Informasi

Poin ini masih ada hubungannya dengan poin sebelumnya. Saya ingin catatan yang saya buat dan posting memiliki manfaat, paling tidak untuk diri sendiri. Syukur-syukur juga untuk orang lain.

Salah satu postingan dengan tingkat kunjungan yang tinggi adalah Umroh #2 : Vaksin Mengintis, yang saya tulis bulan April 2015. Setiap hari selalu ada yang mampir ke postingan itu, rata-rata 20 visit. Padahal nggak saya promosikan ke mana-mana loh. Google-lah yang mengantar mereka ke sini. 🙂

Postingan itu adalah salah satu dari tulisan berseri catatan perjalanan saya ke tanah suci, alhamdulillah jika tulisan-tulisan itu bermanfaat bagi yang membutuhkan.

Saya sendiri ketika blogwalking, lebih suka membaca postingan yang ditulis berdasar pengalaman empiris, betul-betul dialami oleh si penulis. Bukan sekadar katanya tapi karena mengalami secara langsung.

Berbagi informasi yang bermanfaat itu tidak ada ruginya.

 

6. Milestone

Milestone diartikan sebagai penanda atas kejadian-kejadian penting. Bisa juga penanda atas perkembangan suatu hal.

Blog ini pun juga mencatat berbagai kejadian penting dalam hidup saya. Sekali lagi ini blog pribadi, penting bagi saya belum tentu penting untuk orang lain. Hahaha.

Salah satu milestone yang tercatat di blog ini adalah progres saya dalam bersepeda. Kalo ngeliat postingan lama tentang gowes, keliatan banget bedanya dengan postingan gowes yang baru-baru. Keliatan kalo saya agak lebih strong dari sebelumnya, kan? Hihihi.

Beberapa blog lain bercerita tentang perkembangan anak, bisnis, karir atau apapun. Ya, progres terlihat jika perkembangan tercatat secara konsisten dan kontinyu.

 

7. Jadi pemeran utama.

Yeay, ini bagian favorit saya. Seperti yang saya tulis di profil saya, “a happy wife of a happy hubby, pemeran utama di blog pribadi”.

Di blog ini saya jadi pemeran utama, yang lain jadi supporting role alias pemeran pembantu. Hihi. I feel so special to have my personal blog. Tidak ada yang bisa melarang ketika di blog ini isinya tentang saya semua. Berbeda ketika saya lagi ngobrol dengan orang lain, sangat tidak etis kalo mendominasi pembicaraan, apalagi membicarakan diri sendiri terus. Nah, kalo di blog pribadi, itu sah! Hehehe.

Jadi harapannya nih, kalo udah jadi pemeran utama di blog, saat di kehidupan nyata saya bisa menahan diri dan sadar bahwa it’s not always about me. Ibaratnya saya harus siap jadi pemeran pembantu bagi kehidupan orang lain.

 

8. Legacy

Warisan.

Yang ini agak berat. Bagaikan pisau bermata dua, blog ini bisa jadi warisan yang baik tapi bisa juga jadi peninggalan kurang baik.

Saya nggak tahu sampai kapan blog ini bertahan, sampai kapan saya bisa konsisten menulis. Apa yang saya share di dunia maya tanpa batas ini, boleh jadi bertahan lebih lama dari usia saya. Kesadaran inilah yang membuat saya untuk berhati-hati dan berbagi hal yang baik-baik saja. 🙂 

 

***

 

Selain 8 poin di atas, masih banyak benefit yang didapat dari blogging. Salah satunya keuntungan secara finansial, dengan review produk ini itu, jadi buzzer, atau dari iklan.

Blog juga bisa sebagai pembuka peluang bisnis. Ada blogger yang memulai usaha kuliner setelah sering posting hasil masakan-masakan dia. Didukung dengan foto-foto yang menarik, jadi banyak yang ngiler pengen ngicip olahan dapurnya. Ada juga blogger yang bolak-balik dapat hadiah, keluar negeri gratis karena ikutan kuis dengan nulis di blog.

Beberapa penulis sukses juga berangkat dari menulis di blog. Tulisan mereka dinilai layak dimuat di media yang lebih besar atau dibukukan, bahkan difilmkan.

Bagaimana dengan saya? Masih setia di jalur blog pribadi. Sementara ini menulis hanya sebatas hobby, apalagi saya masih suka moody. Belum bisa menulis berdasar pesanan maupun dateline. 🙂 

Anyway, buat teman-teman sesama blogger, apapun jalur menulis yang kita ambil, saling menyemangati yah! 

Pesan saya buat kamu yang belum nulis, mulailah menulis. Bisa di blog, media sosial, atau media lainnya. Sayang loh punya berbagai pengalaman tapi tidak tercatat. Setiap kita adalah istimewa, menjalani pengalaman hidup masing-masing yang pasti memiliki hikmah dan pelajaran atau pun informasi yang bisa dibagi.

Selamat ulang tahun ke-8 blog tercinta!

*cover foto diambil dari howtomotivation.com

Gowes Uphill : Hutan Pinus Dlingo 

Hutan Pinus Dlingo, sebuah destinasi wisata alam di Yogyakarta yang terletak di Kabupaten Bantul, Yogyakarta. Tepatnya di sisi timur kota, naik ke perbukitan Pathuk. Tempat ini cukup populer di media sosial karena emang bagus buat selfie dan foto-foto.

