Satu atau dua? [Netralitas PNS]

Note : Postingan ini udah jadi draf sejak hampir 2 mingguan. Baru hari ini sempat di edit dan dipublish.

Halooo.. saya datang lagi🙂

Anyway, bagaimana suasana menjelang Pemilihan Presiden di sekitar kamu? Tetep adem kan ya? Soalnya kalo liat di social media, kayaknya seru banget. Siapa aja bisa berpendapat, bisa saling gak setuju, bisa saling dukung, dan juga bisa saling hujat.

Termasuk saya, saya sebagai netizen juga bisa kasih pendapat pribadi dan pandangan politik, tanpa melupakan posisi saya di dunia nyata sebagai Pegawai Negeri Sipil. Penting loh, karena namanya juga PNS kita punya aturan main dalam berpolitik.

Aturan yang paling sering kita dengar adalah kewajiban PNS menjaga netralitas dari pengaruh semua golongan dan partai politik, termasuk gak boleh diskriminatif dalam pelayanan masyarakat. Gak boleh jadi anggota dan/atau pengurus parpol. Lengkapnya ada di Undang-undang no 43 tahun 1999.

Tunggu sebentar, emang netral itu apaan sih?

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, netral adalah :

netral /net·ral/ /nétral/ a 1 tidak berpihak (tidak ikut atau tidak membantu salah satu pihak): kepala negara harus tetap — menghadapi pertentangan antarpartai; 2 tidak berwarna (dapat dipakai untuk segala warna): semir sepatu berwarna hitam, cokelat, — , dan merah; 3Ling tidak dl kelompok jantan atau betina (tt kata-kata); 4 menunjukkan sifat yg secara kimia tidak asam dan tidak basa; 5 cak bebas; tidak terikat (oleh pekerjaan, perkawinan, dsb): saya sudah — sekarang;

Ya, tidak berpihak bukan berarti PNS kehilangan hak suaranya, kita tetep bisa memilih sesuai dengan pilihan hati kita. Beda dengan netralitas TNI POLRI, mereka bahkan gak punya hak suara alias gak bisa ikutan nyoblos.

Kalo pas orde baru, PNS justru identik dengan golongan tertentu. Bahkan kata senior saya di kantor, dulu ketika masa kampanye tiba para PNS dimobilisasi untuk ikut kampanye, dipakein kaos warna tertentu dan pake mobil dinas pula! OMG! Beruntung banget nih saya jadi PNS di jaman sekarang, udah gak bisa dipaksa-paksa lagi sama penguasa untuk berpihak ke arah tertentu.

Balik lagi soal aturan netralitas PNS, ini bisa diterjemahkan beda-beda oleh masing-masing individu. Termasuk saya, dan saya tidak akan memaksakan hasil terjemahan saya kepada PNS yang lain.

Buat saya, netralitas PNS dapat diartikan tidak mengajak, tidak menghimbau, tidak mengarahkan orang lain terhadap pilihan tertentu. Kalopun sekadar ngobrol, pasang status di social media.. monggo-monggo aja, tapi jangan sampe akhirnya terjebak bahkan terpancing untuk berpolemik tentang kontestan pemilu. Nggak banget. Karena terus terang aja ya, banyak loh yang secara sadar nggak sadar malah debat kusir ngebelain calon pilihannya. Akhirnya malah saling unfollow atau unfriend deh.. hehe.

Bagaimana dengan PNS yang secara jelas menunjukkan pilihannya? Jujur, saya cenderung gak setuju. Mungkin kita beda dalam menerjemahkan aturan netralitas PNS, jadi monggo aja.. tapi please, yang santun. Banyak yang kepleset ke kampanye hitam, maksudnya sih lucu-lucuan pasang foto meme yang justru mendiskreditkan calon yang tidak didukung.

Saya sendiri beberapa kali juga memasang status soal pemilu di akun saya. Beberapa kali juga status saya jadi rame gara-gara temanya emang lagi pas. Suka hampir kepancing. Saya sendiri masih swing voter, walaupun ada kecenderungan ke calon tertentu, tapi.. ada deh. Yang sudah pasti adalah pilihan sikap saya, yaitu keep it sealed. 🙂

Ohya, ga sengaja saya denger percakapan tetangga sebelah rumah dengan mbak-mbak penjual sate yang sering keliling komplek,

Tetangga : “mbak, arep milih sopo sesuk pilpres?” (mbak, mau milih siapa pilpres nanti?)

Penjual sate : “ora ngurus mas, sik dadi sopo ae, aku yo tetep kudu dodol sate..” (nggak peduli mas, yang terpilih siapapun, saya tetep harus jualan sate..)

dang!😀

Published by

annafardiana

A happy wife of a happy hubby, pemeran utama di blog pribadi.

5 thoughts on “Satu atau dua? [Netralitas PNS]”

  1. Mbak anna, klo saya justru di unfriend dan di block gara2 saya mengingatkan teman yg suka share kegiatan partai yg dia dukung, maksud saya krn kami pns dan harus taat PP 53/2010. Dia suka share brita2 dunia maya yg menjelekkan capres lain juga. Maksud hati mengingatkan malah jd musuh, mana dia kira aku ngajak golput krn dia kira netral pns sama dgn golput

    Like

    1. emang gitu.. banyakbyg salah kaprah, netral sama dengan golput. padahal beda banget ya!

      dan kayaknya kita sama dalam menerjemahkan kata netral.🙂

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s