Diet Sosmed #2

Wow, ternyata hampir 5 bulan saya nggak nulis di blog. Ini adalah istirahat panjang pertama saya selama punya blog, loh.

Entahlah, tapi sejak setahun lalu ketika saya menulis Diet Sosmed saya merasakan nikmatnya mengurangi aktivitas di dunia maya atau khususnya sosial media. Nggak berhenti total, tapi mengurangi secara bertahap.

Tahap pertama adalah menutup beberapa akun milik saya, sehingga tersisa Facebook dan blog ini saja. Tapi saya tetep aktif dengan posting ini itu di kedua akun tersebut.

Tahap kedua yaitu mengurangi jumlah postingan. Semakin ke sini saya bisa merasakan betapa serunya memiliki momen yang saya lewati tanpa terburu-buru untuk segera dibagi di sosmed. Tetep diposting sih, tapi santai latepost pun tak mengapa.

Bukan berarti saya nggak suka foto-foto loh, tetep suka dan seringnya nebeng kamera temen. Haha. Syukur kalo fotonya bagus, kalo nggak juga gapapa.

Walaupun ngurangi postingan, saya masih menikmati timeline saya. Apalagi saya follow beberapa akun yang sesuai dengan minat saya. Salah satunya akun yang sering share video-video lucu tentang hewan peliharaan. Ih, bisa berjam-jam saya liat timeline. Oh my, I hate myself! Haha.

Artinya, saya masih menghabiskan banyak waktu dengan hape. Nggak banyak posting, ga banyak komen, tapi tetep banyak buang waktu.

Tahap ketiga, mengurangi waktu main hape. Ini yang sedang diusahakan. 😂

Anyway, postingan ini berlaku specifically for me. Khususon saya. Iya, sekali lagi saya.

Jadi, jangan heran kalo suatu saat saya hiatus berkepanjangan. Walaupun saya tetap berharap, tidak berhenti menulis sebagai salah satu cara berbagi hal-hal baik.

Okay folks, see you when I see you!

Advertisements

Folding Bike vs Mountain Bike

Halo, apa kabar? Sudah hampir 2 bulan blog ini nggak ada postingan baru.

Nah, mumpung long weekend saya akan membuat sebuah review tentang 2 jenis sepeda yang saya gunakan yaitu folding bike atau sepeda lipat (si orens) dan mountain bike atau sepeda gunung (si pinky). Review atau ulasan ini sangat bersifat subyektif karena berdasar pengalaman pribadi saya menggunakan dua jenis sepeda tersebut.

Baik, kita mulai saja ya.

 

Si Orens

Si orens adalah sepeda lipat kedua, sebelumnya pake Si Kuning yang pernah saya review di sini.

Saat ini saya menggunakan sepeda lipat Tern seri Link D16 warna kombinasi orens dan putih, dibeli akhir tahun 2015 setelah saya dan mas Nug ikutan Jamselinas V di Solo. Spesifikasi roda berukuran 20 inch dan menggunakan ban kojak (sleek tanpa kembang). Speed 2 x 8, udah upgrade crank yang lebih ringan dari bawaan aslinya.

Sepeda lipat ini cukup sering saya gunakan sejak awal 2016 mengunjungi berbagai tempat di Jogja dan sekitarnya. Beberapa di antaranya gowes uphill ke Plunyon dan Kaliurang, juga mini touring Jogja-Kebumen.

Pengalaman saat gowes nanjak, si orens cukup lincah dan ringan. Kalopun beberapa kali saya berhenti untuk istirahat, lebih karena dengkul saya yang belum di-upgrade. Bukan karena sepedanya. Hehe. Cuman ya gitu, harus ektra hati-hati saat gowes turun dengan sepeda lipat, mengingat gak ada suspensi sehingga getaran sangat terasa. Handling harus lebih kuat.

Saat si orens dibawa gowes jarak jauh pun juga sangat nyaman, terutama melalui jalan aspal halus. Kelebihan ban kojak yang halus tanpa kembang adalah meminimalkan gesekan ban dengan aspal. Jadi bisa ngebut. Kalopun saya tetap dengan speed rendah, mungkin karbo loading-nya kurang. Hahaha.

Dulu, saya sempat berpikiran bahwa sepeda lipat itu hanya untuk santai kota-kota semata, tapi ternyata bisa juga dipake untuk jarak jauh. Roda yang kecil membuat sepeda jenis ini lincah bermanuver saat di jalanan padat, nyelip sana-sini.

