Godaan dari 4 arah.

Pagi ini, 15 April 2018 adalah Ahad Kliwon, hari di mana pengajian di perumahan dilaksanakan.

Sengaja menggunakan hari pasaran Jawa, agar lebih mudah diingat oleh masyarakat di sekitar perumahan.

Pengajian kali ini diisi oleh Ustadz Setiya. Beliau membahas tentang musuh abadi manusia, yaitu iblis.

Mengapa iblis dikatakan sebagai musuh abadi manusia? Dikisahkan saat Allah SWT memerintahkan kepada malaikat dan jin untuk bersujud di depan Adam, manusia pertama, iblis yang merupakan bagian dari jin menolak.

Alasannya adalah iblis yang terbuat dari api merasa lebih terhormat dari manusia yang terbuat dari tanah. Padahal malaikat yang terbuat dari cahaya pun tunduk akan perintah Allah dan bersujud kepada Adam.

Karena melawan perintah Allah inilah, maka iblis ditempatkan di neraka. Ia kemudian meminta kepada Allah, untuk diperpanjang umurnya untuk selalu menggoda manusia, dari manusia pertama hingga yang terakhir. Agar saat di neraka nanti, iblis memiliki teman, yaitu manusia.

Maka, iblis senantiasa menggoda manusia sepanjang masa dari 4 (empat arah) :

1. Arah depan

Dari arah depan, godaan berupa keragu-raguan akan kebenaran adanya hari akhir dan pembalasan.

Sehingga tidak berpikir panjang saat berbuat keburukan. Bahwa kelak, setiap amal perbuatan baik maupun buruk akan ada balasannya.

Salah satu contoh akibat godaan dari arah depan ini adalah, manusia mempermainkan, menjadikan kehidupan akhirat sebagai olok-olokan, bahan bercandaan. Bahwa di neraka nanti, kehidupan akan menyenangkan karena berteman dengan banyak orang terkenal, maupun wanita cantik.

2. Arah belakang

Dari arah belakang, godaan berupa hal-hal yang bersifat keduniawian. Manusia dibuat menjadikan dunia ini sebagai kehidupan yang abadi, sehingga lupa mempersiapkan bekal ke kehidupan yang kekal yaitu akhirat.

Manusia dibuat sibuk mengumpulkan harta, bersenang-senang menikmati waktu tanpa sadar bahwa dunia ini adalah sementara.

Selain itu, ada pula godaan berupa pujian dari orang lain. Berbuat baik bukan untuk Allah, tapi pujian dari orang lain. Sholat Dhuha dilakukan bukan untuk mencari ridho Allah, tapi semata-mata agar rizki dilancarkan untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan semata.

3. Arah kanan

Godaan dari arah kanan adalah munculnya berbagai alasan yang menghalangi beramal sholeh. Misalnya hendak berzakat maal, muncul perasaan sayang atas hartanya. Daripada untuk zakat, mending untuk belanja, memperindah rumah, memperbarui mobil dan sebagainya.

Sudah bangun di sepertiga malam, tapi tidak melakukan sholat tahajud, godaan kantuk tidak tertahankan.

Godaan semacam ini mampu menghalangi kita dari berbuat baik. Ada saja alasan sehingga kita menunda untuk beramal kebaikan.

4. Arah kiri

Godaan dari arah kiri adalah keindahan yang membungkus perbuatan yang dilarang oleh Allah.

Misalnya, kita sudah tahu bahwa riba dilarang oleh Allah. Namun sekarang ini riba seakan-akan menjadi hal yang umum dan biasa dilakukan, melalui jasa bank dan leasing. Bahkan riba dibungkus dengan kemasan yang indah dan menyenangkan, berhadiah besar dan ditawarkan secara menarik. Sehingga orang merasa biasa saja ketika berurusan dengan riba. Padahal tetap saja itu berdosa.

Sebagai penutup, Ustadz Setiya menyampaikan bahwa kehidupan di dunia ini adalah tempat untuk beramal, baik maupun buruk. Karena di kehidupan di alam kubur maupun akhirat tidak ada lagi kesempatan untuk beramal. Tapi hanya bisa menuai hasil dari amal yang sudah dilakukan sebelumnya.

