Diet Sosmed

Saat ini bisa dibilang hampir setiap orang memiliki akun media sosial. Saya mengenal beberapa teman yang memang tidak punya sosmed, tapi jumlahnya nggak seberapa dibanding jumlah yang punya.

Bagaimana dengan saya? Saya masih memiliki 3 (tiga) akun aktif, yaitu facebook, instagram, dan blog di wordpress. Sebelumnya saya juga punya Linkedin, Twitter, Foursquare, dan Path yang sudah saya hapus. Alasan utama menghapus akun saya adalah karena saya gak aktif di keempat sosmed tersebut. Jadi daripada akun saya masih ada tapi seperti gak berpenghuni, mendingan hapus sekalian.

Bagaimana dengan ketiga akun yang tersisa?

Akun facebook saya atur private, hanya teman yang bisa melihat postingan saya. Selebihnya cuman bisa lihat profile dan cover picture. Akun instagram belum lama ini saya gembok, jadinya cuman follower aja yang bisa lihat foto-foto saya. Kalo blog ini masih open. Siapa aja bisa baca.

Dari ketiga akun yang masih ada, saya pun udah bisa menentukan mana yang bakal saya keep dan mana yang bisa jadi saya hapus di kemudian hari. Blog ini bakal saya keep, sedangkan facebook dan instagram mungkin saya hapus. Entah kapan.

Buat saya, menulis di blog itu suatu hal yang istimewa. Merasa lebih bebas walaupun saya tetep punya kriteria tulisan yang layak posting. Nggak terlalu mikir juga, ada yang baca atau nggak, di-like atau nggak, dikomen atau nggak. Tapi I do concern tentang manfaat atau nggaknya tulisan saya atau at least tidak membuat kerugian. Jadi saya pun sudah mulai memilih tulisan-tulisan lama yang perlu diturunkan statusnya dari posted menjadi draft. Alias gak bisa dibaca lagi.

Beberapa waktu yang lalu, saya sempat deactivate akun facebook. Pengen ngerasain nggak punya akun facebook. Hihi, ternyata saya nggak tahan. Tetep aja akhirnya saya activate lagi. Akun facebook saya sebenernya udah mengalami banyak perubahan. Sebagian album foto saya atur jadi private, trus pake tag review. Selain itu akun facebook juga udah saya set menjadi delete after death. Jadi, akun saya bakal ilang nantinya setelah saya nggak ada.

Jadi, untuk sementara ini akun facebook akan saya pertahankan. But, I’ve been trying to be more selective to what I share, post, and who I accept as facebook friends.

Kalo instagram, mungkin suatu saat akan saya hapus. Tapi belum tahu kapan. Hehe.

Sebenernya ada apa sih, kepikiran soal hapus akun segala?

Jujur, saya itu menghabiskan banyak waktu mainan sosmed. Nggak banyak posting sih, tapi liat sana-sini. Termasuk ngepoin orang, hahaha. Bisa berjam-jam saya mainan sosmed. Sekalinya posting, saya jadi ‘haus’ like atau komen orang lain. Hahaha. Duh.

Makanya, saya kagum loh sama orang yang gak punya sosmed. Bukan berarti kehidupan mereka gak seru dan asik, tapi they keep their moments only with special ones. Toh mereka tetap bisa keep in touch dan share some moments dengan saudara, teman dan kolega lewat aplikasi macam whatsapp. Itu pun udah cukup buat mereka.

Selain itu saya kepikiran, kalo apa yang udah di-share di internet itu, bisa jadi bertahan lebih lama dibanding umur kita. Iya kalo yang diposting itu yang baik-baik, kalo gak manfaat dan cenderung merugikan malah jadi dosa yang tak terputus.

Tapi ini kembali ke pilihan kita masing-masing kok, juga bukan masalah salah atau benar. I don’t judge.

*cover picture : pushadvocacy.com

Sabar

Sebenernya sabar itu apa sih? Berikut definisi sabar menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Online. 

sabar/sa·bar/ a 1 tahan menghadapi cobaan (tidak lekas marah, tidak lekas putus asa, tidak lekas patah hati); tabah: ia menerima nasibnya dengan –; hidup ini dihadapinya dengan –; 2 tenang; tidak tergesa-gesa; tidak terburu nafsu: segala usahanya dijalankannya dengan –; 

Nah, setelah lebaran kemarin saya sempat mengikuti sebuah kajian yang salah satu bahasannya adalah sabar. Ustadzah-nya menyampaikan bahwa sabar itu luas cakupannya. Menurut saya sih, lebih luas dari definisi di atas.

Lewat postingan ini saya mencoba merangkum tentang Sabar berdasar kajian tersebut.

Sabar memiliki 4 jenis, yaitu :

  1. Sabar di saat menantikan sesuatu.

Setiap manusia memiliki cita-cita, keinginan, dan harapan. Namun tidak semua dapat diraih dengan mudah. Usaha dan doa telah dilakukan, namun yang diharapkan belum kunjung tiba. Misal menunggu hadirnya jodoh, keturunan, keberhasilan usaha, kesembuhan dari sakit, keberhasilan studi, dan berbagai macam hal.

Kondisi seperti ini harus dihadapi dengan sabar, meyakini bahwa segala ketetapan Allah itu baik. Dia Yang Maha Tahu waktu yang tepat untuk menjawab doa-doa hamba-Nya. Berusaha dan berdoa adalah tugas manusia, sedangkan hasil adalah hak mutlak dari Sang Pencipta.

Selain bersabar, kita juga harus bertawakal dalam menggapai cita-cita. Namun, tawakal bukanlah sekadar berusaha, kemudian berdoa, lalu pasrah. Tawakal itu berusaha dan berdoa tiada henti, disertai kepasrahan kepada Allah SWT. Usaha, doa dan kepasrahan berjalan beriringan.