Belum lama ini, si Orens dimodifikasi dengan memotong sekitar 5 cm tinggi handlepost-nya. Handlepost itu tiang penyangga setang. Ya, kekurangan Tern Link D16 itu adalah handlepost yang fix gak bisa dinaik-turunin. Setelah dipotong 5 cm, posisi berkendara saya lebih membungkuk ke depan dan lebih nyaman.

Atas : sebelum handlepost dipotong
Bawah : sesudah handlepost dipotong

 

Si Pinky

Si Pinky adalah mountain bike (MTB) anggota keluarga baru di rumah sejak Januari 2017 lalu, menggantikan city bike saya yang berwarna putih. Si Pinky menggunakan frame Polygon Cleo 2, sedangkan part lainnya diambil dari Kona Cindercone 2012. Cuman frame-nya aja yang diganti. Ukuran roda 26 inch, dengan ban Kenda yang banyak kembangnya. Speed 3 x 9 dan suspensi depan Rock Sox.

Si Pinky belum terlalu sering saya pake, tapi udah sempat saya ajak gowes uphill ke Hutan Pinus Dlinggo dan Kaliurang.

Namanya juga mountain bike ya, jadi emang terasa banget bedanya saat gowes uphill. Lebih ‘antep’ walaupun melalui medan yang terjal atau blusukan. Setang yang lebih lebar serta adanya suspensi depan membuat saya percaya diri saat gowes turun. Getaran bisa diredam dan handling jadi terasa lebih nyaman.

Ban dengan banyak kembang memungkinkan untuk jalan yang kasar atau berbatu, gak gampang selip. Tapi kalo dipake di jalan aspal halus, jadi terasa lebih lengket dan berat.

Si Pinky sampai juga ke Tugu Urang

***

 

Anyway, sebenernya masih ada 1 jenis sepeda lagi yang juga saya cobain, yaitu road bike. Saya menggunakan Polygon Helios 100 dengan flatbar atau setang datar. Jujur yak, saya belum bisa menemukan kenyamanan pake sepeda jenis ini. Mungkin karena saya belum terbiasa dan masih perlu penyesuaian. Sempat gowes dengan sepeda ini ke Tebing Breksi.

Gowes dengan Road Bike ke Tebing Breksi

Setiap jenis sepeda memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing dengan peruntukan medan yang berbeda. Jadi memang nggak bisa dibandingkan. Semakin ke sini, saya juga jadi sedikit lebih bisa merasakan bahwa memilih jenis sepeda itu tergantung tujuan penggunaannya.

Trus kalo tetep harus merangking berdasarkan pengalaman bersepeda, apa jawaban saya? Nomer 1 adalah sepeda lipat, runner-up adalah MTB, dan diikuti sepeda jenis lainnya. Boleh gak setuju, karena ini bersifat subyektif. 🙂

8 Manfaat Menulis di Blog

Ahad, 5 Februari 2017 notifikasi dari wordpress kembali saya terima. Hari ini blog My Home Sweet Home genap berusia 8 (delapan) tahun! Sewindu sudah saya menulis di blog ini, dengan tema-tema ringan seputar kehidupan. Tepatnya seputar kehidupan saya, namanya juga blog pribadi. 🙂

Sebenernya saya sendiri cukup surprised kalo blog ini bisa bertahan selama 8 tahun. Padahal saya moody banget kalo nulis, plus tergantung ketersediaan waktu. Di sisi lain, saya belum pernah berniat untuk berhenti ngeblog. Bisa jadi karena saya udah ngerasain asik, seru, dan manfaatnya ngeblog. 

Berikut 8 manfaat yang bisa didapetin dari ngeblog, versi saya :

 

1. Belajar menulis.

Menulis di blog membuat saya belajar mengungkapkan apa yang saya rasakan, pikirkan, dan alami ke dalam bentuk tulisan.

Ketika di awal masa ngeblog saya masih dalam tahap mencari cara menulis yang nyaman dan sesuai karakter saya. Ada masa ketika saya mencoba menirukan gaya menulis blogger lain, tapi jatuhnya nggak cocok dan jauh dari kepribadian saya. Gak asik aja rasanya.

Ada masanya pula ketika saya terlalu mikir ketika nulis, bagus nggaknya, dibaca orang lain atau nggak. Akhirnya tulisan nggak jadi-jadi, jadi draft sampai berbulan-bulan. Duh.

Seiring berjalannya waktu, sepertinya saya udah menemukan gaya bahasa, cara menulis, pemilihan kata dan tema yang pas dan nyaman untuk saya. Lebih percaya diri karena nggak terlalu mikir, apakah dibaca atau nggak, di-like atau nggak, dikomen atau nggak. Namun, sebisa mungkin ada nilai manfaatnya, informatif, dan tidak merugikan.