Advertisements

Menikmati Harta

Sekadar pengen berbagi sedikit ilmu yang saya dapat dari sebuah kajian di masjid depan rumah. Tepatnya Sabtu malam, 7 April 2018 lalu.

Pak Ustadz yang tak lain adalah tetangga saya membahas tentang harta. Banyak ayat yang menyampaikan bahwa harta itu perhiasan dunia, sekadar titipan. Harus diperoleh dengan cara yang halal dan dibelanjakan pula di jalan yang benar.

Ada satu poin menarik dari kajian itu, yaitu saat dikatakan bahwa ternyata sebagai seorang Muslim tidak dilarang jika membelanjakan hartanya untuk hal-hal yang bersifat tersier.

Misal punya hobi memelihara burung, trus beli yang harganya mahal, boleh kok. Punya hobi sepedaan, punya sepeda harga puluhan juta, juga ga dilarang. Punya mobil mahal, rumah bagus, juga diperbolehkan.

Tapi, ternyata ada syaratnya.

Yaitu, kita sudah menunaikan kewajiban dan sunnah dengan baik.

Apa saja kewajiban seorang muslim? Di antaranya :

1. Menunaikan zakat atas hartanya. Jika hartanya sudah mencapai nishab atau batas tertentu, wajib dizakati.

2. Memenuhi kebutuhan keluarga. Nafkah untuk istri dan anak, ataupun keluarga yang menjadi tanggung jawab kita.

3. Membayar hutang.

4. Menunaikan ibadah haji. Antrian untuk berhaji memang luar biasa panjang dan lama. Namun paling tidak kita sudah mendaftarkan diri dan menyisihkan tabungan untuk berhaji. Apakah kita sudah melakukannya?

Sunnah-sunnah yang dapat dilakukan, di antaranya :

1. Memakmurkan masjid di sekitar rumah.

2. Infaq dan sedekah atas harta yang kita miliki.

3. Membantu saudara, keluarga dekat yang membutuhkan.

4. Dan lain sebagainya.

Nah, jika wajib dan sunnah sudah terlaksana dengan baik, harta yang kita miliki boleh kita belanjakan untuk hal-hal tersier, namun tetap bermanfaat. Ibaratnya itu udah uang sisa.

Kajian di atas bener-bener bikin saya berpikir ulang. Belum lama ini muncul keinginan untuk beli ini itu yang nggak murah harganya. Perlu saya tunda, untuk memastikan apakah kewajiban dan sunnah sudah saya tunaikan dengan baik?

Diet Sosmed #2

Wow, ternyata hampir 5 bulan saya nggak nulis di blog. Ini adalah istirahat panjang pertama saya selama punya blog, loh.

Entahlah, tapi sejak setahun lalu ketika saya menulis Diet Sosmed saya merasakan nikmatnya mengurangi aktivitas di dunia maya atau khususnya sosial media. Nggak berhenti total, tapi mengurangi secara bertahap.

Tahap pertama adalah menutup beberapa akun milik saya, sehingga tersisa Facebook dan blog ini saja. Tapi saya tetep aktif dengan posting ini itu di kedua akun tersebut.

Tahap kedua yaitu mengurangi jumlah postingan. Semakin ke sini saya bisa merasakan betapa serunya memiliki momen yang saya lewati tanpa terburu-buru untuk segera dibagi di sosmed. Tetep diposting sih, tapi santai latepost pun tak mengapa.

Bukan berarti saya nggak suka foto-foto loh, tetep suka dan seringnya nebeng kamera temen. Haha. Syukur kalo fotonya bagus, kalo nggak juga gapapa.

Walaupun ngurangi postingan, saya masih menikmati timeline saya. Apalagi saya follow beberapa akun yang sesuai dengan minat saya. Salah satunya akun yang sering share video-video lucu tentang hewan peliharaan. Ih, bisa berjam-jam saya liat timeline. Oh my, I hate myself! Haha.

Artinya, saya masih menghabiskan banyak waktu dengan hape. Nggak banyak posting, ga banyak komen, tapi tetep banyak buang waktu.

Tahap ketiga, mengurangi waktu main hape. Ini yang sedang diusahakan. 😂

Anyway, postingan ini berlaku specifically for me. Khususon saya. Iya, sekali lagi saya.

Jadi, jangan heran kalo suatu saat saya hiatus berkepanjangan. Walaupun saya tetap berharap, tidak berhenti menulis sebagai salah satu cara berbagi hal-hal baik.