Sertakan Allah dalam setiap target, yaitu dengan melakukan amalan-amalan yang Allah suka. Dzikir, sholat malam, tilawah Al-quran, dan lain sebagainya. Ibaratnya kita cari perhatiannya Allah. 

Rahmat Allah itu seluas prasangka baik hamba-Nya.

 

  1. Sabar di saat yang dinantikan tiba.

Perasaan senang, bahagia dan haru adalah hal yang lumrah muncul saat apa yang kita harapkan terkabul. Namun, rasa sabar pun harus tetap kita pelihara sebagaimana saat kita menunggu.

Sabar di sini dapat diartikan sebagai bentuk syukur dan kehati-hatian memanfaatkan karunia yang Allah titipkan. Sabar dalam arti menyadari bahwa keberhasilan yang telah diraih semata-mata karena izin Allah, bukan karena kehebatan kita. Sabar dalam arti tenang, tidak tergesa-gesa, tidak terburu nafsu. 

Setelah lama menanti datangnya jodoh, akhirnya pujaan hati telah hadir. Bukan nafsu dan kesenangan yang diutamakan, namun harus tetap bersabar dalam membangun rumah tangga dalam kebaikan.

Setelah lama menanti datangnya keturunan, akhirnya lahirlah permata hati. Seseorang juga harus tetap bersabar dalam membesarkan dan mendidik anak. Janganlah karena alasan anak kesayangan, membuat orangtua memanjakan dengan segala kemudahan. Didiklah dalam kesederhanaan dan siapkan mereka untuk dunia dan akhirat.

Setelah lama menanti keberhasilan usaha, keberlimpahan datang. Tetap bersabar dalam menggunakan harta tersebut. Tetaplah berhati-hati, membelanjakan harta di jalan yang baik dan bermanfaat, serta menjauhi kesia-siaan. Menyisihkan sebagian harta sesuai dengan kewajiban untuk orang-orang yang membutuhkan.

Setelah belajar dan menyelesaikan kuliah, akhirnya lulus juga. Tetap bersabar bahwa ilmu yang dimiliki itu bagian dari amanah, titipan Gusti Allah. Berusaha sebaik mungkin agar ilmu tersebut bisa bermanfaat untuk diri sendiri maupun orang lain. Syukur-syukur bisa diajarkan ke orang lain dan jadi amal jariyah. 

 

  1. Sabar di saat mendapat musibah / kesedihan.

Sedih, kecewa, putus asa bisa jadi muncul saat tertimpa kesedihan. Ditinggalkan orang-orang tercinta, kehilangan harta benda, menjadi sakit adalah beberapa contoh kesedihan yang Allah titipkan kepada hamba-Nya.

Ya, kesedihan dan kesenangan adalah titipan. Selama berada di dunia, tidak ada kesedihan dan kebahagiaan yang abadi. Sehingga kita harus tetap bersabar dan tidak sedih berlebihan. Bukankah Allah telah berfirman dalam QS. 94 ayat 5-6, “Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.”

Sebagaimana yang telah dijanjikan dalam QS. 2 ayat 286, Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.

Bisa jadi kesedihan atau kemalangan yang kita rasakan adalah cara Allah melindungi kita dari musibah yang lebih besar yang tak sanggup kita tanggung. Sekali lagi, rahmat Allah itu seluas prasangka baik hamba-Nya.

 

  1. Sabar dalam arti bersiap.

Setiap manusia akan mengalami kehilangan demi kehilangan di masa depan. Orang yang dicintai, harta benda, jabatan, kenyamanan, keamanan dan lain sebagainya. Orang-orang di sekitar kita pun juga suatu saat akan kehilangan kita. Ya, kita harus selalu bersiap menghadapi itu semua. Kita harus senantiasa bersabar dalam hidup ini, bahkan untuk hal yang belum terjadi.

Bagaimana caranya bersabar terhadap sesuatu yang belum terjadi? Yaitu dengan membangun kesadaran bahwa tidak ada yang abadi dalam hidup ini. Kita terlahir tidak membawa apapun, begitu juga saat mati. Bahwa amal ibadahlah yang menjadi penerang jalan kita nantinya.

Menyiapkan diri dan keluarga bahwa tidak selamanya dapat bersama di dunia. Menyiapkan seluruh anggota keluarga dengan saling mengingatkan untuk taat pada-Nya sehingga mampu bertemu kembali di surga-Nya.

***

Jujur saja, dari keempat jenis sabar di atas hanya nomer 1 dan 3 yang saya tahu. Yaitu saat menunggu dan tertimpa musibah. Tidak terbayang sebelumnya, bahwa saat bahagia pun kita juga harus bersabar. Bahkan terhadap segala sesuatu yang belum terjadi pun, kita juga harus bersabar.

Saya menarik sebuah kesimpulan bahwa ternyata sabar itu tidak ada batasnya. Sepanjang hidup, sabar harus mewarnai batin kita. Sabar itu tak berbatas!

Tulisan ini hanyalah catatan pribadi saya, yang masih sangat jauh dari kata sabar. Namun saya berharap tulisan ini dapat bermanfaat bagi siapapun yang membaca.

Berpulang

Kenangan 2780 hari bersama Rizqi
Kenangan 2780 hari bersama Rizqi (koleksi foto dari ayahanda Rizqi, M. Fajar)

Kamis, 7 Juli 2016/2 Syawal 1437 H adalah hari yang tidak terlupakan untuk keluarga besar kami, terutama untuk keluarga kecil kakak saya.