Selama blog ini masih ada, proses belajar akan terus berlangsung.

 

2. Bisa curhat. 

Nah ini dia. Curhat adalah menu wajib untuk blog pribadi. Termasuk blog saya tercinta ini, banyak curhatan bertebaran di sana-sini. Hihi.

Tapi jangan salah, curhatan di blog ini tidak dalam rangka mencari simpati dan belas kasihan, loh. Karena biasanya curhatan saya posting setelah badai berlalu. Iya, masalah udah kelar curhatan mengudara kemudian.

Ketika menulis curhatan, saya seperti sedang mengurai benang kusut di dalam hati dan pikiran. Sehingga ujung dan pangkal masalah jadi lebih jelas, serta sisi terang dan hikmah akan muncul ke permukaan.

Maka tidak salah kalo menulis disebut sebagai salah satu terapi yang ampuh bagi hati dan pikiran yang sedang galau, selain berdoa tentu saja.

 

3. Kontemplasi.

Kontemplasi atau perenungan. Poin ini masih ada hubungannya dengan poin sebelumnya, yaitu curahan hati.

Setiap masalah pasti punya jalan keluar, hanya saja terkadang perlu dicari. Salah satu cara saya mengurai masalah dalam rangka mencari jalan keluar adalah dengan menulis. Terkadang di hati dan pikiran itu terasa penuh karena berbagai hal campur aduk jadi satu. Saat menuliskan berbagai macam hal tadi, secara tidak langsung pula saya akan berkontemplasi. Semacam self-talk, memberi kesempatan diri saya sendiri untuk berkomunikasi dan berkaca.

Nggak cuman sekali dua kali, hati dan pikiran jadi lebih tenang dan mampu berdamai dengan diri sendiri setelah menulis di blog.

 

4. Sebagai buku catatan.

Blog ini menjadi seperti buku catatan untuk saya. Semacam buku corat-coret yang berisi berbagai hal yang perlu saya ingat. Gak harus penting, tapi perlu dicatat.

Misal, saat saya jalan-jalan ke suatu tempat. Kalo cuman foto tanpa cerita, setahun kemudian bakal jadi koleksi foto semata. Akan jauh berbeda, ketika ada tulisan yang menyertai menguatkan memori yang tersimpan. Biasanya saya tuliskan pula tips dan trik yang berguna saat mengunjungi tempat tersebut.

Di blog ini saya juga sering menuliskan tentang prosedur mengurus berbagai hal. Misalnya administrasi rumah sakit, penambahan nama di paspor untuk keperluan umroh, dan cara mendapat vaksin meningitis.

Ada juga catatan materi setelah saya mengikuti sebuah seminar. 

Catatan-catatan semacam ini bisa dibuka lagi saat saya membutuhkan suatu saat nanti.

 

5. Berbagi Informasi

Poin ini masih ada hubungannya dengan poin sebelumnya. Saya ingin catatan yang saya buat dan posting memiliki manfaat, paling tidak untuk diri sendiri. Syukur-syukur juga untuk orang lain.

Salah satu postingan dengan tingkat kunjungan yang tinggi adalah Umroh #2 : Vaksin Mengintis, yang saya tulis bulan April 2015. Setiap hari selalu ada yang mampir ke postingan itu, rata-rata 20 visit. Padahal nggak saya promosikan ke mana-mana loh. Google-lah yang mengantar mereka ke sini. 🙂

Postingan itu adalah salah satu dari tulisan berseri catatan perjalanan saya ke tanah suci, alhamdulillah jika tulisan-tulisan itu bermanfaat bagi yang membutuhkan.

Saya sendiri ketika blogwalking, lebih suka membaca postingan yang ditulis berdasar pengalaman empiris, betul-betul dialami oleh si penulis. Bukan sekadar katanya tapi karena mengalami secara langsung.

Berbagi informasi yang bermanfaat itu tidak ada ruginya.

 

6. Milestone

Milestone diartikan sebagai penanda atas kejadian-kejadian penting. Bisa juga penanda atas perkembangan suatu hal.

Blog ini pun juga mencatat berbagai kejadian penting dalam hidup saya. Sekali lagi ini blog pribadi, penting bagi saya belum tentu penting untuk orang lain. Hahaha.