Okay folks, see you when I see you!

Folding Bike vs Mountain Bike

Halo, apa kabar? Sudah hampir 2 bulan blog ini nggak ada postingan baru.

Nah, mumpung long weekend saya akan membuat sebuah review tentang 2 jenis sepeda yang saya gunakan yaitu folding bike atau sepeda lipat (si orens) dan mountain bike atau sepeda gunung (si pinky). Review atau ulasan ini sangat bersifat subyektif karena berdasar pengalaman pribadi saya menggunakan dua jenis sepeda tersebut.

Baik, kita mulai saja ya.

 

Si Orens

Si orens adalah sepeda lipat kedua, sebelumnya pake Si Kuning yang pernah saya review di sini.

Saat ini saya menggunakan sepeda lipat Tern seri Link D16 warna kombinasi orens dan putih, dibeli akhir tahun 2015 setelah saya dan mas Nug ikutan Jamselinas V di Solo. Spesifikasi roda berukuran 20 inch dan menggunakan ban kojak (sleek tanpa kembang). Speed 2 x 8, udah upgrade crank yang lebih ringan dari bawaan aslinya.

Sepeda lipat ini cukup sering saya gunakan sejak awal 2016 mengunjungi berbagai tempat di Jogja dan sekitarnya. Beberapa di antaranya gowes uphill ke Plunyon dan Kaliurang, juga mini touring Jogja-Kebumen.

Pengalaman saat gowes nanjak, si orens cukup lincah dan ringan. Kalopun beberapa kali saya berhenti untuk istirahat, lebih karena dengkul saya yang belum di-upgrade. Bukan karena sepedanya. Hehe. Cuman ya gitu, harus ektra hati-hati saat gowes turun dengan sepeda lipat, mengingat gak ada suspensi sehingga getaran sangat terasa. Handling harus lebih kuat.

Saat si orens dibawa gowes jarak jauh pun juga sangat nyaman, terutama melalui jalan aspal halus. Kelebihan ban kojak yang halus tanpa kembang adalah meminimalkan gesekan ban dengan aspal. Jadi bisa ngebut. Kalopun saya tetap dengan speed rendah, mungkin karbo loading-nya kurang. Hahaha.

Dulu, saya sempat berpikiran bahwa sepeda lipat itu hanya untuk santai kota-kota semata, tapi ternyata bisa juga dipake untuk jarak jauh. Roda yang kecil membuat sepeda jenis ini lincah bermanuver saat di jalanan padat, nyelip sana-sini.

Belum lama ini, si Orens dimodifikasi dengan memotong sekitar 5 cm tinggi handlepost-nya. Handlepost itu tiang penyangga setang. Ya, kekurangan Tern Link D16 itu adalah handlepost yang fix gak bisa dinaik-turunin. Setelah dipotong 5 cm, posisi berkendara saya lebih membungkuk ke depan dan lebih nyaman.

Atas : sebelum handlepost dipotong
Bawah : sesudah handlepost dipotong

 

Si Pinky

Si Pinky adalah mountain bike (MTB) anggota keluarga baru di rumah sejak Januari 2017 lalu, menggantikan city bike saya yang berwarna putih. Si Pinky menggunakan frame Polygon Cleo 2, sedangkan part lainnya diambil dari Kona Cindercone 2012. Cuman frame-nya aja yang diganti. Ukuran roda 26 inch, dengan ban Kenda yang banyak kembangnya. Speed 3 x 9 dan suspensi depan Rock Sox.

Si Pinky belum terlalu sering saya pake, tapi udah sempat saya ajak gowes uphill ke Hutan Pinus Dlinggo dan Kaliurang.

Namanya juga mountain bike ya, jadi emang terasa banget bedanya saat gowes uphill. Lebih ‘antep’ walaupun melalui medan yang terjal atau blusukan. Setang yang lebih lebar serta adanya suspensi depan membuat saya percaya diri saat gowes turun. Getaran bisa diredam dan handling jadi terasa lebih nyaman.

Ban dengan banyak kembang memungkinkan untuk jalan yang kasar atau berbatu, gak gampang selip. Tapi kalo dipake di jalan aspal halus, jadi terasa lebih lengket dan berat.