Muhammad Nur Rizqi, si bungsu dari kakak saya berpulang dikarenakan sakit di usianya yang baru 7 tahun 8 bulan.

Hampir setahun yang lalu, Rizqi didiagnosa medulloblastoma, yaitu cancerous brain tumor. Tumor terletak di otak kecil dan bisa menyebar ke batang otak dan jaringan sekitarnya.

Gejala mulai muncul Ramadhan tahun lalu, yaitu mual dan bertambah pusing tak terkira. Diagnosa awalpun tidak langsung mengarah ke medulloblastoma. Sempat dikira usus buntu, bahkan tindakan operasi pengambilan usus buntu pun juga dilakukan pada bulan Ramadhan 1436 H/2015 M. Namun dua minggu terakhir bulan Agustus 2015, Rizqi kembali mual dan muntah.

Di awal bulan September 2015, melalui serangkaian pemeriksaan intensif (MRI), diagnosa medulloblastoma ditegakkan. Walaupun berat menerima diagnosa tersebut, kedua orangtua Rizqi harus tetap kuat untuk bersegera mengambil langkah medis demi kesembuhan anak tercinta.

11 September 2016, operasi pemasangan selang/shunt di kepala untuk mengeluarkan cairan berlebih di kepala. Operasi dilaksanakan di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta. Tidak sampai seminggu (16 September 2015) Rizqi diperbolehkan pulang.

Selang satu hari, tepatnya 17 September 2015 tingkat kesadaran Rizqi menurun dan dibawa ke RSUP Dr. Sardjito. Keesokan harinya dokter memutuskan untuk operasi pengambilan tumor. Operasi dilaksanakan tanggal 21 September 2015. Rizqi dirawat di Pediatric Intensive Care Unit (PICU) selama 1 minggu dan 1 minggu berikutnya berada di Bangsal Cempaka Mulya. Tanggal 3 Oktober 2015, Rizqi diperbolehkan pulang.

Dua minggu kemudian, 17 Oktober 2015 kesadaran Rizqi kembali menurun dan kembali dirawat di PICU. Hasil CT Scan menunjukkan bahwa adanya kenaikan volume cairan di rongga-rongga kecil di otak, sehingga dokter menyarankan pemasangan selang/shunt yang kedua. Tanggal 27 Oktober 2015,  operasi dilaksanakan.

12 November 2015, radioterapi mulai dijalankan. Pada saat itu, sejak masuk rumah sakit Rizqi dalam keadaan tidak sadar, bahkan sampai 28 hari. Alhamdulillah 17 November 2015, kesadaran berangsur membaik. Perawatan dilanjutkan di bangsal anak. 4 Desember 2015, Rizqi diijinkan untuk pulang.

Selama dirawat di rumah, Rizqi tetap punya jadwal radioterapi dan fisioterapi di rumah sakit. Ya, tumor otak ini bisa mengganggu fungsi susunan syaraf motorik, pencernaan, penglihatan, dan pernafasan. Kondisi ini membuat Rizqi tidak bisa beraktivitas dengan leluasa, ga bisa sekolah dan main seperti biasa, tapi semangatnya luar biasa. Tetap melakukan aktivitas yang masih dia bisa, menggambar, sholat walau di tempat tidur, dan nonton kartun. Didukung oleh orangtua yang luar biasa pula. Sabar dan teguh dalam berusaha, tidak kenal menyerah.

Kontrol teratur terus dilakukan. Bulan Januari – April 2016 kondisi Rizqi terus membaik, bahkan udah latihan jalan pake walker yang dibelikan Mbah Kakungnya. Trus dengan kursi roda, diajak jalan-jalan beberapa kali sama bapak, ibu, dan kakaknya. Naik kereta maupun mengunjungi museum dirgantara.

Sekitar bulan Mei 2016, Rizqi mulai merasakan sakit di punggung. Melalui MRI diketahui adanya penyebaran/metastate di beberapa ruas tulang belakang. Rizqi kembali dirawat di RSUP Dr. Sardjito sekitar akhir Mei 2016. Rizqi kembali menjalani radioterapi dan kondisinya pun membaik. Hampir saja Rizqi diperbolehkan pulang agar bisa berlebaran di rumah.

Namun, beberapa hari jelang lebaran Idul Fitri, kondisi Rizqi perlahan mulai menurun. Hasil CT scan terakhir menunjukkan bahwa massa tumor di otak masih ada. Suhu badan naik, detak jantung sangat cepat, dan nafas mulai berat.

Rabu malam, 6 Juli 2016 pukul 22.30 WIB tim dokter memanggil kedua orangtua Rizqi untuk menjelaskan kondisi, serta berbagai kemungkinan yang bisa terjadi. Kedua orangtuanya memutuskan untuk tidak mengambil tindakan medis lainnya dan menandatangani surat pernyataan. Pasti sungguh berat bagi Mas Fajar dan Mbak Andi untuk mengambil keputusan ini, namun ini yang terbaik untuk Rizqi.

Kamis, 7 Juli 2016 pukul 02.24 WIB, Rizqi dinyatakan meninggal dunia didampingi kedua orangtuanya. Selama hampir 45 hari dirawat di rumah sakit hingga kembali ke haribaan di lebaran hari kedua, bertepatan dengan ulang tahun ke-70 Mbah Kakungnya.

Perjuangan Rizqi selama satu tahun ini telah berakhir. Telah disembuhkan dan diangkat sakitnya oleh Sang Maha Kuasa.

Setelah Subuh, Rizqi dimandikan di Unit Forensik RSUP Dr. Sardjito oleh petugas dan kedua orangtuanya. Suasana haru sangat terasa. Sekitar pukul 06.00 pagi, jenazah Rizqi dibawa ke rumah duka, kemudian dimakamkan di pemakaman keluarga dari pihak ibunya di Dusun Kajar, Bambanglipuro, Bantul.