Saya juga pengen ke sana, tapi bersepeda atau gowes. Sabtu, 21 Januari 2017, saya dan Mas Nug gowes ke Bukit Pathuk dengan tujuan utama Hutan Pinus Dlingo. Pukul 06.00 kami baru berangkat dari rumah, udah cukup siang.

Tanjakan Bukit Pathuk terasa lebih menantang karena ramainya lalu lintas. Berbagi jalan dengan kendaraan besar seperti truk dan bis. Cukup membuat saya panik dan senewen saat gowes di tanjakan yang cukup tinggi, kendaraan-kendaraan besar itu mengklakson dari belakang. Dua kali saya akhirnya mengalah untuk minggir demi keselamatan. Jalan mulai lengang setelah perempatan Pathuk dan kami belok ke kanan atau arah selatan ke arah Dlingo.

Satu setengah kilometer (1,5 km) kemudian dari perempatan Pathuk, kami sampai di titik pemberhentian pertama yaitu Watu Amben. Sebuah spot di sisi jalan dengan pemandangan landscape Kota Yogyakarta. Saat langit cerah, kita bisa menikmati gagahnya Gunung Merapi, Merbabu dan Sumbing yang berdiri di sisi utara.

Di sekitar spot ini terdapat banyak kedai kopi yang buka sejak sore hingga malam, untuk menemani pengunjung menyaksikan sunset dan kelap-kelip lampu Kota Yogyakarta di malam hari.

Saat kami naik, hujan mulai turun dengan cukup deras. Sempat berpikir untuk mencukupkan perjalanan, dan segera turun ke Jogja. Alhamdulillah, saat kami berhenti di Watu Amben untuk berfoto sejenak, hujan berhenti sehingga kami bisa meneruskan perjalanan.

Watu Amben

Watu Amben
Watu Amben

 

Pemberhentian kedua adalah Hutan Pinus Pengger. Sebuah kawasan wisata alam yang sepertinya belum terlalu banyak dikenal, sehingga cukup sepi pengunjung. Waktu itu hanya ada kami berdua dan serombongan anak-anak TK setempat yang sedang field trip.

Ternyata selain Hutan Pinus Dlingo yang hits itu, ada banyak tempat atau spot wisata alam baru yang sebenernya juga sama adem dan asrinya. Saya juga baru tahu kok. Kalo menurut pengamatan saya, perbedaan terletak pada luasan kawasan dan kerapatan pohon pinusnya. Di Pengger, pohonnya tidak serapat di Dlingo.

Pengunjung bisa membawa sepeda dan motor masuk ke dalam, sedangkan mobil parkit di luar. Tidak ada tiket masuk kecuali memasukkan uang seikhlasnya di dalam kotak sebagai biaya parkir.

Hutan Pinus Pengger

Hutan Pinus Pengger

 

Perjalanan kami lanjutkan menuju Puncak Becici, spot wisata yang sudah cukup dikenal luas untuk bike camp, outbound, dan kegiatan sejenisnya. Pohon pinus menjulang juga menjadi menu utama untuk memanjakan mata.

Tempat ini dikelola dengan lebih serius dibanding Hutan Pinus Pengger, ada gerbang masuk yang dijaga oleh petugas. Mereka memungut biaya parkir kendaraan yang masuk yaitu Rp.3.000,-/motor, Rp.10.000,-/mobil, dan Rp.20.000,-/bus.

Tidak lama kami berhenti di sana, hanya sekadar mengambil foto di depan pintu gerbang dan segera melanjutkan perjalanan ke Hutan Pinus Dlingo. 

Kami melalui kawasan pemukiman dan sebuah sekolah dasar. Suasana bersahaja dan sederhana kental terasa. Damai. Anak-anak berkulit lebih gelap karena mereka menghabiskan waktu bermain di luar rumah, tidak hanya duduk menekuri gagdet di tangan.

Puncak Becici
Puncak Becici

 

Sebelum sampai ke tujuan utama, kami sempat mampir ke Hutan Kayu Putih. Sesuai dengan namanya, pepohonan kayu putih menjadi sajian utama. Tempat ini sepertinya masih baru, karena sedang dalam tahap merapikan jalan setapak, penanaman pohon, dan pembangunan fasilitas pelengkap.

Tempat ini juga masih sepi, saat itu hanya kami berdua dan serombongan ibu-ibu yang piknik tanpa keluarga. Saking sepinya, petugas yang jaga aja juga belum ada. Hahaha. Jadi jelas aja masih gratis nggak ada biaya masuk termasuk parkir.

Hutan Kayu Putih
Hutan Kayu Putih

 

Akhirnya, sekitar pukul 10.30 kami tiba di tujuan utama yaitu Hutan Pinus Dlingo. Udah siang banget karena kami kebanyakan berhenti, dikit-dikit cekrek! Hutan Pinus Dlingo pun, ternyata juga terbagi-bagi menjadi beberapa kawasan. Kami berhenti di Hutan Pinus Asri untuk beristirahat.

Tidak ada tiket masuk hanya biaya parkir saja, tapi untuk sepeda malah gratis dan boleh dibawa masuk ke dalam hutan.