Si Pinky sampai juga ke Tugu Urang

***

 

Anyway, sebenernya masih ada 1 jenis sepeda lagi yang juga saya cobain, yaitu road bike. Saya menggunakan Polygon Helios 100 dengan flatbar atau setang datar. Jujur yak, saya belum bisa menemukan kenyamanan pake sepeda jenis ini. Mungkin karena saya belum terbiasa dan masih perlu penyesuaian. Sempat gowes dengan sepeda ini ke Tebing Breksi.

Gowes dengan Road Bike ke Tebing Breksi

Setiap jenis sepeda memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing dengan peruntukan medan yang berbeda. Jadi memang nggak bisa dibandingkan. Semakin ke sini, saya juga jadi sedikit lebih bisa merasakan bahwa memilih jenis sepeda itu tergantung tujuan penggunaannya.

Trus kalo tetep harus merangking berdasarkan pengalaman bersepeda, apa jawaban saya? Nomer 1 adalah sepeda lipat, runner-up adalah MTB, dan diikuti sepeda jenis lainnya. Boleh gak setuju, karena ini bersifat subyektif. 🙂

8 Manfaat Menulis di Blog

Ahad, 5 Februari 2017 notifikasi dari wordpress kembali saya terima. Hari ini blog My Home Sweet Home genap berusia 8 (delapan) tahun! Sewindu sudah saya menulis di blog ini, dengan tema-tema ringan seputar kehidupan. Tepatnya seputar kehidupan saya, namanya juga blog pribadi. 🙂

Sebenernya saya sendiri cukup surprised kalo blog ini bisa bertahan selama 8 tahun. Padahal saya moody banget kalo nulis, plus tergantung ketersediaan waktu. Di sisi lain, saya belum pernah berniat untuk berhenti ngeblog. Bisa jadi karena saya udah ngerasain asik, seru, dan manfaatnya ngeblog. 

Berikut 8 manfaat yang bisa didapetin dari ngeblog, versi saya :

 

1. Belajar menulis.

Menulis di blog membuat saya belajar mengungkapkan apa yang saya rasakan, pikirkan, dan alami ke dalam bentuk tulisan.

Ketika di awal masa ngeblog saya masih dalam tahap mencari cara menulis yang nyaman dan sesuai karakter saya. Ada masa ketika saya mencoba menirukan gaya menulis blogger lain, tapi jatuhnya nggak cocok dan jauh dari kepribadian saya. Gak asik aja rasanya.

Ada masanya pula ketika saya terlalu mikir ketika nulis, bagus nggaknya, dibaca orang lain atau nggak. Akhirnya tulisan nggak jadi-jadi, jadi draft sampai berbulan-bulan. Duh.

Seiring berjalannya waktu, sepertinya saya udah menemukan gaya bahasa, cara menulis, pemilihan kata dan tema yang pas dan nyaman untuk saya. Lebih percaya diri karena nggak terlalu mikir, apakah dibaca atau nggak, di-like atau nggak, dikomen atau nggak. Namun, sebisa mungkin ada nilai manfaatnya, informatif, dan tidak merugikan.

Selama blog ini masih ada, proses belajar akan terus berlangsung.

 

2. Bisa curhat. 

Nah ini dia. Curhat adalah menu wajib untuk blog pribadi. Termasuk blog saya tercinta ini, banyak curhatan bertebaran di sana-sini. Hihi.

Tapi jangan salah, curhatan di blog ini tidak dalam rangka mencari simpati dan belas kasihan, loh. Karena biasanya curhatan saya posting setelah badai berlalu. Iya, masalah udah kelar curhatan mengudara kemudian.

Ketika menulis curhatan, saya seperti sedang mengurai benang kusut di dalam hati dan pikiran. Sehingga ujung dan pangkal masalah jadi lebih jelas, serta sisi terang dan hikmah akan muncul ke permukaan.

Maka tidak salah kalo menulis disebut sebagai salah satu terapi yang ampuh bagi hati dan pikiran yang sedang galau, selain berdoa tentu saja.

 

3. Kontemplasi.

Kontemplasi atau perenungan. Poin ini masih ada hubungannya dengan poin sebelumnya, yaitu curahan hati.