Rizqi di mata saya adalah keponakan yang cool. Pembawaannya lebih tenang dibanding anak-anak seusianya. Bahkan saat sakit pun tidak banyak mengeluh. Lebih suka aktivitas menggambar, membuat bangun ruang dengan mainan-mainannya. Khas dengan suaranya yang nge-bass. Ya Allah, ketika menulis ini pun, masih ada rasa tak percaya kalo Rizqi sudah tidak bersama kami lagi. 

Tulisan ini saya buat untuk mengenang Muhammad Nur Rizqi, keponakan laki-laki saya. Mengenang perjuangan dan semangatnya dalam menjalani takdir. Namun, apa yang saya tulis tidak akan mampu menggambarkan perjuangan Rizqi. Tak sanggup pula mewakili keteguhan dan semangat juang, serta kehilangan yang teramat sangat yang dirasakan oleh orangtua Rizqi, yaitu Mas Fajar dan Mbak Andi, juga 2 kakak perempuannya, Galuh dan Anin.

Ucapan terima kasih untuk seluruh tim dokter, perawat, staf RSUP Dr. Sardjito yang telah merawat Rizqi dengan sabar dan telaten. Terima kasih pula untuk keluarga besar, saudara, teman atas doa-doa dan kepeduliannya selama ini bahkan sampai detik ini. Dan tentu saja puji syukur pada Allah sebagai sumber kekuatan kami. 

Semoga kami semua mampu mengambil ibrah/hikmah dari setiap ketetapan Allah SWT. Tidak sekadar melewati peristiwa demi peristiwa, namun mampu mengambil pelajaran sehingga kami menjadi hamba Allah SWT yang lebih baik lagi.

Berpulangnya Rizqi, kembali mengingatkan kepada saya bahwa kematian adalah suatu kepastian, walaupun tidak tahu kapan waktunya tiba. Bahwa setiap yang berjiwa akan merasakan mati.

Innalillaahi wa innailaihi roji’un. Sesungguhnya kami adalah milik Allah, dan kepada Allah pula kami kembali. Selamat jalan, Rizqi. Semoga Allah tempatkan dirimu di tempat terbaik. Semoga kelak engkau menjadi syafaat bagi kedua orangtuamu. Aamiin ya robbal alamin.

Mendadak Piknik Day #2

Minggu, 29 Mei 2016 adalah hari kedua saya dan mas Nug jalan-jalan di Batu dan Malang. Pagi itu kami bersantai di hotel, nggak keburu-buru jalan. Pukul 06.00 sampai 07.15 saya berenang. Masih sepi, berasa punya kolam pribadi deh. Trus mandi dan sarapan.

Hari kedua kami cuman punya waktu setengah hari di Kota Batu karena siang harus sudah check out dari hotel.

Pukul 09.00 saya dan mas Nug menuju ke Kawasan Wisata Alam Coban Rondo yang terletak di Kabupaten Malang. Masih dengan bantuan aplikasi peta. Sedikit informasi bahwa Kota Malang, Kota Batu, Kabupaten Malang itu beda kota dan wilayah loh guys. Mereka adalah daerah tingkat II atau dikelola oleh pemerintah kota dan kabupaten yang berbeda, di bawah provinsi yang sama yaitu Jawa Timur.

Sedikit gambaran yah, Stasiun Kota Baru Malang itu ada di Kota Malang, nah kalo Kota Wisata Batu itu berjarak sekitar satu jam dari Kota Malang ke arah barat dan utara. Jalanan naik kayak dari Jogja ke daerah Kaliurang Sleman. Trus ke barat lagi naik ke Kabupaten Malang, jalanan menanjak kayak dari Jogja menuju Pathuk Wonosari. CMIIW yah.

 

Lokasi #1 : Taman Labirin

Taman Labirin ini masuk ke Kawasan Wisata Coban Rondo. Di gerbang ada bagian ticketing, untuk 2 orang plus satu motor kami dikenai biaya Rp.35.000,-. Saya bilang sih cukup murah karena setelah masuk kita gak dikenakan biaya parkir dan toilet sama sekali alias gratis.

Taman Labirin hanyalah salah satu dari wahana yang disediakan. Masuk ke taman ini membayar retribusi Rp.10.000.-/orang. Masih ada wahana lain seperti naik ATV, sepeda tandem, segway, paint ball, dan memanah. Di lokasi ini juga ada area perkemahan.

Balik lagi soal Taman Labirin ya, di sana pengunjung bisa seru-seruan karena tersesat di dalam taman. Di tengah taman ada sebuah kolam mini, yang ternyata tidak mudah untuk menuju ke sana. Saya dan mas Nug aja sampai perlu 30 menit untuk sampai ke sana. Pengunjung juga bisa naik ke menara yang berada di pintu masuk labirin, di sana kita bisa melihat labirin dari atas sekaligus selfi.🙂

 

Lokasi #2 : Air Terjun Coban Rondo

Meskipun sudah menjelang tengah hari, udara masih terasa sejuk. Apalagi kalo main air di air terjun ini. Banyak wisatawan yang datang dari berbagai kota. Di dekat air terjun ini pun juga ada wahana flying fox dan treking.

Pukul 11.30 kami segera meluncur turun pulang ke hotel. Tapi rupanya keindahan alam perbukitan Kawasan Coban Rondo emang sulit untuk dilewatkan. Saya dan mas Nug sempat berhenti untuk berfoto. Suka ngeliat alam yang asri dan bersih.