Pengunjung di hutan ini jauh lebih banyak dari tempat-tempat sebelumnya. Kebanyakan datang dari arah selatan atau Imogiri, berlawanan dengan kami yang naik dari utara atau Pathuk. Bisa jadi mereka baru saja turun dari Kebun Buah Mangunan yang terkenal itu, menikmati kabut sejak subuh tadi.

Spot foto di kawasan ini cukup banyak, cocok buat kamu yang suka selfie! Termasuk saya juga, sih. Hehe.

Hutan Pinus Dlingo

Hutan Pinus Dlingo

Hutan Pinus Dlingo

Hutan Pinus Dlingo

Tanjakan Hutan Pinus

 

Waktu sudah menunjuk pukul 11.00. Matahari sudah tinggi namun tak terasa panas karena pohon pinus yang rimbun menjulang tinggi. Kami melanjutkan perjalanan ke selatan dan pulang turun lewat Imogiri. Sebenernya bisa juga mampir ke Kebun Buah Mangunan, tapi udah capek dan gak kuat kalo harus melewati tanjakan lebih tinggi. Sudah cukup. 🙂

Kami pulang menyusuri Jalan Imogiri Timur, saat hujan mulai turun. Sambil berteduh kami mampir makan Sate Klathak di Warung Sate Pak Salim yang walaupun gak se-famous Pak Bari maupun Pak Pong, soal rasa gak kalah enaknya. Warung Pak Salim terletak tidak jauh dari kawasan Imogiri. Kami berdua menghabiskan 2 porsi sate klathak, 1 porsi tongseng, 2 porsi nasi, dan 2 gelas jeruk hangat. Banyak yah! Itu pun cuman bayar Rp.70.000,-.

Sate klathak & Tongseng
Sate klathak & Tongseng

Hujan belum juga reda, padahal waktu sudah menunjuk angka 12.45. Padahal belum sholat Dhuhur, kan? Kami berdua putuskan melanjutkan perjalanan menembus hujan yang ternyata cuman lokal di wilayah selatan aja. Begitu sampai daerah Jejeran, hujan udah reda dan mulai panas.

Kami sampai di rumah udah pukul 13 lebih. Segera mandi dan sholat Dhuhur.

Resume gowes kali ini adalah menempuh jarak 53,2 km dengan elevasi 630 meter. Tapi, please jangan tanya soal average speed ya, biar pelan asal nyampe. Saya mah gitu orangnya. Hahaha.

Anyway, perjalanan gowes ke Hutan Pinus Dlingo adalah sebuah cita-cita sejak 2 tahun lalu. Sempat mencoba gowes naik dari arah Pathuk tapi gagal di tanjakan-tanjakan awal. Hahaha. Jantung berdegup kenceng banget, sehingga nggak boleh diterusin. Dua tahun berselang, saya mampu melewati dan sampai di Hutan Pinus Dlingo. Kenyataan ini semakin menegaskan bahwa latihan rutin dan kontinyu itu berpengaruh pada peningkatan kemampuan tubuh. Kebugaran itu gak bisa instan!

Ada Trick Art di XT Square Jogja #2

Biarpun libur tahun baru udah berlalu, ada cerita yang belum sempat saya tulis di sini. Yaitu jalan-jalan bareng keluarga, tepatnya ponakan perempuan yang sedang libur semester 1 dari sebuah pondok pesantren tingkat menengah di Ngruki. 

Jalan-jalan nggak perlu jauh karena di Jogja sudah banyak tempat yang bisa dikunjungi. Salah satunya adalah museum 3 dimensi, De Mata. Terletak di XT Square sebuah pusat keramaian di sisi tenggara Kota Jogja. 

Rabu, 4 Januari 2017 saya sengaja ijin satu hari dari kantor demi mengantar Azizah beserta Ummi dan adiknya, Azam.  Kami berempat meluncur selepas Sholat Dhuhur dan sesampainya di sana, alhamdulillah nggak terlalu rame. 

Harga tiket masuk De Mata 2 adalah Rp.30.000,-/orang. Cukup terjangkau dan wajar untuk ukuran tempat wisata di Jogja. 

Lalu apa bedanya De Mata 1 dan 2? De Mata 1 adalah wahana yang pertama kali dibuka pada 22 Desember 2013 yang pernah saya kunjungi dan tulis di postingan yang ini. Gambar yang ada di wahana ini masih 2 dimensi, jadi butuh ketepatan sudut pandang untuk memunculkan efek 3 dimensinya. Sedangkan De Mata 2, gambar yang dipasang sudah 3 dimensi. Nggak terlalu sulit untuk memotret dan memunculkan efek 3 dimensinya. Banyak gambar baru yang sayang untuk dilewatkan.

Daripada susah ngejelasinnya, mending langsung liat foto-fotonya aja yah. 🙂


Semoga jalan-jalan kali ini bisa bikin keponakan jadi semangat sekolah setelah libur panjang. 🙂

PS : Klik foto untuk perbesar dan baca juga tulisan Ada Trick Art di XT Square bagian pertama

Cerita Hari Ini : Kucing Tetangga #2

Miu tambah ganteng pake kalung

Ini adalah kucing yang sering datang ke rumah, yang kami beri nama Miu. Dia suka mengeong dengan suara kecil dan terdengar ‘miu, miu, miu’. Padahal dia kucing jantan loh. 