Setiap masalah pasti punya jalan keluar, hanya saja terkadang perlu dicari. Salah satu cara saya mengurai masalah dalam rangka mencari jalan keluar adalah dengan menulis. Terkadang di hati dan pikiran itu terasa penuh karena berbagai hal campur aduk jadi satu. Saat menuliskan berbagai macam hal tadi, secara tidak langsung pula saya akan berkontemplasi. Semacam self-talk, memberi kesempatan diri saya sendiri untuk berkomunikasi dan berkaca.

Nggak cuman sekali dua kali, hati dan pikiran jadi lebih tenang dan mampu berdamai dengan diri sendiri setelah menulis di blog.

 

4. Sebagai buku catatan.

Blog ini menjadi seperti buku catatan untuk saya. Semacam buku corat-coret yang berisi berbagai hal yang perlu saya ingat. Gak harus penting, tapi perlu dicatat.

Misal, saat saya jalan-jalan ke suatu tempat. Kalo cuman foto tanpa cerita, setahun kemudian bakal jadi koleksi foto semata. Akan jauh berbeda, ketika ada tulisan yang menyertai menguatkan memori yang tersimpan. Biasanya saya tuliskan pula tips dan trik yang berguna saat mengunjungi tempat tersebut.

Di blog ini saya juga sering menuliskan tentang prosedur mengurus berbagai hal. Misalnya administrasi rumah sakit, penambahan nama di paspor untuk keperluan umroh, dan cara mendapat vaksin meningitis.

Ada juga catatan materi setelah saya mengikuti sebuah seminar. 

Catatan-catatan semacam ini bisa dibuka lagi saat saya membutuhkan suatu saat nanti.

 

5. Berbagi Informasi

Poin ini masih ada hubungannya dengan poin sebelumnya. Saya ingin catatan yang saya buat dan posting memiliki manfaat, paling tidak untuk diri sendiri. Syukur-syukur juga untuk orang lain.

Salah satu postingan dengan tingkat kunjungan yang tinggi adalah Umroh #2 : Vaksin Mengintis, yang saya tulis bulan April 2015. Setiap hari selalu ada yang mampir ke postingan itu, rata-rata 20 visit. Padahal nggak saya promosikan ke mana-mana loh. Google-lah yang mengantar mereka ke sini. 🙂

Postingan itu adalah salah satu dari tulisan berseri catatan perjalanan saya ke tanah suci, alhamdulillah jika tulisan-tulisan itu bermanfaat bagi yang membutuhkan.

Saya sendiri ketika blogwalking, lebih suka membaca postingan yang ditulis berdasar pengalaman empiris, betul-betul dialami oleh si penulis. Bukan sekadar katanya tapi karena mengalami secara langsung.

Berbagi informasi yang bermanfaat itu tidak ada ruginya.

 

6. Milestone

Milestone diartikan sebagai penanda atas kejadian-kejadian penting. Bisa juga penanda atas perkembangan suatu hal.

Blog ini pun juga mencatat berbagai kejadian penting dalam hidup saya. Sekali lagi ini blog pribadi, penting bagi saya belum tentu penting untuk orang lain. Hahaha.

Salah satu milestone yang tercatat di blog ini adalah progres saya dalam bersepeda. Kalo ngeliat postingan lama tentang gowes, keliatan banget bedanya dengan postingan gowes yang baru-baru. Keliatan kalo saya agak lebih strong dari sebelumnya, kan? Hihihi.

Beberapa blog lain bercerita tentang perkembangan anak, bisnis, karir atau apapun. Ya, progres terlihat jika perkembangan tercatat secara konsisten dan kontinyu.

 

7. Jadi pemeran utama.

Yeay, ini bagian favorit saya. Seperti yang saya tulis di profil saya, “a happy wife of a happy hubby, pemeran utama di blog pribadi”.

Di blog ini saya jadi pemeran utama, yang lain jadi supporting role alias pemeran pembantu. Hihi. I feel so special to have my personal blog. Tidak ada yang bisa melarang ketika di blog ini isinya tentang saya semua. Berbeda ketika saya lagi ngobrol dengan orang lain, sangat tidak etis kalo mendominasi pembicaraan, apalagi membicarakan diri sendiri terus. Nah, kalo di blog pribadi, itu sah! Hehehe.

Jadi harapannya nih, kalo udah jadi pemeran utama di blog, saat di kehidupan nyata saya bisa menahan diri dan sadar bahwa it’s not always about me. Ibaratnya saya harus siap jadi pemeran pembantu bagi kehidupan orang lain.