Ohya, salah satu hal yang bikin saya kagum adalah kebersihannya. Beneran deh. Saya nggak melihat sampah bungkus makanan bertebaran. Hebat.

Setelah sholat Dhuhur dan Ashar yang dijamak takdim, pukul 12.00 kami check out dari hotel. Saya kasih rate 5 untuk Kartika Wijaya Heritage Hotel beserta fasilitas dan staf nya, recommended dan I don’t mind nginep di sana lagi.

Jadwal kereta Malioboro Ekspress ke Jogja masih pukul 20.15. Kami masih punya banyak waktu untuk jalan-jalan, beli oleh-oleh dan sedikit berkuliner.

 

Lokasi #3 : Alun-alun Kota Batu.

Tujuan kami selanjutnya adalah Alun-alun Kota Batu, sebuah public space yang dikelola oleh Pemerintah Kota Batu. Di tempat ini terdapat dua area permainan yaitu ferris wheel dan komedi putar mini. Nah, yang paling banyak peminat adalah ferris wheel, hanya dengan tiket sebesar Rp.3.000,-/orang.

Saya sih nggak naik, saya dan mas Nug cuman duduk-duduk sambil ngemil di bangku taman yang mengelilingi air mancur. Saat itu udah siang, tapi petugas kebersihan masih bekerja. Pantes aja alun-alunnya bersih. Udah gitu, gak boleh ada orang jualan di dalam alun-alun, bahkan bagi-bagi brosur pun gak boleh. Area umum ini juga bebas asap rokok. Biar pun hari libur, petugas dari pengelola tetap ada, memberikan berbagai pengumuman dan aturan lewat speaker. Semakin kagum deh sama kota ini dan pemerintahnya dalam mengelola public space.

Perjalanan kami lanjutkan turun ke Kota Malang. Hujan lumayan deras mengguyur Kota Batu hingga Kota Malang. Alhamdulillah di motor sewaan ada jas ujannya. Tujuan selanjutnya adalah beli oleh-oleh Strudel Malang, milik pasangan artis Teuku Wisnu dan Shireen Sungkar. Lewat bantuan peta di hape, kami sukses tidak tersesat.

Sayangnya, saat sampai pilihan rasa strudel tinggal apel aja. Satu box-nya Rp.45.000,-. Keliatannya laris banget deh, nggak berhenti banyak orang datang untuk beli.

Alhamdulillah hujan udah berhenti, jadi kami bisa melanjutkan perjalanan mengeksplor Kota Malang.

 

Lokasi #4 : Toko Oen

Ini adalah tempat makan es krim yang udah dibuka sejak tahun 1934. Jadi udah 82 tahun. Wow. Tempat dan furniturnya pun masih bergaya tempo dulu. Tujuan kami ke sini adalah makan siang dan makan es krim.

Ternyata tempat ini menyediakan pula makanan non halal yaitu pork. Sekadar untuk kehati-hatian, saya dan mas Nug cuman makan es krim dan jus aja. Soal harga, jelas nggak murah. Satu porsi banana split dibandrol Rp.50.000,- dan segelas jus semangka Rp.30.000,-. Soal rasa, kalo menurut lidah saya sih lebih enak es krim Wa**s. Hahaha.

Trus, toilet di tempat ini adalah toilet kering nggak ada semprotan airnya. Jadi perlu pake tissue basah.

 

Lokasi #5 : Warung Sate dan Gule Kambing Bang Sholeh

Setelah gagal makan siang di Toko Oen, akhirnya secara nggak sengaja kami sampai ke Warung Sate dan Gule Kambing Bang Sholeh, Jl. Ade Irma Suryani no 42 Malang. Sate dibakar di luar warung, jadi baunya udah bikin ngiler dulu. Warungnya gak terlalu luas, tapi penuh dengan pembeli.

Di dinding warung banyak foto-foto orang terkenal yang pernah makan di sana, tapi kok kebanyakan tokoh politik ya? Di antaranya adalah Hary Tanoe, Akbar Tanjung, dan Wiranto.

Kami memesan 2 porsi sate kambing tanpa lemak plus nasi, 2 gelas jeruk anget. Sate disajikan terpisah dengan bumbunya. Bumbu kacang ditaruh di piring tersendiri dengan potongan bawang merah. Yang beda adalah bumbu dikasihnya perasan jeruk nipis, sehingga ada sensasi rasa segar di bumbunya. Rupanya kami kelaparan, sodara. Nambah 1 porsi nasi deh. Total semuanya Rp.90.000,-. Begitu selesai kami harus segera pergi, karena udah ada antrian pembeli yang mau duduk.

 

Lokasi #6 : Alun-alun Kota Malang

Rasanya tidak afdol kalo berkunjung ke Kota Malang tapi tidak mampir ke Alun-alun Kota Malang. Tempatnya tidak jauh dari Toke Oen. Hanya sedikit berputar karena ada beberapa ruas jalan menggunakan divider. Dan inilah hebatnya aplikasi peta di hape, udah bisa mengakomodir jalan satu arah maupun jalan dengan divider.

Sama halnya dengan Alun-alun Kota Batu, alun-alun ini juga semacam public space yang ramai dikunjungi warga. Bagian tengah alun-alun ada space cukup luas yang bisa digunakan untuk penyelenggaraan acara, bikin panggung atau tenda. Ada area bermain anak-anak yang gratis, ada pula beberapa karya seni 3 dimensi yang dipasang di beberapa titik di dalam alun-alun.

Banyak kursi-kursi taman di tempat ini, para pengunjung duduk santai menikmati sore yang cerah di Kota Malang.