Karena seringnya Miu di rumah, saya dan Mas Nug jadi terbiasa dengan keberadaannya. Selain makan, Miu juga sering main dan bobok di rumah. Semua bagian rumah udah dia jelajahi, tapi kami memang melarang Miu masuk ke kamar tidur. Kalo di ruang tamu atau dapur masih gapapa. 

Sebelumnya, saya termasuk orang yang tidak terlalu suka dengan kucing. Takut, malah. Bahkan saat kecil saya sering ditakut-takuti oleh sepupu saya dengan kucing. Tapi, ternyata Miu berhasil mencuri hati saya. Saya suka gemesin dan godain dia. Miu juga ga marah kalo saya usilin. 

Kalo Mas Nug sih emang penggemar kucing dari dulu. Dulu ketika kami tinggal di rumah mertua, Mas Nug punya peliharaan kucing jantan yang dinamai Pirlo. Namun setelah kami punya rumah sendiri, saya-nya yang nggak pengen ada hewan peliharaan.

Makanya Mas Nug suka banget ketika ada kucing. Mulai dari mandiin, beli semprotan disinfektan, peralatan makan, sampai masak makanan kucing. Iya, Mas Nug masak buat cipus, yaitu campuran tempe dan ikan pindang yang dikukus sebelumnya.

Beberapa waktu yang lalu, Mas Nug membawa Miu ke dokter hewan yang terletak di Jalan Gambiran Yogyakarta, yaitu Klinik Kayu Manis. Kata dokter hewan, Miu bukanlah kucing Jawa murni tapi campuran, kalo dilihat dari bulunya yang cukup tebal. Setelah dilakukan pemeriksaan, Miu dinyatakan sehat, tidak ada kutu maupun jamur. Hanya saja, bulunya sering rontok sehingga perlu diberi vitamin. Selain itu, Miu diberi obat cacing sebagai standar pelayanan kesehatan hewan peliharaan.

Ohya, belum lama ini ada 3x kejadian karpet masjid di-eok-in kucing. Belum tahu oleh kucing yang mana, karena selain kucing yang dipelihara oleh warga perumahan, ada juga kucing-kucing lain dari luar. Terjadilah diskusi panjang di grup ibu-ibu perumahan. Tawaran solusi bermunculan, mulai dari pembuangan, sterilisasi, pemasangan kalung identitas, pengandangan hewan, sampai pembuatan pintu dan jendela masjid yang lebih rapat. 

Saya pribadi mendukung pada usulan sterilisasi untuk menekan angka populasi kucing, pemasangan kalung identitas kucing, dan pembuatan jendela serta pintu masjid yang lebih rapat. 

Singkat cerita hari ini, Miu datang ke rumah dengan kalung di lehernya. Entah kenapa saya dan Mas Nug jadi melow, menyadari bahwa Miu resmi milik orang lain yaitu tetangga kami. Tapi di sisi lain, ada kelegaan bahwa Miu diakui keberadaanya dan dipelihara dengan baik. Alhamdulillah. 🙂

PS : baca juga tulisan saya sebelumnya, Cerita Hari Ini : Kucing Tetangga bagian pertama

Gowes Uphill : Kaliurang dan Sekitarnya #2

Agenda wajib long weekend buat saya adalah gowes. Serasa ada yang kurang lengkap jika liburan ga dipake gowes, kecuali kalo ga kepaksa banget, ya. Bisa kok saya gak liburan keluar kota, cukup gowes seputar Jogja udah bahagia.

Sabtu, 31 Desember 2016 lalu, Jogja Folding Bike punya agenda gowes ke Turgo Hill.

Titik kumpul di Bunderan UGM pukul 06.00. Setelah menunggu beberapa lama, rombongan pesepeda lipat segera berangkat menuju Jogja kawasan utara. Melalui Jalan Kaliurang yang sedikit demi sedikit menanjak nggak habis-habis.

Sebenernya saya lumayan nekad loh ngikut rombongan ini, secara ya pesepeda yang ikutan udah pada senior dan kelas balap. Hehe. Padahal soal kecepatan, saya masih kurang banget. Untung ada mas suamik yang setia menemani. 🙂

Terbukti, belum juga sampai di Jakal kilometer 10, rombongan udah terpisah. Saya tentu saja di kelompok belakang dan memutuskan untuk istirahat di km 14 di UII. Begitu saya dan Mas Nug mulai jalan lagi, udah gak keliatan deh rombongan depan. Hehe.

Sampai di pertigaan Pakem, kami belok ke kiri menuju Warung Ijo mengisi perbekalan. Kemudian lanjut naik melalui Jalan Turi yang di sepanjang jalannya banyak terdapat kebun salak. Ya, daerah Turi dikenal sebagai penghasil salak di Yogyakarta. Jalan ini adalah jalur menuju Bukit Turgo yang sering dipake arena downhill.

Ternyata eh ternyata, kami salah persepsi nih, rombongan tidak menuju ke Bukit Turgo tapi ke Gardu Pandang Turgo untuk ngeliat Taman Lampion yang sering disebut Festival of Lights. Sebuah annual event yang digelar tiap jelang akhir tahun hingga awal tahun.

Waduh, tapi udah terlanjur sampai atas, masa ya turun. Ya sudah, saya dan Mas Nug tetap gowes dan mencari jalan tembus menuju Gardu Pandang.