 

8. Legacy

Warisan.

Yang ini agak berat. Bagaikan pisau bermata dua, blog ini bisa jadi warisan yang baik tapi bisa juga jadi peninggalan kurang baik.

Saya nggak tahu sampai kapan blog ini bertahan, sampai kapan saya bisa konsisten menulis. Apa yang saya share di dunia maya tanpa batas ini, boleh jadi bertahan lebih lama dari usia saya. Kesadaran inilah yang membuat saya untuk berhati-hati dan berbagi hal yang baik-baik saja. 🙂 

 

***

 

Selain 8 poin di atas, masih banyak benefit yang didapat dari blogging. Salah satunya keuntungan secara finansial, dengan review produk ini itu, jadi buzzer, atau dari iklan.

Blog juga bisa sebagai pembuka peluang bisnis. Ada blogger yang memulai usaha kuliner setelah sering posting hasil masakan-masakan dia. Didukung dengan foto-foto yang menarik, jadi banyak yang ngiler pengen ngicip olahan dapurnya. Ada juga blogger yang bolak-balik dapat hadiah, keluar negeri gratis karena ikutan kuis dengan nulis di blog.

Beberapa penulis sukses juga berangkat dari menulis di blog. Tulisan mereka dinilai layak dimuat di media yang lebih besar atau dibukukan, bahkan difilmkan.

Bagaimana dengan saya? Masih setia di jalur blog pribadi. Sementara ini menulis hanya sebatas hobby, apalagi saya masih suka moody. Belum bisa menulis berdasar pesanan maupun dateline. 🙂 

Anyway, buat teman-teman sesama blogger, apapun jalur menulis yang kita ambil, saling menyemangati yah! 

Pesan saya buat kamu yang belum nulis, mulailah menulis. Bisa di blog, media sosial, atau media lainnya. Sayang loh punya berbagai pengalaman tapi tidak tercatat. Setiap kita adalah istimewa, menjalani pengalaman hidup masing-masing yang pasti memiliki hikmah dan pelajaran atau pun informasi yang bisa dibagi.

Selamat ulang tahun ke-8 blog tercinta!

*cover foto diambil dari howtomotivation.com

Gowes Uphill : Hutan Pinus Dlingo 

Hutan Pinus Dlingo, sebuah destinasi wisata alam di Yogyakarta yang terletak di Kabupaten Bantul, Yogyakarta. Tepatnya di sisi timur kota, naik ke perbukitan Pathuk. Tempat ini cukup populer di media sosial karena emang bagus buat selfie dan foto-foto.

Saya juga pengen ke sana, tapi bersepeda atau gowes. Sabtu, 21 Januari 2017, saya dan Mas Nug gowes ke Bukit Pathuk dengan tujuan utama Hutan Pinus Dlingo. Pukul 06.00 kami baru berangkat dari rumah, udah cukup siang.

Tanjakan Bukit Pathuk terasa lebih menantang karena ramainya lalu lintas. Berbagi jalan dengan kendaraan besar seperti truk dan bis. Cukup membuat saya panik dan senewen saat gowes di tanjakan yang cukup tinggi, kendaraan-kendaraan besar itu mengklakson dari belakang. Dua kali saya akhirnya mengalah untuk minggir demi keselamatan. Jalan mulai lengang setelah perempatan Pathuk dan kami belok ke kanan atau arah selatan ke arah Dlingo.

Satu setengah kilometer (1,5 km) kemudian dari perempatan Pathuk, kami sampai di titik pemberhentian pertama yaitu Watu Amben. Sebuah spot di sisi jalan dengan pemandangan landscape Kota Yogyakarta. Saat langit cerah, kita bisa menikmati gagahnya Gunung Merapi, Merbabu dan Sumbing yang berdiri di sisi utara.

Di sekitar spot ini terdapat banyak kedai kopi yang buka sejak sore hingga malam, untuk menemani pengunjung menyaksikan sunset dan kelap-kelip lampu Kota Yogyakarta di malam hari.

Saat kami naik, hujan mulai turun dengan cukup deras. Sempat berpikir untuk mencukupkan perjalanan, dan segera turun ke Jogja. Alhamdulillah, saat kami berhenti di Watu Amben untuk berfoto sejenak, hujan berhenti sehingga kami bisa meneruskan perjalanan.