Di alun-alun ini pun juga bebas penjual dan asap rokok. Saya melihat langsung saat seorang Polisi Pamong Praja meminta seorang penjual untuk keluar dari alun-alun. Boleh jualan, tapi di luar alun-alun. Area parkir pun juga tertata. Nggak di sembarang tempat ada parkiran, hanya di salah satu sisi alun-alun saja.

Alun-alun Kota Malang juga berdekatan dengan Masjid Agung Malang, sehingga di sisi barat alun-alun terdapat space yang sudah memiliki garis shaf/tempat sholat. Sehingga saat Sholat Ied digelar, tidak perlu bikin garis-garis lagi.

Rasanya masih belum puas ya 2 hari jalan-jalan di Kota Malang dan sekitarnya. Tapi apa daya harus segera ke Stasiun Kota Baru Malang dan pulang ke Jogja.

Sampai stasiun kami menunggu beberapa waktu pihak rental mengambil motor sewaan. Ada peraturan tidak tertulis saat sewa kendaraan. Jika ketika pinjam bensin full, saat kembali pun juga full. Karena kami gak sempat mampir ke SPBU, mas Nug ngasih tambahan Rp.20.000,- untuk mengganti bensin yang kami pakai selama 2 hari.

Pukul 20.15 Malioboro Ekspres membawa kami kembali ke Jogja. Harga tiket sama dengan saat berangkat, Rp.242.500,-/orang. Pukul 04.00 keesokan harinya, Senin 30 Mei 2016, kami tiba dengan selamat di Stasiun Tugu.

Kalo dihitung-hitung biaya piknik dua hari ini ga sampai Rp.3.500.000, itu udah berdua loh, termasuk tiket kereta PP, kamar hotel, tiket masuk ke tempat wisata, makan dan beli oleh-oleh. Karena kami backpacking, ga banyak beli oleh-oleh.

Overall jalan-jalan ini sungguh menyenangkan, menikmati kebersihan Batu dan Malang. Salut untuk pemerintah dan warga setempat yang nampaknya bersinergi baik dalam menjaga keindahan dan kebersihan lingkungan.

PS : Baca juga postingan jalan-jalan hari pertama mengunjungi Eco Green Park, Jatim Park 2, dan Museum Angkut di sini.

Mendadak Piknik : Day #1

Disebut mendadak karena ide untuk berlibur datang tiba-tiba. Tidak direncana sejak lama, tiba-tiba aja pengen dolan berdua dengan suami ke Kota Malang dan Kota Wisata Batu, Jawa Timur pada Sabtu Minggu 28-29 Mei 2016. Mumpung belum masuk Bulan Ramadhan dan udah lama banget kami gak piknik berdua.

Piknik kali ini, kami atur segala sesuatunya sendiri. Mas Nug yang urus tiket kereta dan hotel, saya yang pilih tempat-tempat yang dituju termasuk rute dan jadwal waktunya, semacam bikin itinerary. Thanks to internet, segala informasi tentang tempat-tempat bagus tersedia di sana.

Jumat, 27 Mei 2016, pukul 19.45, kami berangkat dari rumah menuju Stasiun Tugu Yogyakarta. Dari Kotagede – Stasiun biaya taksi Rp.80.000,-. Jalanan lumayan macet, sehingga agak mepet nyampai ke stasiun. Kereta Eksekutif Malioboro Ekspres sudah menanti dan bersiap berangkat pukul 20.45. Harga tiket Rp.242.500.-/orang.

Sabtu, 28 Mei 2016. Hari pertama dimulai. Sekitar pukul 04.20 kami sampai di Stasiun Kota Baru Malang. Kemudian sholat Subuh di musholla stasiun. Rencananya setelah sholat, kami mau sarapan di Nasi Bhug Matirah yang berada di sebelah kanan dari arah dalam stasiun. Warung yang cukup terkenal di Malang ini, menyediakan masakan rawon. Sayangnya warung ini baru buka pukul 07.00 pagi. Yah, masih lama dong.

Pukul 06.00, motor sewaan diantar oleh pihak rental ke stasiun. Motor matic dengan 2 buah helm. Tarifnya Rp.80.000,-/hari dengan jaminan KTP. Kami meluncur ke Kota Wisata Batu, mampir beli sarapan. Karena udah kelaparan akhirnya makan apa aja yang kami temui. Akhirnya malah makan Nasi Liwet Solo. Hahaha. Gapapa deh daripada keburu pingsan.

Sekitar pukul 08.00 kami sudah tiba di Kartika Wijaya Heritage Hotel yang terletak di Jl. Panglima Sudirman No. 127 Batu, Jatim, Indonesia, 65313. Kami sengaja njujug hotel karena mau ganti baju dan nitip tas rangsel. Secara belum bisa check in. Eh, ga taunya pukul 08.30 kamar udah siap dan kami bisa check in. Yeay.

Kami pesan kamar superior lewat Tiket.com dengan rate Rp.676.750,- (setelah dapat potongan Rp.50.000,-). Hotel dengan nuansa heritage punya lapangan luas yang bisa dipake untuk jogging dan bermain, plus kolam renang anak-anak dan dewasa. Kendaraan mobil atau motor tamu yang menginap bisa dibawa sampai ke depan kamar.

Setelah naruh barang di kamar kami langsung menuju ke lokasi pertama.

 

Lokasi #1 : Eco Green Park

Beralamatkan di Jl. Oro – Oro Ombo nomor 9A, Kelurahan Temas – Kecamatan Batu, Kota Batu Jawa Timur. Dari hotel kami cuman berjarak 4 km, kurang dari 15 menit pake motor. Kami beli tiket terusan Eco Green Park – Jatim Park 2 (Batu Secret Zoo & Museum Satwa) seharga Rp.125.000,-. Trus kita dipakein gelang sama petugas.

