Ketika mendapatkan ujian, apa reaksimu?

Minggu, 3 Juli 2011 lalu.. seperti biasa setiap sebulan sekali ada arisan di komplek.. ya arisan ibu-ibu gitu deh🙂 Nah, salah satu acara pertemuan rutin kami adalah KULTUM. Alias Kuliah Tujuh Menit.

Yang dibahas ya soal pengetahuan agama. Dan pengisi KULTUM yang lalu adalah Bu Eni, seseorang yang saya kagumi sebagai pribadi yang baik, sholehah, dan bersahaja, dan ibu yang luar biasa. Dan materi yang disampaikan oleh Bu Eni kemaren sangat mengena di hati saya.. makanya saya jadiin bahan postingan.

Yaitu tentang reaksi pertama kita dalam menghadapi ujian hidup. Ternyata.. reaksi pertama saat kita mendapatkan ujian dari Allah.. terdiri dari beberapa tingkatan sesuai dengan tingkat keimanan kita.

1. Marah

Inilah tahap yang paling rendah.. kebanyakan dari kita.. termasuk saya, ketika mendapatkan ujian selalu ada perasaan marah, kecewa, benci.. dan sebagainya. Yah, langsung marah… marah pun juga nggak selalu yang meledak-ledak yah.. bahkan marah pada keadaan, marah pada sekitar.. ato bahkan marah dalam hati. Intinya…marah.

Selalu bertanya, kenapa saya? why me?? padahal saya udah berusaha sekuat tenaga, udah berdoa. Padahal saya udah sedemikian menderita… dan berbagai pertanyaan semacam itu.

2. Bersabar

Ini tingkatan yang lebih tinggi. Di mana saat seseorang mendapatkan ujian.. dia mampu bersabar. Tidak marah.. cenderung berusaha memahami apa di balik ujian dari Allah itu. Karena ia yakin, hal tersebut merupakan pemberian sekaligus cobaan bagi dirinya yang ada rahasia kebaikan di dalamnya. Sehingga refleksinya adalah dengan bersabar dan mengembalikan semuanya kepada Allah swt.

3. Ikhlas

Tahap ini lebih tinggi lagi. Saat menerima ujian, dia menerima dengan lapang dada. Meyakini bahwa apapun yang diberikan oleh Tuhan.. adalah yang terbaik. Tidak lagi mempertanyakan kenapa saya?

Yah.. menerima apa adanya takdir Tuhan dengan selapang-lapangnya.

4. Bersyukur

Tingkatan ini tentu bukan barang mudah untuk dicapai. Awamnya sih, orang mensyukuri hal-hal yang emang ‘baik’ menurut kita.. ya nggak? jarang orang mampu mensyukuri ‘musibah’ yang menimpa kita.

Pada tahap ini, orang mensyukuri ujian yang ditimpakan kepadanya oleh Allah. Kenapa orang itu bisa bersyukur? karena dia yakin.. bahwa apapun ujian yang diterima saat ini jauh lebih ringan dari yang ditimpakan di alam sana.. di alam yang abadi itu.

Orang-orang yang sudah berada di tahap ini.. yakin bahwa segala kenikmatan maupun musibah di dunia ini.. belum ada apa-apanya dibanding kenikmatan maupun kesedihan di alam abadi nantinya.

Sungguh luar biasa orang yang bisa mencapai tahap ini🙂

5. Ridho

Inilah tahap tertinggi saat orang mendapatkan ujian dari Allah.

Ya, ridho.. tidak sekadar bersabar, ikhlas, bersyukur… namun Ridho. Banyak yang mengartikan ridho sama dengan ikhlas. Namun sebenarnya, ridho dan ikhlas adalah hal yang berbeda. Ridho bisa diartikan suka, rela, senang, yang berhubungan dengan takdir (qodha dan qodar) dari Allah. Ridho adalah mempercayai sesungguh-sungguhnya bahwa apa yang menimpa kepada kita, baik suka maupun duka adalah terbaik menurut Allah. Dan apapun yang digariskan oleh Allah kepada hamba-Nya pastilah akan berdampak baik pula bagi hamba-Nya. Perilaku yang ditampakkan oleh seorang hamba yang ridho adalah ia tidak membenci apa yang terjadi menimpa dirinya, sehingga terjadi atau tidak terjadi adalah sama saja baginya.

Bahkan bila tingkatan ridho seorang hamba sudah mencapai tingkat tertinggi, ia akan selalu memuji Allah apapun yang Allah berikan kepada dirinya baik nikmat maupun bencana, karena ia percaya apa yang menimpanya semata-mata untuk kebaikan dirinya. Sang hamba secara suka rela dan senang menerima apapun yang diberikan Allah kepada-Nya baik berupa nikmat maupun musibah berupa bencana.