Salah satu milestone yang tercatat di blog ini adalah progres saya dalam bersepeda. Kalo ngeliat postingan lama tentang gowes, keliatan banget bedanya dengan postingan gowes yang baru-baru. Keliatan kalo saya agak lebih strong dari sebelumnya, kan? Hihihi.

Beberapa blog lain bercerita tentang perkembangan anak, bisnis, karir atau apapun. Ya, progres terlihat jika perkembangan tercatat secara konsisten dan kontinyu.

 

7. Jadi pemeran utama.

Yeay, ini bagian favorit saya. Seperti yang saya tulis di profil saya, “a happy wife of a happy hubby, pemeran utama di blog pribadi”.

Di blog ini saya jadi pemeran utama, yang lain jadi supporting role alias pemeran pembantu. Hihi. I feel so special to have my personal blog. Tidak ada yang bisa melarang ketika di blog ini isinya tentang saya semua. Berbeda ketika saya lagi ngobrol dengan orang lain, sangat tidak etis kalo mendominasi pembicaraan, apalagi membicarakan diri sendiri terus. Nah, kalo di blog pribadi, itu sah! Hehehe.

Jadi harapannya nih, kalo udah jadi pemeran utama di blog, saat di kehidupan nyata saya bisa menahan diri dan sadar bahwa it’s not always about me. Ibaratnya saya harus siap jadi pemeran pembantu bagi kehidupan orang lain.

 

8. Legacy

Warisan.

Yang ini agak berat. Bagaikan pisau bermata dua, blog ini bisa jadi warisan yang baik tapi bisa juga jadi peninggalan kurang baik.

Saya nggak tahu sampai kapan blog ini bertahan, sampai kapan saya bisa konsisten menulis. Apa yang saya share di dunia maya tanpa batas ini, boleh jadi bertahan lebih lama dari usia saya. Kesadaran inilah yang membuat saya untuk berhati-hati dan berbagi hal yang baik-baik saja. 🙂 

 

***

 

Selain 8 poin di atas, masih banyak benefit yang didapat dari blogging. Salah satunya keuntungan secara finansial, dengan review produk ini itu, jadi buzzer, atau dari iklan.

Blog juga bisa sebagai pembuka peluang bisnis. Ada blogger yang memulai usaha kuliner setelah sering posting hasil masakan-masakan dia. Didukung dengan foto-foto yang menarik, jadi banyak yang ngiler pengen ngicip olahan dapurnya. Ada juga blogger yang bolak-balik dapat hadiah, keluar negeri gratis karena ikutan kuis dengan nulis di blog.

Beberapa penulis sukses juga berangkat dari menulis di blog. Tulisan mereka dinilai layak dimuat di media yang lebih besar atau dibukukan, bahkan difilmkan.

Bagaimana dengan saya? Masih setia di jalur blog pribadi. Sementara ini menulis hanya sebatas hobby, apalagi saya masih suka moody. Belum bisa menulis berdasar pesanan maupun dateline. 🙂 

Anyway, buat teman-teman sesama blogger, apapun jalur menulis yang kita ambil, saling menyemangati yah! 

Pesan saya buat kamu yang belum nulis, mulailah menulis. Bisa di blog, media sosial, atau media lainnya. Sayang loh punya berbagai pengalaman tapi tidak tercatat. Setiap kita adalah istimewa, menjalani pengalaman hidup masing-masing yang pasti memiliki hikmah dan pelajaran atau pun informasi yang bisa dibagi.

Selamat ulang tahun ke-8 blog tercinta!

*cover foto diambil dari howtomotivation.com

Gowes Uphill : Hutan Pinus Dlingo 

Hutan Pinus Dlingo, sebuah destinasi wisata alam di Yogyakarta yang terletak di Kabupaten Bantul, Yogyakarta. Tepatnya di sisi timur kota, naik ke perbukitan Pathuk. Tempat ini cukup populer di media sosial karena emang bagus buat selfie dan foto-foto.

Saya juga pengen ke sana, tapi bersepeda atau gowes. Sabtu, 21 Januari 2017, saya dan Mas Nug gowes ke Bukit Pathuk dengan tujuan utama Hutan Pinus Dlingo. Pukul 06.00 kami baru berangkat dari rumah, udah cukup siang.

Tanjakan Bukit Pathuk terasa lebih menantang karena ramainya lalu lintas. Berbagi jalan dengan kendaraan besar seperti truk dan bis. Cukup membuat saya panik dan senewen saat gowes di tanjakan yang cukup tinggi, kendaraan-kendaraan besar itu mengklakson dari belakang. Dua kali saya akhirnya mengalah untuk minggir demi keselamatan. Jalan mulai lengang setelah perempatan Pathuk dan kami belok ke kanan atau arah selatan ke arah Dlingo.

