Matematika vs Kimia

Oktober hampir habis, belum satu pun postingan dibuat. Tidak bisa dibiarkan.. Minimal 1 tulisan dalam 1 bulan, komitmen paling ringan sebagai pemilik blog.

Hm, mumpung masih anget-angetnya punya pemimpin baru, punya presiden baru.. Bolehlah saya ngomyang soal pemimpin. Ya, pemimpin tingkat nasional maupun daerah.

Baiklah, sebelum calon pasangan saling berkomitmen, mereka akan saling lirik, tawar-menawar, memilih siapa yang paling cocok diajak berpasangan saat pilkada atau pilpres. Bukan saya sok tau, tapi perhitungan secara matematika akan jalan lebih dulu, yaitu angka probabilitas menang tidaknya suatu pasangan. Lembaga survei pun akan turut andil. Entah yang bayaran atau independen.

Hitungan matematis ini memang penting, agar seorang tokoh nggak salah pilih pasangan. Jangan sampai pasangan yang dipilih justru menurunkan popularitas, harus bisa saling mendongkrak. Simbiosis mutualisme. Ya, agar tujuan jangka pendek yaitu merebut suara terbanyak dan berhasil terpilih menjadi kepala daerah atau presiden.

Tapi, menurut saya hitungan matematis ini tidak boleh berdiri sendiri. Harus ada hitungan lain, yaitu secara kimia, alias chemistry. *istilahnya maksa yah..hihi* Calon presiden bersama calon wakilnya, calon kepala daerah bersama wakilnya harus punya chemistry dong. Supaya ketika akhirnya kepilih, bisa kompak bekerja dan bahu membahu.

Berapa banyak pasangan yang sudah terpilih, setelah pemerintahan berjalan akhirnya malah saling berseberangan? Gak klik, gak dapet chemistry-nya, malah jalan sendiri-sendiri. Di pemilu berikutnya malah pisah kapal. Contohnya SBY-JK.

Atau di tingkat lokal? Banyak.

Dan hitungan chemistry itu ga cuman di bapak-bapaknya loh. Istri-istri calon pemimpin itu juga harus punya chemistry. Si nyonya bakal jadi ibu negara yang punya banyak peran di berbagai organisasi. Nyonya dari wakilnya juga akan berperan jadi membackup ibu negara.

Kalo tingkat daerah, minimal jadi Ketua Tim Penggerak PKK. Minimal di sini bukan dalam arti mengartikecilkan posisi tersebut, tapi dalam arti posisi yang secara otomatis melekat pada istri seorang kepala daerah. Selain itu, akan ada berbagai posisi sebagai ketua organisasi atau pembina.

Peran istri pun bukan main berpengaruhnya terhadap kemungkinan seorang pemimpin nasional maupun daerah untuk terpilih kembali atau bahkan ditinggalkan konstituennya.

Hitungan chemistry itu lebih pada tujuan jangka panjang. Tidak sekadar berhasiltidaknya memperoleh jabatan, tapi bagaimana kedua pemimpin bisa saling bersinergi dalam bekerja. Kepentingannya pun sudah kepentingan masyarakat yang lebih utama.

Trus maksudmu apa, Anna?

Maksud saya, para calon pemimpin itu ketika akan maju di pemilihan apakah hanya sekadar sing penting dadi, apa mikir sampe kalo memimpin Indonesia, atau suatu daerah bersama pasangan ini aku iso ora?

Karena, tidak mungkin ada dua nahkoda dalam satu kapal. Tidak mungkin ada dua matahari dalam satu bumi. Menjadi partner dalam menjalankan roda pemerintahan, tapi tetap saja hanya ada satu yang berada di pucuk tertinggi.

Semoga pak Jokowi milih pak JK tidak sekadar hitungan matematis, begitu juga pak JK mau dipinang pak Jokowi juga ga sekedar pengen jadi wapres lagi. Kalopun hitungan matematis sudah terlanjur jadi dasar untuk mau berpasangan, dan sudah jelas-jelas dadi alias berhasil terpilih.. Semoga chemistry pak Jokowi dan pak JK segera terbangun, begitu juga dengan bu Iriana Jokowi dan bu Mufidah Kalla.

Wis, target 1 tulisan dalam satu bulan sudah terpenuhi! *klik publish*

Published by

annafardiana

A happy wife of a happy hubby, pemeran utama di blog pribadi.

7 thoughts on “Matematika vs Kimia”

  1. lama sekali tidak berkunjung ke blog panjenengan mbak, malah ada matematika dan kimia, kimia saya ampun dah, dulu waktu jaman sma dapat nilah 6 terus wkwkw

    Like

  2. Ya … yang ini bagus … yang itu bagus …
    tinggal dipilih yang mana yang punya chemistry dengan kita …
    dan itu tidak bisa dipungkiri …

    salam saya Mbak Anna
    (26/10 : 1)

    Like

    1. Bisa jadi mas Necky. Matematika dan kimianya mungkin belum sejalan.

      Walaupun saya ga milih Jokowi, saya tetep menjaga pikiran positif dan berbaik sangka dengan pemerintahan baru ini. Kan baru mulai kan ya.. 😊

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s