Sungguh tingkatan yang luar biasa bukan?🙂

***

Teman-teman… apa yang saya sampaikan di sini hanya melanjutkan setitik pengetahuan yang saya dapat… yang saya pikir bisa bermanfaat untuk saya maupun sobat blogger yang membaca. Bukan berarti saya sudah mencapai tahap yang tinggi..

Nah, pertanyaannya adalah.. di manakah posisi kita saat mendapatkan ujian? Hanya kita sendiri dan Allah yang tau. Apakah reaksi pertama kita adalah marah, sabar, ikhlas, bersyukur, atau ridho?

Semoga kita termasuk orang yang senantiasa belajar untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Amin Ya robbal alamin🙂

PS. Sumber postingan dari Bu Eni, tetangga saya di perumahan dan saya lengkapi dari sini dan sana.

Published by

annafardiana

A happy wife of a happy hubby, pemeran utama di blog pribadi.

14 thoughts on “Ketika mendapatkan ujian, apa reaksimu?”

  1. Saya berusaha ikhlas dalam setiap menghadapi cobaan karena percaya bahwa rencana Tuhan pasti baik untuk keluarga saya. Semoga saya bisa mencapai tatanan tertinggi yaitu bersyukur…mendapat cobaan yang masih bisa dihadapi.

    Like

  2. Mungkin reaksi pertama adalah panik dan tidak kontrol diri, dan saya rasa itu manusiawi. Namun denga berjalannya waktu, kita bisa lebih jernih memilah cobaan yang kita terima dan berharap bisa menjadi ridho.😉

    Salam hangat serta jabat erat selalu dari Tabanan

    Like

  3. Jujur mbak….saya baru mencapai nomor 2. Itu juga masih dengan perjuangan yang berat dan tidak mudah….mudah2an saya bisa mencapai ke tingkatan yang lebih tinggi terus….insya Allah…

    Like

  4. Tingkatan reaksinya benar-benar pas.
    Memang awalnya pasti marah dan penuh emosi. Tapi kemudian akan ada fase dimana kita (harus) bisa menerima ujian dengan lapang dada dan ikhlas.

    Like

  5. Salut dengan kultum dari Ibu Eni (dan yang berhasil dituliskan dengan apik sama Mbak Anna). Layak dijadikan perenungan saat menghadapi ujian hidup. Makasih ya Mbak udah menuliskan ini, saya catat. Salam hangat..

    Like

  6. Manusia memang tidak pernah lepas dari ujian, memang awal-awalnya kita bersedih, menangis, itu wajar kita manusia, tapi setelah waktu berlalu kita dapat mengambil hikmah dari ujian, dan proses selanjutnya kita bersyukur masih ditegur, masih diberi kesempatan minta ampun, bersyukur dengan ujian itu kita mendapatkan yang lebih baik. Postingan yang bagus memang untuk memahami ujian ke taraf ridho perlu proses dan waktu

    anna :
    iya, perlu waktu untuk belajar..
    semoga kita diberi kemudahan untuk belajar untuk lebih baik ya..
    mari belajar bersama🙂

    Like

  7. Sungguh hanya manusia yang bertakwa sejati …
    yang sanggup menghadapi Ujian dengan Ridho … (tidak sekedar ikhlas )

    Secara awam saya mengartikan Ridho ini dengan tetap berfikiran positif … berenergi positif … untuk optimis menjalani hidup di waktu-waktu selanjutnya …
    menjadi manusia yang lebih pintar … menjadi manusia yang lebih kuat setelah menjalani ujian tersebut ..

    Salam saya

    anna :
    iya Om.. hanya orang2 dengan tingkat ketaqwaan yang tinggi bisa mencapai tingkat ridho itu.
    tapi, bukan berarti kita tidak sanggup mencapainya sebelum kita mencoba kan… dan saya setuju dengan pendapat Om NH ttg ridho itu berpikir positif. Ya… mungkin bisa kita mulai dari situ.. berpikir positif selalu…

    salam saya Om..

    Like

  8. Saya tidak tahu bagaimana reaksi emosional saya di masa depan, toh masa depan tidak ada yang mengetahuinya. Namun saya rasa, saya ingin bisa menghadapi apapun itu dengan terbuka, karena percuma meskipun reaksi saya tenang namun lari darinya🙂.

    anna :
    bagaimana dengan ujian masa lalu?

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s