Satu setengah kilometer (1,5 km) kemudian dari perempatan Pathuk, kami sampai di titik pemberhentian pertama yaitu Watu Amben. Sebuah spot di sisi jalan dengan pemandangan landscape Kota Yogyakarta. Saat langit cerah, kita bisa menikmati gagahnya Gunung Merapi, Merbabu dan Sumbing yang berdiri di sisi utara.

Di sekitar spot ini terdapat banyak kedai kopi yang buka sejak sore hingga malam, untuk menemani pengunjung menyaksikan sunset dan kelap-kelip lampu Kota Yogyakarta di malam hari.

Saat kami naik, hujan mulai turun dengan cukup deras. Sempat berpikir untuk mencukupkan perjalanan, dan segera turun ke Jogja. Alhamdulillah, saat kami berhenti di Watu Amben untuk berfoto sejenak, hujan berhenti sehingga kami bisa meneruskan perjalanan.

Watu Amben

Watu Amben
Watu Amben

 

Pemberhentian kedua adalah Hutan Pinus Pengger. Sebuah kawasan wisata alam yang sepertinya belum terlalu banyak dikenal, sehingga cukup sepi pengunjung. Waktu itu hanya ada kami berdua dan serombongan anak-anak TK setempat yang sedang field trip.

Ternyata selain Hutan Pinus Dlingo yang hits itu, ada banyak tempat atau spot wisata alam baru yang sebenernya juga sama adem dan asrinya. Saya juga baru tahu kok. Kalo menurut pengamatan saya, perbedaan terletak pada luasan kawasan dan kerapatan pohon pinusnya. Di Pengger, pohonnya tidak serapat di Dlingo.

Pengunjung bisa membawa sepeda dan motor masuk ke dalam, sedangkan mobil parkit di luar. Tidak ada tiket masuk kecuali memasukkan uang seikhlasnya di dalam kotak sebagai biaya parkir.

Hutan Pinus Pengger

Hutan Pinus Pengger

 

Perjalanan kami lanjutkan menuju Puncak Becici, spot wisata yang sudah cukup dikenal luas untuk bike camp, outbound, dan kegiatan sejenisnya. Pohon pinus menjulang juga menjadi menu utama untuk memanjakan mata.

Tempat ini dikelola dengan lebih serius dibanding Hutan Pinus Pengger, ada gerbang masuk yang dijaga oleh petugas. Mereka memungut biaya parkir kendaraan yang masuk yaitu Rp.3.000,-/motor, Rp.10.000,-/mobil, dan Rp.20.000,-/bus.

Tidak lama kami berhenti di sana, hanya sekadar mengambil foto di depan pintu gerbang dan segera melanjutkan perjalanan ke Hutan Pinus Dlingo. 

Kami melalui kawasan pemukiman dan sebuah sekolah dasar. Suasana bersahaja dan sederhana kental terasa. Damai. Anak-anak berkulit lebih gelap karena mereka menghabiskan waktu bermain di luar rumah, tidak hanya duduk menekuri gagdet di tangan.

Puncak Becici
Puncak Becici

 

Sebelum sampai ke tujuan utama, kami sempat mampir ke Hutan Kayu Putih. Sesuai dengan namanya, pepohonan kayu putih menjadi sajian utama. Tempat ini sepertinya masih baru, karena sedang dalam tahap merapikan jalan setapak, penanaman pohon, dan pembangunan fasilitas pelengkap.

Tempat ini juga masih sepi, saat itu hanya kami berdua dan serombongan ibu-ibu yang piknik tanpa keluarga. Saking sepinya, petugas yang jaga aja juga belum ada. Hahaha. Jadi jelas aja masih gratis nggak ada biaya masuk termasuk parkir.

Hutan Kayu Putih
Hutan Kayu Putih

 

Akhirnya, sekitar pukul 10.30 kami tiba di tujuan utama yaitu Hutan Pinus Dlingo. Udah siang banget karena kami kebanyakan berhenti, dikit-dikit cekrek! Hutan Pinus Dlingo pun, ternyata juga terbagi-bagi menjadi beberapa kawasan. Kami berhenti di Hutan Pinus Asri untuk beristirahat.

Tidak ada tiket masuk hanya biaya parkir saja, tapi untuk sepeda malah gratis dan boleh dibawa masuk ke dalam hutan.