Eco Green Park (EGP) buka pukul 09.00, di sana kita bisa melihat koleksi unggas dari seluruh dunia, koleksi serangga, pepohonan yang asri, juga wahana-wahana ilmu pengetahuan. Di sini pun juga memamerkan berbagai bentuk karya seni yang dibuat dari barang bekas. Cocok banget untuk fun study, liburan keluarga. Gak terasa 3 jam sudah kami jalan-jalan di EGP, tapi tetep kurang padahal kami masih harus ke Jatim Park 2. So, kami makan siang di food court-nya EGP.

 

Lokasi #2 : Jatim Park 1 (Batu Secret Zoo dan Museum Satwa)

Pukul 12.00 kami segera berpindah ke Batu Secret Zoo (BSZ). Kebun binatang yang jaraknya cuma deket banget dari EGP. Di tempat ini pengunjung bisa deket pake banget sama satwa. Bisa foto bareng sama anak harimau dan burung. Bahkan sama harimau besar pun bisa karena hewan karnivora dan pengunjung hanya dibatasi dengan kaca. Less than 1 meter lah. Seru. Koleksi hewannya pun lengkap dari berbagai negara.

Agar koleksi satwa tidak kabur dan demi keamanan pengunjung, kandang mereka dikelilingi kabel beraliran listrik. Jadi terasa lebih aman.

Walaupun kaki udah mulai pegel, semangat tetap menyala. Kami berpindah ke Museum Satwa yang bersebelahan dengan Batu Secret Zoo. Begitu masuk ke museum ini, saya langsung teringat film Night At The Museum. Kolesi satwa yang diawetkan dalam akuarium besar, Rasanya saya ikut bangga loh Indonesia punya musium semacam ini. Pukul 15.00 kami segera balik ke hotel untuk istirahat sebentar, nge-charge HP dan kamera, mandi, sholat (Dhuhur-ashar di jamak takhir).

 

Lokasi #3 : Musem Angkut

Pukul 16.30 kami meluncur lagi ke Museum Angkut yang terletak di Jl. Terusan Sultan Agung No. 2, Ngaglik, Kecamatan Batu, Kec. Batu, Jawa Timur. Dari hotel cuman 2,2 kilometer dan cukup 5 menit pake motor.

Museum ini buka dari pukul 12.00 sampai dengan pukul 20.00.

Sesampainya di sana kami beli tiket terusan Musium Angkut, Runway 27, dan Museum Topeng seharga Rp.100.000,-. Trus dipakein gelang untuk Museum Angkut dan 2 tiket berbeda untuk Runway 27 dan Museum Topeng.

Ketiga tempat itu tempatnya berdekatan tapi luasnya minta ampun. Tiga jam kurang deh. Terutama di Museum Angkut-nya. Koleksi kendaraan dari berbagai jaman dan tempat dipamerkan di area yang berbeda-beda. Jadi ada area kendaraan Jepang, Jerman, Inggris, Amerika, Indonesia, dan berbagai tempat lainnya. Harus punya kaki yang kuat ya buat jalan-jalan seharian.

Pukul 20.00 semua area ditutup. Padahal kami belum sempat ke Museum Topeng, untungnya udah sempat ke Runway 27 buat foto pura-pura jadi pilot di kokpit.

Ya sudah deh, akhirnya kami pulang ke hotel untuk beristirahat supaya besok pagi bisa fresh lagi untuk melanjutkan jalan-jalan. Overall, harga tiket sepadan dengan yang kita dapat. Nggak rugi!

Fyi, ternyata jam tutup toko dan berbagai tempat usaha di Kota Batu adalah pukul 20.00, hanya beberapa saja yang masih buka.

 

Anyway, saya ada beberapa tips piknik mandiri tanpa guide, nih!

  1. Install aplikasi peta di HP. Saya menggunakan dua aplikasi yaitu Google Maps (G-Maps) dan HERE Maps. Kedua aplikasi ini ada kekurangan dan kelebihannya. Kalo G-Maps jauh lebih lengkap tapi harus online, bisa ngabisin kuota internet dan suka blank kalo pas gak ada jaringan. Kalo HERE Maps bisa dipake secara offline, tapi harus di-update petanya secara berkala. (update : kita bisa download offline area di G-maps) 
  2. Persiapan sebelum berangkat, search lokasi-lokasi yang ingin dikunjungi lewat aplikasi tersebut. Trus di-save. Jadi ketika udah jalan, gak perlu nyari-nyari lagi, tinggal buka di your places atau favorite di aplikasi.
  3. Pikirkan transportasi selama di sana. Bisa motor atau mobil. Kalo mau lincah ya pake motor. Biasanya hotel tempat menginap menyediakan mobil sewaan, kalo motor mereka cuman bisa kasih nomer telpon aja. Kita yang kontak dan bikin kesepakatan sendiri di mana kendaraan diantar dan diambil oleh pihak rental.
  4. Pake sepatu lari/jogging selama jalan-jalan. Why? Lebih nyaman dan gak cepet capek.

Yup, hari pertama jalan-jalan di Kota Wisata Batu sudah selesai. Foto-fotonya banyak banget, yang saya pasang di sini cuman sebagian kecilnya. Untuk cerita hari kedua berwisata alam, jalan-jalan di Kota Malang dilanjut di postingan berikutnya.🙂

Gowes Antar Kota Antar Provinsi

Satu lagi pengalaman seru saya gowes bareng teman-teman Jogja Folding Bike (JFB). Kamis, 5 Mei 2016 adalah hari pertama long weekend kali ini. JFB punya agenda gowes ke Purwokerto, Jawa Tengah.