Watu Amben

Watu Amben
Watu Amben

 

Pemberhentian kedua adalah Hutan Pinus Pengger. Sebuah kawasan wisata alam yang sepertinya belum terlalu banyak dikenal, sehingga cukup sepi pengunjung. Waktu itu hanya ada kami berdua dan serombongan anak-anak TK setempat yang sedang field trip.

Ternyata selain Hutan Pinus Dlingo yang hits itu, ada banyak tempat atau spot wisata alam baru yang sebenernya juga sama adem dan asrinya. Saya juga baru tahu kok. Kalo menurut pengamatan saya, perbedaan terletak pada luasan kawasan dan kerapatan pohon pinusnya. Di Pengger, pohonnya tidak serapat di Dlingo.

Pengunjung bisa membawa sepeda dan motor masuk ke dalam, sedangkan mobil parkit di luar. Tidak ada tiket masuk kecuali memasukkan uang seikhlasnya di dalam kotak sebagai biaya parkir.

Hutan Pinus Pengger

Hutan Pinus Pengger

 

Perjalanan kami lanjutkan menuju Puncak Becici, spot wisata yang sudah cukup dikenal luas untuk bike camp, outbound, dan kegiatan sejenisnya. Pohon pinus menjulang juga menjadi menu utama untuk memanjakan mata.

Tempat ini dikelola dengan lebih serius dibanding Hutan Pinus Pengger, ada gerbang masuk yang dijaga oleh petugas. Mereka memungut biaya parkir kendaraan yang masuk yaitu Rp.3.000,-/motor, Rp.10.000,-/mobil, dan Rp.20.000,-/bus.

Tidak lama kami berhenti di sana, hanya sekadar mengambil foto di depan pintu gerbang dan segera melanjutkan perjalanan ke Hutan Pinus Dlingo. 

Kami melalui kawasan pemukiman dan sebuah sekolah dasar. Suasana bersahaja dan sederhana kental terasa. Damai. Anak-anak berkulit lebih gelap karena mereka menghabiskan waktu bermain di luar rumah, tidak hanya duduk menekuri gagdet di tangan.

Puncak Becici
Puncak Becici

 

Sebelum sampai ke tujuan utama, kami sempat mampir ke Hutan Kayu Putih. Sesuai dengan namanya, pepohonan kayu putih menjadi sajian utama. Tempat ini sepertinya masih baru, karena sedang dalam tahap merapikan jalan setapak, penanaman pohon, dan pembangunan fasilitas pelengkap.

Tempat ini juga masih sepi, saat itu hanya kami berdua dan serombongan ibu-ibu yang piknik tanpa keluarga. Saking sepinya, petugas yang jaga aja juga belum ada. Hahaha. Jadi jelas aja masih gratis nggak ada biaya masuk termasuk parkir.

Hutan Kayu Putih
Hutan Kayu Putih

 

Akhirnya, sekitar pukul 10.30 kami tiba di tujuan utama yaitu Hutan Pinus Dlingo. Udah siang banget karena kami kebanyakan berhenti, dikit-dikit cekrek! Hutan Pinus Dlingo pun, ternyata juga terbagi-bagi menjadi beberapa kawasan. Kami berhenti di Hutan Pinus Asri untuk beristirahat.

Tidak ada tiket masuk hanya biaya parkir saja, tapi untuk sepeda malah gratis dan boleh dibawa masuk ke dalam hutan.

Pengunjung di hutan ini jauh lebih banyak dari tempat-tempat sebelumnya. Kebanyakan datang dari arah selatan atau Imogiri, berlawanan dengan kami yang naik dari utara atau Pathuk. Bisa jadi mereka baru saja turun dari Kebun Buah Mangunan yang terkenal itu, menikmati kabut sejak subuh tadi.

Spot foto di kawasan ini cukup banyak, cocok buat kamu yang suka selfie! Termasuk saya juga, sih. Hehe.