Pengunjung di hutan ini jauh lebih banyak dari tempat-tempat sebelumnya. Kebanyakan datang dari arah selatan atau Imogiri, berlawanan dengan kami yang naik dari utara atau Pathuk. Bisa jadi mereka baru saja turun dari Kebun Buah Mangunan yang terkenal itu, menikmati kabut sejak subuh tadi.

Spot foto di kawasan ini cukup banyak, cocok buat kamu yang suka selfie! Termasuk saya juga, sih. Hehe.

Hutan Pinus Dlingo

Hutan Pinus Dlingo

Hutan Pinus Dlingo

Hutan Pinus Dlingo

Tanjakan Hutan Pinus

 

Waktu sudah menunjuk pukul 11.00. Matahari sudah tinggi namun tak terasa panas karena pohon pinus yang rimbun menjulang tinggi. Kami melanjutkan perjalanan ke selatan dan pulang turun lewat Imogiri. Sebenernya bisa juga mampir ke Kebun Buah Mangunan, tapi udah capek dan gak kuat kalo harus melewati tanjakan lebih tinggi. Sudah cukup. 🙂

Kami pulang menyusuri Jalan Imogiri Timur, saat hujan mulai turun. Sambil berteduh kami mampir makan Sate Klathak di Warung Sate Pak Salim yang walaupun gak se-famous Pak Bari maupun Pak Pong, soal rasa gak kalah enaknya. Warung Pak Salim terletak tidak jauh dari kawasan Imogiri. Kami berdua menghabiskan 2 porsi sate klathak, 1 porsi tongseng, 2 porsi nasi, dan 2 gelas jeruk hangat. Banyak yah! Itu pun cuman bayar Rp.70.000,-.

Sate klathak & Tongseng
Sate klathak & Tongseng

Hujan belum juga reda, padahal waktu sudah menunjuk angka 12.45. Padahal belum sholat Dhuhur, kan? Kami berdua putuskan melanjutkan perjalanan menembus hujan yang ternyata cuman lokal di wilayah selatan aja. Begitu sampai daerah Jejeran, hujan udah reda dan mulai panas.

Kami sampai di rumah udah pukul 13 lebih. Segera mandi dan sholat Dhuhur.

Resume gowes kali ini adalah menempuh jarak 53,2 km dengan elevasi 630 meter. Tapi, please jangan tanya soal average speed ya, biar pelan asal nyampe. Saya mah gitu orangnya. Hahaha.

Anyway, perjalanan gowes ke Hutan Pinus Dlingo adalah sebuah cita-cita sejak 2 tahun lalu. Sempat mencoba gowes naik dari arah Pathuk tapi gagal di tanjakan-tanjakan awal. Hahaha. Jantung berdegup kenceng banget, sehingga nggak boleh diterusin. Dua tahun berselang, saya mampu melewati dan sampai di Hutan Pinus Dlingo. Kenyataan ini semakin menegaskan bahwa latihan rutin dan kontinyu itu berpengaruh pada peningkatan kemampuan tubuh. Kebugaran itu gak bisa instan!

Ada Trick Art di XT Square Jogja #2

Biarpun libur tahun baru udah berlalu, ada cerita yang belum sempat saya tulis di sini. Yaitu jalan-jalan bareng keluarga, tepatnya ponakan perempuan yang sedang libur semester 1 dari sebuah pondok pesantren tingkat menengah di Ngruki. 

Jalan-jalan nggak perlu jauh karena di Jogja sudah banyak tempat yang bisa dikunjungi. Salah satunya adalah museum 3 dimensi, De Mata. Terletak di XT Square sebuah pusat keramaian di sisi tenggara Kota Jogja. 

Rabu, 4 Januari 2017 saya sengaja ijin satu hari dari kantor demi mengantar Azizah beserta Ummi dan adiknya, Azam.  Kami berempat meluncur selepas Sholat Dhuhur dan sesampainya di sana, alhamdulillah nggak terlalu rame. 

Harga tiket masuk De Mata 2 adalah Rp.30.000,-/orang. Cukup terjangkau dan wajar untuk ukuran tempat wisata di Jogja. 

Lalu apa bedanya De Mata 1 dan 2? De Mata 1 adalah wahana yang pertama kali dibuka pada 22 Desember 2013 yang pernah saya kunjungi dan tulis di postingan yang ini. Gambar yang ada di wahana ini masih 2 dimensi, jadi butuh ketepatan sudut pandang untuk memunculkan efek 3 dimensinya. Sedangkan De Mata 2, gambar yang dipasang sudah 3 dimensi. Nggak terlalu sulit untuk memotret dan memunculkan efek 3 dimensinya. Banyak gambar baru yang sayang untuk dilewatkan.

