Karena sudah biasa..

Sabtu itu Jogja diguyur hujan lebat dari sebelum Subuh. Bahkan ketika seharusnya bayi-bayi mulai berjemur untuk mendapatkan kehangatan, matahari masih bersembunyi. Saya pun yang selalu bersepeda di akhir pekan, terpaksa mengurungkan niat.

Tapi, syukurlah.. ketika jam dinding menunjukkan pukul 8 lebih sedikit, hujan pun mulai reda dan akhirnya berhenti. Saya segera bersiap-siap, mengenakan pakaian yang nyaman untuk berolahraga, memakai sepatu kets, dan mengeluarkan sepeda lipat dari garasi. Yap, weekend is gowes day🙂

Kali ini saya memilih rute memutar, ingin jarak yang sedikit lebih jauh dari biasanya. Jalanan lebih lengang, ya kan hari Sabtu. Hanya mereka yang kuliah dan kerja 6 hari saja yang mengisi jalanan pagi ini. Anak sekolah pun pasti sudah duduk manis di kelas.. sambil sesekali usil kanan-kiri.🙂

Ketika hari menjelang siang, saya putuskan segera pulang. Rute mendekati rumah, saya memilih jalur tercepat.. ya lewat Pasar Kotagede. Tapi, aduh! Saya lupa. Hari ini kan pasaran Legi. Jalanan pasti penuh sesak dengan penjual di kanan kiri sepanjang jalan Kemasan dan Karanglo Kotagede. Saya salah ambil jalur!

Sedikit cerita tentang hari pasar ya.. mungkin belum ada yang tahu. Dalam itungan  Jawa dikenal 5 hari  yaitu Legi, Pahing, Pon, Wage, Kliwon. Nah, di Jogja banyak  pasar yang punya jualan khusus tiap 5 hari sekali. Misalnya di pasar Kotagede, setiap Legi adalah waktunya jual beli unggas. Ada ayam, burung merpati, burung pipit, segala jenis deh. Penjual yang datang pun bisa jadi, jauh-jauh dari pelosok Jogja. Pembelinya pun juga begitu. Semua kumpul di situ. Intinya, macet! Sepeda motor aja susah dapet jalan…

Ah, dalam hati saya langsung ngomel. Perut lapar, pengen segera nyampe rumah. Jalanan lancar ga macet langsung jadi idaman.. menyalahkan diri sendiri kenapa pilih jalan itu. Lebay ya? Iya. Banget.

Mungkin buat mereka yang tinggal di kota besar macam Jakarta atau Surabaya, macet yang saya alami Sabtu pagi itu, cuman seujung kuku. Ga ada apa-apanya. Tapi jujur, karena saya gak biasa kena macet, ga ada mental buat ngadepin macet yang sangat.. Angkat topi buat kalian, hai para penghuni kota besar. Orang Jogja biasanya akan bertanya, “ada apa sih?” ketika kena macet. Ya, jalanan lancar jadi makanan sehari-hari buat kami di Jogja.

Saking tiap hari jarang-jarang kena macet, saya jadi kadang lupa mensyukuri nikmat perjalanan yang lancar. Ke mana-mana cepet. Gak pake lama. Kena macet dikit, baru kerasa.. betapa berharganya jalan yang lancar.

Seperti halnya hidup ini, jalanan lancar (bagi saya) ibarat kemudahan yang setiap hari didapat.

Mau makan enak? bisa.. pengen beli baju, padahal yang kemaren beli belum kepake? bisa juga, atau pengen punya gadget terbaru yang sebenernya gak perlu? bisa sih, walopun masih mikir2 juga:mrgreen: Intinya semua bisa didapat tanpa kesulitan yang berati. Bersyukur? iya.. tapi kadang cuman sekilas aja, terua lupa.. tanpa bisa menghargai yang udah didapat. Karena sudah biasa. Catet, karena sudah biasa.

Buat kita yang udah biasa ‘enak’ kadang jadi take it for granted. Menganggap apa yang kita dapat itu emang udah seharusnya, kurang menghargai, mengabaikan.. Parah lagi kadang tanpa sadar kita ‘mengharuskan’ Tuhan untuk tetap memberikan kepada kita kemudahan-kemudahan itu. Ketika kenyamanan itu sedikit saja terusik, berbagai pertanyaan seakan kita tujukan kepadaNya.. Kenapa bisa begitu? Karena sudah biasa.

Padahal segala bentuk kenyamanan yang biasa kita dapat, bisa jadi menjadi luar biasa buat sebagian orang.

Hanya karena sudah biasa, jangan lupa untuk mensyukurinya..

Hanya karena sudah biasa, jangan lupa untuk menghargainya..

Dan saya pun kemudian, menikmati kemacetan di pasaran Legi itu..

Published by

annafardiana

A happy wife of a happy hubby, pemeran utama di blog pribadi.

9 thoughts on “Karena sudah biasa..”

  1. bersyukur setiap saat.

    Dulu aku juga bisa melakukan apa saja dan membeli apa saja waktu single, setelah punya anak? Bye bye deh😀
    Tapi tetap bersyukur karena anak-anak juga memberikan sesuatu yang tak terhitung dnegan uang

    EM

    Like

  2. nah setuju aku mbak sama pesan dibagian akhirnya.

    terkadang kita lupa mengucapkan alhamdulillah ketika kita senang, atau bahkan kita lebih mementingkan amarah dan tangis ketika mendapatkan musibah ketimbang berucap astaufirullah.

    bicara soal jogja, aku pengen kesana lagi.😀

    disini di Madura juga ada pasar seperti itu mbak, pasar harian dan yang dijualpun juga berbeda2.😀

    Like

  3. … kadang jadi take it for granted …

    Saya suka kata-kata ini …
    karena saking biasanya … sampai kita tidak mensyukurinya …

    This is nice Mbak Anna

    Salam saya

    Like

  4. Saya selama di Jogja jarang ikut menikmati macet, kecuali mungkin saat ikut dalam mobil teman. Sepeda motor mampu meliuk di antara kemacetan, dan saya memang jarang keluar rumah saat jam macet.

    Like

  5. hehehe sedikit mirip dengan manado yang jarang macet,tapi skrang maaceeet…
    sperti yang saya alami juga mbak dalam kerjaan, karena kerjaan yang udah salingsilang,tumpang tindih,saya jadi ngomel..tapi setelah dalam keadaan sadar, saya harusnya bersyukur,gag semua orang bisa kerja seperti saya ini. jadi ya dijalani lagi kerjaannya hehehe

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s