Hutan Pinus Dlingo

Hutan Pinus Dlingo

Hutan Pinus Dlingo

Hutan Pinus Dlingo

Tanjakan Hutan Pinus

 

Waktu sudah menunjuk pukul 11.00. Matahari sudah tinggi namun tak terasa panas karena pohon pinus yang rimbun menjulang tinggi. Kami melanjutkan perjalanan ke selatan dan pulang turun lewat Imogiri. Sebenernya bisa juga mampir ke Kebun Buah Mangunan, tapi udah capek dan gak kuat kalo harus melewati tanjakan lebih tinggi. Sudah cukup. 🙂

Kami pulang menyusuri Jalan Imogiri Timur, saat hujan mulai turun. Sambil berteduh kami mampir makan Sate Klathak di Warung Sate Pak Salim yang walaupun gak se-famous Pak Bari maupun Pak Pong, soal rasa gak kalah enaknya. Warung Pak Salim terletak tidak jauh dari kawasan Imogiri. Kami berdua menghabiskan 2 porsi sate klathak, 1 porsi tongseng, 2 porsi nasi, dan 2 gelas jeruk hangat. Banyak yah! Itu pun cuman bayar Rp.70.000,-.

Sate klathak & Tongseng
Sate klathak & Tongseng

Hujan belum juga reda, padahal waktu sudah menunjuk angka 12.45. Padahal belum sholat Dhuhur, kan? Kami berdua putuskan melanjutkan perjalanan menembus hujan yang ternyata cuman lokal di wilayah selatan aja. Begitu sampai daerah Jejeran, hujan udah reda dan mulai panas.

Kami sampai di rumah udah pukul 13 lebih. Segera mandi dan sholat Dhuhur.

Resume gowes kali ini adalah menempuh jarak 53,2 km dengan elevasi 630 meter. Tapi, please jangan tanya soal average speed ya, biar pelan asal nyampe. Saya mah gitu orangnya. Hahaha.

Anyway, perjalanan gowes ke Hutan Pinus Dlingo adalah sebuah cita-cita sejak 2 tahun lalu. Sempat mencoba gowes naik dari arah Pathuk tapi gagal di tanjakan-tanjakan awal. Hahaha. Jantung berdegup kenceng banget, sehingga nggak boleh diterusin. Dua tahun berselang, saya mampu melewati dan sampai di Hutan Pinus Dlingo. Kenyataan ini semakin menegaskan bahwa latihan rutin dan kontinyu itu berpengaruh pada peningkatan kemampuan tubuh. Kebugaran itu gak bisa instan!

Ada Trick Art di XT Square Jogja #2

Biarpun libur tahun baru udah berlalu, ada cerita yang belum sempat saya tulis di sini. Yaitu jalan-jalan bareng keluarga, tepatnya ponakan perempuan yang sedang libur semester 1 dari sebuah pondok pesantren tingkat menengah di Ngruki. 

Jalan-jalan nggak perlu jauh karena di Jogja sudah banyak tempat yang bisa dikunjungi. Salah satunya adalah museum 3 dimensi, De Mata. Terletak di XT Square sebuah pusat keramaian di sisi tenggara Kota Jogja. 

Rabu, 4 Januari 2017 saya sengaja ijin satu hari dari kantor demi mengantar Azizah beserta Ummi dan adiknya, Azam.  Kami berempat meluncur selepas Sholat Dhuhur dan sesampainya di sana, alhamdulillah nggak terlalu rame. 

Harga tiket masuk De Mata 2 adalah Rp.30.000,-/orang. Cukup terjangkau dan wajar untuk ukuran tempat wisata di Jogja. 

Lalu apa bedanya De Mata 1 dan 2? De Mata 1 adalah wahana yang pertama kali dibuka pada 22 Desember 2013 yang pernah saya kunjungi dan tulis di postingan yang ini. Gambar yang ada di wahana ini masih 2 dimensi, jadi butuh ketepatan sudut pandang untuk memunculkan efek 3 dimensinya. Sedangkan De Mata 2, gambar yang dipasang sudah 3 dimensi. Nggak terlalu sulit untuk memotret dan memunculkan efek 3 dimensinya. Banyak gambar baru yang sayang untuk dilewatkan.

Daripada susah ngejelasinnya, mending langsung liat foto-fotonya aja yah. 🙂


Semoga jalan-jalan kali ini bisa bikin keponakan jadi semangat sekolah setelah libur panjang. 🙂

PS : Klik foto untuk perbesar dan baca juga tulisan Ada Trick Art di XT Square bagian pertama