Daripada susah ngejelasinnya, mending langsung liat foto-fotonya aja yah. 🙂


Semoga jalan-jalan kali ini bisa bikin keponakan jadi semangat sekolah setelah libur panjang. 🙂

PS : Klik foto untuk perbesar dan baca juga tulisan Ada Trick Art di XT Square bagian pertama

Cerita Hari Ini : Kucing Tetangga #2

Miu tambah ganteng pake kalung

Ini adalah kucing yang sering datang ke rumah, yang kami beri nama Miu. Dia suka mengeong dengan suara kecil dan terdengar ‘miu, miu, miu’. Padahal dia kucing jantan loh. 

Karena seringnya Miu di rumah, saya dan Mas Nug jadi terbiasa dengan keberadaannya. Selain makan, Miu juga sering main dan bobok di rumah. Semua bagian rumah udah dia jelajahi, tapi kami memang melarang Miu masuk ke kamar tidur. Kalo di ruang tamu atau dapur masih gapapa. 

Sebelumnya, saya termasuk orang yang tidak terlalu suka dengan kucing. Takut, malah. Bahkan saat kecil saya sering ditakut-takuti oleh sepupu saya dengan kucing. Tapi, ternyata Miu berhasil mencuri hati saya. Saya suka gemesin dan godain dia. Miu juga ga marah kalo saya usilin. 

Kalo Mas Nug sih emang penggemar kucing dari dulu. Dulu ketika kami tinggal di rumah mertua, Mas Nug punya peliharaan kucing jantan yang dinamai Pirlo. Namun setelah kami punya rumah sendiri, saya-nya yang nggak pengen ada hewan peliharaan.

Makanya Mas Nug suka banget ketika ada kucing. Mulai dari mandiin, beli semprotan disinfektan, peralatan makan, sampai masak makanan kucing. Iya, Mas Nug masak buat cipus, yaitu campuran tempe dan ikan pindang yang dikukus sebelumnya.

Beberapa waktu yang lalu, Mas Nug membawa Miu ke dokter hewan yang terletak di Jalan Gambiran Yogyakarta, yaitu Klinik Kayu Manis. Kata dokter hewan, Miu bukanlah kucing Jawa murni tapi campuran, kalo dilihat dari bulunya yang cukup tebal. Setelah dilakukan pemeriksaan, Miu dinyatakan sehat, tidak ada kutu maupun jamur. Hanya saja, bulunya sering rontok sehingga perlu diberi vitamin. Selain itu, Miu diberi obat cacing sebagai standar pelayanan kesehatan hewan peliharaan.

Ohya, belum lama ini ada 3x kejadian karpet masjid di-eok-in kucing. Belum tahu oleh kucing yang mana, karena selain kucing yang dipelihara oleh warga perumahan, ada juga kucing-kucing lain dari luar. Terjadilah diskusi panjang di grup ibu-ibu perumahan. Tawaran solusi bermunculan, mulai dari pembuangan, sterilisasi, pemasangan kalung identitas, pengandangan hewan, sampai pembuatan pintu dan jendela masjid yang lebih rapat. 

Saya pribadi mendukung pada usulan sterilisasi untuk menekan angka populasi kucing, pemasangan kalung identitas kucing, dan pembuatan jendela serta pintu masjid yang lebih rapat. 

Singkat cerita hari ini, Miu datang ke rumah dengan kalung di lehernya. Entah kenapa saya dan Mas Nug jadi melow, menyadari bahwa Miu resmi milik orang lain yaitu tetangga kami. Tapi di sisi lain, ada kelegaan bahwa Miu diakui keberadaanya dan dipelihara dengan baik. Alhamdulillah. 🙂

PS : baca juga tulisan saya sebelumnya, Cerita Hari Ini : Kucing Tetangga bagian pertama

Gowes Uphill : Kaliurang dan Sekitarnya #2

Agenda wajib long weekend buat saya adalah gowes. Serasa ada yang kurang lengkap jika liburan ga dipake gowes, kecuali kalo ga kepaksa banget, ya. Bisa kok saya gak liburan keluar kota, cukup gowes seputar Jogja udah bahagia.

Sabtu, 31 Desember 2016 lalu, Jogja Folding Bike punya agenda gowes ke Turgo Hill.

Titik kumpul di Bunderan UGM pukul 06.00. Setelah menunggu beberapa lama, rombongan pesepeda lipat segera berangkat menuju Jogja kawasan utara. Melalui Jalan Kaliurang yang sedikit demi sedikit menanjak nggak habis-habis.