Rupanya salah jalur membawa hikmah. Kami malah bisa melalui Jembatan Gantung Kali Boyong, yang terletak di Dusun Boyong, Pakem, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Jembatan ini hanya bisa dilalui mobil dari satu arah. Kalo motor atau sepeda masih bisa dari dua arah. Jadi, kalo ada mobil lewat, harus bergantian dan sabar mengantri. Di ujung jembatan pun juga ada ‘gapura’ besi dengan lebar dan tinggi 2 meter untuk membatasi ukuran mobil yang bisa melalui jembatan. Jadi kalo truk ga bakal bisa lewat.

Perjalanan kami lanjutkan dan tembus ke Jalan Boyong. Ga sengaja juga kami sampai ke Museum Ullen Sentalu. Sebenernya kami berniat untuk masuk, melihat-lihat barang sebentar. Tapi sayangnya tidak ada parkiran sepeda yang representatif. Sekadar diparkir dan tanpa penjagaan. Jadi kami hanya sampai area depan pintu masuk museum.

Selanjutnya kami bersegera menuju Gardu Pandang untuk melihat lampion di siang hari. Haha, liat lampion kok pas daylight ya. Tanjakan demi tanjakan kami lalui, walaupun dengkul udah terasa pegal. Tapi, adrenalin terpompa karena tujuan tinggal di depan mata.

Akhirnya sampai juga di Gardu Pandang Turgo. Mungkin karena udah lelah, kami lebih banyak duduk dan berfoto secukupnya. Istirahat sambil makan jadah, tempe, dan wajik, kuliner khas Kaliurang. Cukup membayar Rp.20.000,- udah dapat sepaket jadah tempe dan 7 buah wajik coklat.

By the way, lampion tidak hanya dijumpai di Gardu Pandang tapi juga di beberapa titik sekitar Kaliurang. Sepertinya masing-masing Rukun Tetangga (RT) juga membuat lampion untuk dilombakan.

Nah, kalo sudah sampai Kaliurang sayang kalo nggak mampir ke Taman Kaliurang. Yaitu taman bermain yang menurut sejarah digunakan sebagai tempat peristirahatan keluarga Hamengku Buwono XIII, kemudian sejak Sri Sultan HB IX naik tahta, taman dibuka untuk umum. Kami berfoto sebentar di gerbang masuk, kemudian meluncur turun untuk pulang. Lelah memang terasa, namun terbayar lunas dengan rasa senang di hati. 

Gowes sampai Gardu Pandang Turgo dan Taman Kaliurang adalah pengalaman dan pencapaian baru untuk saya, sehingga perlu dicatat dan ditulis di blog. Selain itu, gowes uphill kali ini telah menutup 2016 dengan sangat me-nye-nang-kan. 🙂

Alhamdulillah.

 

PS : Klik foto untuk perbesar. Baca juga postingan Gowes Uphill : Kaliurang dan Sekitarnya bagian 1.

Kilas Balik 2016

Hari pertama di tahun yang baru, 1 Januari 2017. Postingan pertama di tahun ini berisikan kilas balik 2016. Semacam tradisi di blog ini, selalu ada postingan semacam kaleidoskop peristiwa setahun terakhir.

Ada susah ada senang, seperti halnya ada siang ada malam. Ga bisa dipisahin kayak dua sisi mata uang.

 

1. Kehilangan. 

Rizqi di kala sehat. Foto diambil bulan Mei 2015, sekitar 3 bulan sebelum mulai sakit.

Tahun ini memiliki catatan penting bagi keluarga besar kami. Berpulangnya salah satu dari kami, yaitu keponakan saya, anak dari kakak sulung saya. Muhammad Nur Rizqi, telah berjuang dengan penuh semangat menjalani takdirnya melawan modulloblastoma (tumor otak) selama 1 tahun yaitu sekitar Agustus 2015 – Juli 2016.

Berjuang melalui rasa sakit dan serangkaian proses medis demi kesembuhan. Allah memberikan kesembuhan abadi, dengan memanggilnya pulang ketika Rizqi berusia 7 tahun 8 bulan. Sebuah tulisan saya posting untuk mengenang keponakan tersayang ada di sini.

Satu pelajaran penting yang saya dapat, bahwa setiap saat kita harus siap dengan kehilangan orang-orang tercinta, begitu juga sebaliknya. Bahwa mereka pun juga bisa kehilangan kita suatu saat nanti. Sedih ya, kalo membayangkan perpisahan itu. Namun kematian adalah sesuatu yang pasti, tidak bisa dihindari, tidak bisa ditunda, tidak bisa pula dipercepat.

Kematian adalah pemutus segala nikmat sekaligus sebaik-baiknya nasihat.

 

2. Diet Sosmed. 

Tahun ini saya memulai sebuah diet, yaitu sedikit demi sedikit mengurangi aktivitas di media sosial. Dimulai dengan menghapus beberapa akun yang saya miliki, seperti path, twitter, instagram, linkedin, dan foursquare. Tapi masih mempertahankan facebook dan blog ini.