Peserta terdiri dari 2 grup. Grup 1 gowes Jogja-Kebumen, langsung pulang ke Jogja naik bis, grup 2 lanjut gowes ke Gombong untuk bermalam, trus finish di Purwokerto. Saya ikut grup 1.

Pagi-pagi kami semua ketemuan di Sasono Hinggil, Alun-alun Selatan pukul 6 pagi untuk briefing dan tentu saja berdoa bersama. Sekitar 6.30 kami start gowes menuju arah selatan Jogja. Melalui Jalan Bantul, Jalan Srandakan, dan lanjut lewat Jalan Daendels jalur selatan.

Sebenernya ini pengalaman kedua saya gowes AKAP. Yang pertama adalah gowes ke Borobudur, Magelang yang pernah saya tulis di sini. Tapi keduanya memberi pengalaman yang berbeda.

Gowes bareng mereka yang udah punya banyak pengalaman touring itu sempat bikin saya keder dan ga pede. Takut ga bisa mengimbangi speed, bakal lemes, dan ngrepotin teman yang lain. Tapi, bismillah ikut dengan persiapan carbo loading yang cukup dan sepeda dipastikan dalam kondisi prima.

Selain makan cukup dan sepeda yang prima, ternyata ada hal lain yang perlu dipelajari untuk gowes jarak jauh. Yaitu shifting, itu loh mindah-mindahin gigi. Supaya tidak mudah capek dan menghemat tenaga karena perjalanan masih jauh.

Goweser perempuan yang ikut cuman berdua, saya dan Mbak Dyah. Beliau pernah ikutan Srikandi 5 gowes dari Bima, NTB – Denpasar, Bali sejauh 700 km. Wow banget. Nah, mbak Dyah ini yang sering ngasih saran ke saya soal shifting, nggak cuman pas gowes kali ini aja tapi juga di kesempatan gowes sebelumnya. And I really appreciate it.

Rombongan berhenti beberapa kali, tidak hanya untuk istirahat dan mengisi perbekalan tapi juga regrouping. Secara ada yang di depan dan jauh di belakang. Hihi, saya tuh yang di belakang. Terutama saat melalui Jalan Daendels yang sedang diperbaiki dan saat-saat setelahnya.

Ya, melalui Jalan Daendels yang nggronjal-nggronjal tiada tara itu betul-betul menguras energi saya. Konsentrasi penuh, handling juga harus lebih kuat supaya sepeda tetap stabil. Selepas dari jalan Daendels, mulai ketinggalan deh saya.

Pas adzan Dhuhur kami mulai memasuki Kecamatan Ambal, Kabupaten Kebumen. Pemberhentian kami selanjutnya adalah makan siang dengan menu khas Kebumen, Sate Ambal. Bedanya dengan sate ayam lain adalah pada bumbu kacangnya yang dicampur tempe dan terasa pedas. Kalo sate ayam yang biasa kita makan adalah Sate Madura dengan bumbu kacang manis.

Setelah istirahat makan dan sholat dirasa cukup, kami melanjutkan perjalanan. Pada suatu persimpangan, kami berpisah. Grup 1 yang terdiri dari Mas Bobby, Mas Ganang, Mas Pras, Om Dedi, Mas Franky, Mas Nug, dan saya menuju ke rest area Bus Efisiensi. Sedangkan grup 2 yang terdiri dari Mbak Dyah, Om Chandra, mas Kardjok, dan Mas Irfan lanjut menuju Gombong untuk bermalam di sana dan meneruskan ke titik finish yaitu Purwokerto di keesokan harinya.

Total jarak yang saya tempuh dari rumah di Jogja sampai ke rest area Bus Efisiensi Kebumen adalah 113,5 km. Sedangkan grup 2 menempuh jarak Jogja-Kebumen-Gombong 128 km ditambah Gombong-Purwokerto 57 km.

Nah, keunggulan sepeda lipat adalah bisa dilipat. Ya iyalah. Kami grup 1 pulang ke Jogja dengan bis Efisiensi, tiketnya 60 ribu/orang dan 25 ribu/sepeda. Alhamdulillah semua sampai di rumah dengan sehat dan selamat.

Trus, apakabar keesokan harinya? Hehe, Jumat-nya saya cuman makan dan tidur. Belum biasa nih gowes jarak jauh. Recovery dari rasa capek perlu sehari, aduh gimana kalo mau touring berhari-hari ya? Harus menambah jam gowes.

Trus beda gowes AKAP kali ini dengan gowes ke Borobudur waktu itu apa? Saat gowes ke Borobudur, saya ‘manja’ banget karena persiapan carbo loading nya kurang, sering berhenti. Orang lain yang menyesuaikan ke saya. Kurang persiapan tidak hanya merugikan diri sendiri, tapi juga teman seperjalanan.

Sejak bergabung dengan Jogja Folding Bike, saya memiliki banyak pengalaman baru dalam bersepeda. Termasuk gowes ke Kebumen kali ini. Seru, menantang, tapi tetap menyenangkan! Terima kasih JFB!

Last but not least, syukur alhamdulillah diberi nikmat sehat, yang semoga bermanfaat menjadikan kami semakin taat pada-Nya.

PS : Foto diambil dari berbagai sumber (Mbak Dyah, Mas Franky, Mas Nug dan saya). Klik foto untuk perbesar.

Umbul Ponggok

It’s a late posted video. Diving at Umbul Ponggok, Klaten, Central Java, Indonesia.

Tempat saya berenang ini mempunyai kedalaman yang beragam, antara 3-8 meter. Lumayan bikin jiper kalo ga bisa berenang. Saya sih juga gak jago-jago amat, tapi bisa. Hehe.

It was fun.

image
Saya dan Galuh.