Sebenernya saya lumayan nekad loh ngikut rombongan ini, secara ya pesepeda yang ikutan udah pada senior dan kelas balap. Hehe. Padahal soal kecepatan, saya masih kurang banget. Untung ada mas suamik yang setia menemani. 🙂

Terbukti, belum juga sampai di Jakal kilometer 10, rombongan udah terpisah. Saya tentu saja di kelompok belakang dan memutuskan untuk istirahat di km 14 di UII. Begitu saya dan Mas Nug mulai jalan lagi, udah gak keliatan deh rombongan depan. Hehe.

Sampai di pertigaan Pakem, kami belok ke kiri menuju Warung Ijo mengisi perbekalan. Kemudian lanjut naik melalui Jalan Turi yang di sepanjang jalannya banyak terdapat kebun salak. Ya, daerah Turi dikenal sebagai penghasil salak di Yogyakarta. Jalan ini adalah jalur menuju Bukit Turgo yang sering dipake arena downhill.

Ternyata eh ternyata, kami salah persepsi nih, rombongan tidak menuju ke Bukit Turgo tapi ke Gardu Pandang Turgo untuk ngeliat Taman Lampion yang sering disebut Festival of Lights. Sebuah annual event yang digelar tiap jelang akhir tahun hingga awal tahun.

Waduh, tapi udah terlanjur sampai atas, masa ya turun. Ya sudah, saya dan Mas Nug tetap gowes dan mencari jalan tembus menuju Gardu Pandang.

Rupanya salah jalur membawa hikmah. Kami malah bisa melalui Jembatan Gantung Kali Boyong, yang terletak di Dusun Boyong, Pakem, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Jembatan ini hanya bisa dilalui mobil dari satu arah. Kalo motor atau sepeda masih bisa dari dua arah. Jadi, kalo ada mobil lewat, harus bergantian dan sabar mengantri. Di ujung jembatan pun juga ada ‘gapura’ besi dengan lebar dan tinggi 2 meter untuk membatasi ukuran mobil yang bisa melalui jembatan. Jadi kalo truk ga bakal bisa lewat.

Perjalanan kami lanjutkan dan tembus ke Jalan Boyong. Ga sengaja juga kami sampai ke Museum Ullen Sentalu. Sebenernya kami berniat untuk masuk, melihat-lihat barang sebentar. Tapi sayangnya tidak ada parkiran sepeda yang representatif. Sekadar diparkir dan tanpa penjagaan. Jadi kami hanya sampai area depan pintu masuk museum.

Selanjutnya kami bersegera menuju Gardu Pandang untuk melihat lampion di siang hari. Haha, liat lampion kok pas daylight ya. Tanjakan demi tanjakan kami lalui, walaupun dengkul udah terasa pegal. Tapi, adrenalin terpompa karena tujuan tinggal di depan mata.

Akhirnya sampai juga di Gardu Pandang Turgo. Mungkin karena udah lelah, kami lebih banyak duduk dan berfoto secukupnya. Istirahat sambil makan jadah, tempe, dan wajik, kuliner khas Kaliurang. Cukup membayar Rp.20.000,- udah dapat sepaket jadah tempe dan 7 buah wajik coklat.

By the way, lampion tidak hanya dijumpai di Gardu Pandang tapi juga di beberapa titik sekitar Kaliurang. Sepertinya masing-masing Rukun Tetangga (RT) juga membuat lampion untuk dilombakan.

Nah, kalo sudah sampai Kaliurang sayang kalo nggak mampir ke Taman Kaliurang. Yaitu taman bermain yang menurut sejarah digunakan sebagai tempat peristirahatan keluarga Hamengku Buwono XIII, kemudian sejak Sri Sultan HB IX naik tahta, taman dibuka untuk umum. Kami berfoto sebentar di gerbang masuk, kemudian meluncur turun untuk pulang. Lelah memang terasa, namun terbayar lunas dengan rasa senang di hati. 

Gowes sampai Gardu Pandang Turgo dan Taman Kaliurang adalah pengalaman dan pencapaian baru untuk saya, sehingga perlu dicatat dan ditulis di blog. Selain itu, gowes uphill kali ini telah menutup 2016 dengan sangat me-nye-nang-kan. 🙂

Alhamdulillah.

 

PS : Klik foto untuk perbesar. Baca juga postingan Gowes Uphill : Kaliurang dan Sekitarnya bagian 1.