Saya menghabiskan banyak waktu untuk main sosmed. Ketika masih punya instagram, saya suka banget ngeliat toko-toko online. Hehe, belanja tiada henti. Ngeliat selebgram yang tampil keren dan cantik, trus kepengen juga beli ini-itu. Selain itu, saya suka mampir ke akun yang berisi hal-hal kurang bermanfaat, yaitu gosip yang membuat saya jadi ngepoin beberapa akun.

Kayaknya sih sepele yah, tapi emang sayanya yang kurang bisa kontrol waktu saat main sosmed. Sejam-dua jam terlewati tanpa melakukan hal yang bermanfaat.

Belum lagi dengan banyaknya perang opini tentang berbagai isu panas, terutama soal politik. Namun saya memilih diam karena sadar pengetahuan dan pemahaman saya masih cetek sebatas permukaan saja. Bukan berarti saya apatis dan tidak peduli, saya pun tetap memiliki keberpihakan yang cukup saya diskusikan secara offline dengan orang-orang di sekitar saya.

Pada akhirnya, saya semakin bersyukur memutuskan untuk diet sosmed. Mendingan posting foto-foto gowes aja deh. 🙂

 

3. Semangat gowes.

Sabtu, 31 Desember 2016. Gowes penutup ahir tahun, seputar Kalirang (Jembatan Boyong, Museum Ullen Sentalu, Gradu Pandang dan Taman Kaliurang).
Sabtu, 31 Desember 2016. Gowes penutup ahir tahun, seputar Kalirang (Jembatan Boyong, Museum Ullen Sentalu, Gardu Pandang Turgo dan Taman Kaliurang).

Tahun 2016 memberi banyak pengalaman baru dalam bersepeda. Mulai berani gowes nanjak, mengambil jarak yang jauhan, maupun mencoba jenis sepeda baru selain sepeda lipat.

Di blog ini saya sempat bikin postingan tentang gowes, yaitu ke Kali Kuning Plunyon, ke Borobudur PP, gowes Jogja-Kebumen, serta ke Kaliurang dan sekitarnya.

Cuman, ya gitu. Saya belum bisa recovery dengan cepat. Sehari setelah gowes yang lumayan berat (untuk ukuran saya), saya lebih banyak istirahat aja di rumah. Jadi, belum cocok ikutan event touring lebih dari satu hari. Bisa tepar. Hehe.

Masih harus belajar untuk menjaga stamina, dengan konsisten cukup istirahat, makan minum dengan gizi berimbang.

Sebenernya apa sih yang saya cari di sini?

Nggak, saya nggak cari apa-apa di gowes. Justru saya menemukan sesuatu, yaitu apa yang saya suka. Biar badan capek, hati senang dan lebih fresh di pikiran. Sekaligus jadi quality time sama suami, Mas Nug yang juga suka gowes. Trus bisa tidur nyenyak dan makan dengan enak. Saya nggak pengen apa-apa selain sehat dan pengalaman baru.

Itu aja. 🙂


4. Satu dekade pengabdian. 

Bersama temen kantor saat bertugas di sebuah acara.

Sepuluh tahun yang lalu, tepatnya 1 Juni 2006, saya memulai sebuah babak baru kehidupan, yaitu bekerja menjadi Pegawai Negeri Sipil.

Walaupun tidak pernah bercita-cita jadi PNS, sungguh saya bersyukur Allah kasih jalan ini. Di pekerjaan ini pun, saya belajar banyak hal. Saya yang ga punya background ilmu ekonomi akuntansi, ternyata bisa juga kerja ngurusin keuangan kantor. Trus sesekali tugas acara, dari bawa baki, ngurusin konsumsi sampai ngemsi, hayuk aja. 

Setelah 10 tahun bekerja, saat ini saya masih berada di posisi yang sama. Jadi staf di instansi yang sama pula. Geser-geser dikit di ketugasan aja. Gak bosen? Nggak, biasa aja.

Kalo jenuh melanda, saya rasa itu lumrah dan normal. Makanya, penting banget untuk punya hobi. Seperti yang saya bilang sebelumnya, abis gowes hati senang pikiran fresh. Ketika balik ke rutinitas kerja, mood udah bagus.

Gak kepikiran soal karir? Hm, belum berkesempatan, belum berminat, go with the flow. Santai kayak di pantai. Nggak takut stagnan? Nggak juga. Nanti kalo terlalu sibuk, ga sempat gowes. #eh 😀 

Saya dan Mas Nug juga pernah berdiskusi soal ini, kami sepakat biarlah suami yang memiliki peran utama di ekonomi keluarga. Namun, sebagai seorang karyawan saya tetap berkewajiban untuk bekerja dengan baik, amanah dan bertanggung jawab.

Jalani, nikmati, dan syukuri. Alhamdulillah. 🙂

***

Tahun 2016 telah usai. Kalo pun ada harapan yang belum tercapai, tidak mengapa. Saya percaya itu baik untuk saya.

Tahun 2017 telah hadir. Selalu ada semangat dan harapan baru tiap kali tahun berganti. Seperti mendapat kesempatan baru untuk memperbaiki yang telah lalu.

Tapi jangan lupa, di tahun yang baru usia akan bertambah, namun umur makin berkurang. Perbaikan kualitas ibadah maupun muamalah kepada sesama juga harus dilakukan. Dunia ini semacam permainan dan tempat persinggahan semata. *ngomong sambil ngaca

Selamat datang 2017!

Public Speaker is A Leader

Senin, 19 Desember 2016 saya berkesempatan ikutan seminar Public Speaking yang diadain sama salah satu instansi tempat saya bekerja. Pembicara yang memberikan materi adalah Lusy Laksita, seorang penyiar radio, TV presenter, MC, dan pemilik sekolah broadcasting. Beliau punya banyak pengalaman di dunia broadcasting sejak tahun 1987 hingga sekarang.

Nah, sebelum materi dari Mama Lusy terhapus dari memori saya, mending saya tulis di sini agar bisa saya baca-baca lagi dan siapa tahu bermanfaat buat kamu yang mampir ke sini. Ohya, tulisan ini juga berdasar kemampuan saya memahami materi ya, plus sedikit tambahan dari saya. 🙂

 

Public Speaking adalah seni berbicara di depan khalayak (di depan umum). Biasanya kita berpikir, bahwa audiens harus berjumlah banyak, puluhan, ratusan atau lebih. Padahal, berbicara di depan minimal 2 (dua) orang saja, sudah termasuk public speaking.

Disebut seni karena bukan ilmu pasti, namun menggunakan rasa.

1. Seni Penguasaan Khalayak

Yaitu dengan cara melakukan kontak mata secara merata. Salah satu tips yang disampaikan Mama Lusy adalah saat memasuki panggung, kita langsung melakukan eye contact dengan audiens. Ga boleh nunduk, supaya terbangun kepercayaan diri sebagai public speaker.

Mama Lusy juga bilang, kecenderungan pembicara adalah melakukan kontak mata hanya pada audiens yang berada di barisan yang penuh. Terkadang lupa dengan mereka yang duduk di kursi yang lebih sepi atau sedikit orang. Sehingga ada beberapa audiens yang tak cukup mendapat perhatian atau kurang mendapat kontak mata.

Tips lain agar bisa menguasai panggung dan audiens adalah berusaha mengenali venue dan audiens. Mengenali venue bermanfaat agar pembicara dapat merancang pergerakan yang akan dilakukan, misal naik panggung lewat sebelah mana, microphone di sebelah mana, dan sebagainya. Mengenali audiens, agar cara menyampaikan materi dapat disesuaikan. Berbicara dengan anak-anak tentu saja berbeda ketika berbicara dengan mahasiswa atau pegawai maupun ibu-ibu.

2. Seni Bahasa Tubuh

Selain bahasa verbal, seorang pembicara harus bisa mengontrol gerakan tubuh. Boleh bergerak tapi tidak boleh bergerak-gerak. Gerakan yang dilakukan adalah untuk ‘menggarisbawahi’ atau menguatkan materi atau kalimat yang diucapkan.

Sedangkan bergerak-gerak adalah gerakan berulang yang biasanya muncul karena grogi. Misalnya garuk-garuk, benerin baju yang sebenernya udah rapi, atau memainkan pulpen atau kabel. Pembicara harus mampu mengendalikan tubuhnya agar meminimalisir gerakan yang tidak perlu.

3. Seni Penyertaan Humor

Humor yang disampaikan tidak boleh SARA, menyinggung jabatan, pangkat, profesi dan fisik. Humor yang disampaikan secara tidak tepat, justru akan merusak suasana dan menghilangkan antusiasme audiens. Lagipula, tidak semua orang memiliki kemampuan menyampaikan humor dengan baik. 🙂

4. Seni Penyampaian Pikiran

Seorang pembicara yang baik adalah yang mampu meyampaikan pikirannya secara runtut dan sistematis sehingga mudah dipahami oleh audiens.

Tips agar berbicara secara runtut adalah menggunakan catatan yang sebaiknya ditulis menggunakan kertas. Hindari menggunakan HP, karena bisa terjadi beberapa kendala misal habis baterai, atau ada telpon masuk. Justru akan mengganggu konsentrasi pembicara maupun audiens.

5. Seni Penciptaan Situasi

Pembicara yang baik adalah yang mampu membuat situasi yang kondusif, sehingga audiens merasa nyaman mendengarkan ia berbicara. Caranya dengan berbicara yang jelas, mudah dipahami, runtut, dan menarik.

Ketika tidak berbicara jelas, audiens bisa jadi malah sibuk sendiri sehingga situasi menjadi tidak kondusif untuk pembicara maupun audiens.

6. Seni Percakapan

Walaupun saat menyampaikan materi terasa one way communication, sebenernya audiens juga merespon dengan gerakan tubuh. Misal, mengangguk-angguk, menggelengkan kepala atau mencatat materi. Respon-respon seperti ini harus bisa ditangkap oleh pembicara agar bisa memberikan penekanan pada poin tertentu yang dianggap penting.

7. Seni Mempengaruhi

Mempengaruhi audiens untuk memperhatikan pembicara dan mengambil poin-poin penting yang disampaikan. Mempengaruhi di sini bukan selalu dalam arti memaksa audiens untuk setuju, namun untuk memahami apa yang disampaikan pembicara.

 

Tiga hal penting dalam Public Speaking, yaitu :

1. Vocal : Kemampuan olah vokal yang baik. Yaitu memperhatikan intonasi atau irama, tinggi rendah suara, tempo atau cepat lambat dalam berbicara.

2. Verbal : Memiliki perbendaharaan / kosakata yang baik, banyak dan variatif.

3. Visual : Berpenampilan baik, gerakan tubuh yang terkontrol, dan kontak mata yang menyeluruh.

 

Public Speaker is a leader. Pembicara adalah pemimpin, misal MC yang mampu memberikan perintah kepada seorang Presiden sekalipun untuk duduk, berdiri atau memberikan sambutan.

Mereka yang berbicara di depan khayalak adalah yang memiliki kesempatan untuk menyampaikan pikiran. Namun memang ada beberapa hal yang membuat takut untuk berbicara di depan khayalak.

1. Tidak percaya diri.

Tidak percaya diri bisa timbul dari faktor internal/dalam diri. Merasa tidak cukup pintar dan menarik. Padahal kemampuan berbicara di depan umum tidak selalu berbanding lurus dengan kemampuan akademis dan kesempurnaan fisik.

2. Takut salah.

Kesalahan saat berbicara adalah hal yang wajar. Sedangkan kesalahan berulang dan yang dibiasakan -lah, yang tidak wajar. Apalagi menyengaja untuk salah, yaitu dengan tidak mempersiapkan diri.

3. Grogi.

Perasaan ini biasanya muncul dari faktor eksternal. Misal, melihat jumlah audiens yang besar, melihat tokoh yang hadir, atau lokasi yang belum familiar. Cara mengatas grogi adalah dengan hadir ke lokasi acara tidak mepet dengan waktu tampil. Sehingga kita sebagai pembicara memiliki waktu untuk mengenali audiens serta medan (panggung, sound system, etc).

4. Merasa tidak siap.

Kata Mama Lusy, kalo suatu saat kita diminta berbicara di depan secara dadakan, jangan mau! Mintalah waktu beberapa saat untuk persiapan. Yaitu mempersiapkan diri untuk membuat catatan-catatan tentang apa yang mau disampaikan dan mengenali audiens serta lokasi.

 

Seorang public speaker yang baik, memiliki beberapa syarat wajib, yaitu :

1. Dapat dimengerti :

  • Berbicara dengan menguasai topik.
  • Berbicara dengan jelas.
  • Berbicara dengan tempo yang tepat. Saat menyampaikan poin yang penting/hal yang difokuskan, tempo dilambatkan.
  • Berbicara dengan volume yang tepat, yaitu dengan cara sound check atau microphone test terlebih dahulu.
  • Memiliki kemampuan berbahasa yang cakap/terampil. Tidak hanya berbicara tapi bertutur (runtut dan sitematis), berucap (jelas dan benar pengucapannya), dan berujar (bermakna).

2. Menarik perhatian :

  • Berbicara dengan antusias.
  • Menggunakan ekspresi yang tepat, yaitu menyesuaikan dengan hal yang disampaikan. Misal, ekspresi menjadi pembaca doa, tentu berbeda saat menjadi MC acara hiburan.
  • Kontrol emosi/perasaan. Kondisi hati seringkali mempengaruhi cara seseorang berbicara di depan khayalak. Sehingga terkadang pilihan kata, ekspresi, dan intonasi menjadi tidak tepat, tidak sesuai dengan materi.
  • Kontak mata terjaga dan merata. Kontak mata dimaksudkan agar audiens merasa diperhatikan.
  • Pemilihan topik yang sesuai dengan audiens.

3. Pembawaan yang tepat :

  • Berbicara dengan percaya diri.
  • Berbicara dengan rileks, tidak dibuat-buat.
  • Mengolah suara dengan tepat.
  • Berbicara dengan etis, menyesuaikan dengan tujuan acara dan audiens.

 

Sebagai penutup, berikut adalah beberapa tips untuk public speaker :

  • melakukan berbagai persiapan, dimulai dari pemahaman terhadap acara yang akan dihadiri.
  • menyiapkan naskah atau catatan.
  • adaptasi terhadap lingkungan (audiens dan lokasi), dengan datang beberapa saat sebelum acara mulai.
  • kontak mata secara merata kepada audiens.
  • jangan merasa puas, selalu evaluasi diri dan meningkatkan kemampuan dengan berlatih (vokal, pernafasan dan praktek) serta belajar dari public speaker lain.
  • rajin membaca dan belajar bahasa asing untuk menambah wawasan dan kosakata
  • belajar menulis untuk membiasakan diri menyampaikan sesuatu dengan runtut dan sistematis.

 

Saat bertugas menjadi MC pada acara Launching E-Warong oleh Menteri Sosial RI, Agustus 2016.

Sedikit berbagi cerita, saya berdinas di Bagian Protokol Kota Yogyakarta sejak 2006 hingga sekarang, mempunyai beberapa pengalaman sebagai MC di berbagai acara. Alhamdulillah pernah berkesempatan menjadi MC acara yang dihadiri oleh pejabat penting dari Walikota, Gubernur, maupun RI 1. Namun, pengalaman tersebut bukan jaminan saya selalu memiliki performa yang baik. Masih juga grogi pada saat tertentu dan pernah kacau saat tampil. Jadi, persiapan sebelum bertugas dan belajar untuk menambah kompetensi diri harus selalu dilakukan. 

Salah satunya dengan mengikuti sesi Public Speaking dari mereka yang lebih ahli dan berpengalaman. Never stop learning! 

 

PS. Cover foto saya ambil dari www.theodysseyonline.com.