Sepuluh

Hari ini, sepuluh tahun yang lalu saya menyandang sebuah peran yaitu istri. Saat itu usia saya belum genap 25 tahun, cukup pas lah untuk menikah. Ga muda-muda amat, dan ga mateng-mateng amat. 😊

Dulu, ketika sebelum memilih mas Nugie menjadi seorang suami.. Harus saya akui bahwa ada beberapa pilihan pria di hadapan saya. Saya juga yakin, bisa jadi saya pun hanya menjadi salah satu pilihan dari sekian banyak gadis di hadapan pria-pria itu. Hahaha. Ya, selama belum terikat pernikahan, pilihan selalu terbuka. Jadi no hurt feeling lah kalo saya ataupun mereka hanya jadi pilihan. Hihihi.

Saat itu, target saya adalah menikah. Ya, walaupun saya juga suka flirting sana sini, tapi sambil menjajaki dan menyeleksi kandidat mana yang searah dengan tujuan saya. Sempat kecewa juga sih, ketika saya udah merasa cocok dengan seseorang tapi sepertinya berbeda tujuan. Harus ikhlas melepaskan perasaan. It wasn’t easy letting go that kind of feeling. Hiks. #curcol

Trus, kenapa mas Nugie?

Alasan utama adalah rekomendasi ibunda. Dari yang sering main ke rumah, menurut ibu saya, Mas Nugie-lah yang paling mengena di hati beliau. Jiah, pinter juga.. Yang diambil malah hati calon mertua dulu. 😃

Trus, secara lokasi juga dekat, insya Allah nggak repot lah.

Trus, secara ga sengaja ternyata Mas Nugie temen SMA kakak saya. Jadi pas tau, yaelah.. Jogja sempit. Tapi gapapa, tambahan rekomendasi. Kata kakak saya, Mas Nugie termasuk anak baik dan cukup pintar di sekolah. Baiklah.

Setelah berbagai pertimbangan dan berdasar tujuan utama saya, maka dengan gagah berani saya ‘nanting’ mas Nugie. Kalo mau menikah, mari. Kalo tujuan bukan menikah, mari cukup berteman saja. Jadi officially saya dong yang melamar mas Nugie? Hahaha. Iya juga ya.. Ih lagi sadar.

Nah, bersama-sama 10 tahun ini kami saling mempengaruhi. Yang paling kelihatan saat ini, ya hobby bersepeda. Duluan saya loh.. Dia mah ngikut-ngikut saya. Saya udah mulai dengan gowes piyambakan. Namun, bersama dia, saya diajak bersepeda ke tempat-tempat yang nggak mungkin saya datangi saat gowes piyambakan atau sendiri. Blusukan. Nggak selalu berdua juga sih, kadang saya ngikut rombongan dia plus teman-temannya atau sebaliknya. Alhamdulillah bisa punya hobby yang sama. Sungguh menyenangkan.

Tapi di sisi lain kami berdua punya minat yang cukup berbeda. Saya suka rumah yang rapi, barang yang kelihatannya udah ga kepake, buru-buru saya singkirkan alias dibuang. Sedang Mas Nugie sering sayang ama barang, dengan alasan siapa tau kepake lagi. Dan ini seringkali jadi penyebab pertengkaran kecil kami. Hehe. Ga selalu saya yang bener sih, kadang sebuah barang yang mau saya buang ternyata masih ada manfaatnya. Tapi bukan berarti Mas Nugie bener terus, kalo ngikutin maunya dia.. Rumah bisa jadi kayak gudang! Hahaha.

So, bagaimana rasanya menikah 10 tahun? Saya menemukan sahabat baru. Ya, sepertinya hubungan kami tidak sebatas suami istri, tapi juga menjadi sepasang sahabat. Yang nggak ada jaim-jaiman dalam berinteraksi, ga ada gengsi-gengsian.

Sepuluh tahun bersama, tentu tidak hanya suka dan bahagia aja, ada perjuangan yang kami hadapi bersama.

Ya, perjuangan kami berdua untuk memiliki keturunan. Melalui berjam-jam antri konsultasi dengan dokter kandungan yang tidak murah harganya, melewati masa-masa berat karena saya mengalami tiga kali keguguran berturut-turut, dua diantaranya harus kuretase, melalui dua kali operasi laparoskopi, melewati masa-masa galau ketika ditanya udah isi belum, dan berbagai jugmental statements yang mengatakan kami kurang berusaha dan malah berputus-asa. Hehe. Ga usah sok tau lo! 😃

Tapi, setelah dipikir-pikir dengan seksama.. Saya merasa sungguh bersyukur dengan segala sesuatu yang telah saya alami selama 10 tahun terakhir. Dibalik susahnya untuk punya anak, Allah berikan banyak kemudahan bagi kami berdua. Gak perlu disebutkan, yang jelas bahagianya lebih banyak dari susahnya. Alhamdulillah.

Trus, udah ga kepengen punya anak? Jujur, saya ada trauma untuk hamil lagi setelah 3 kali keguguran, bedrest dan sebagainya. Tapi kalo ditanya masih pengen punya anak, ya kepengen lah.. And we’re still working on it. Hihihi. Tapi, terserah Allah aja deh, ora ngarani, Allah tau yang terbaik buat hambaNya. Apapun yang Allah tetapkan buat kami, kami selalu berdoa meminta diberikan hati yang lapang, ikhlas dan ridho menerima apapun dari Allah. Setiap manusia memiliki kesulitan dan kemudahannya masing-masing.

Happy 10th anniversary, my dear husband. May Allah always guide and grant us sabr and ikhlas in every step we make. Aamiin.

Published by

annafardiana

A happy wife of a happy hubby, pemeran utama di blog pribadi.

13 thoughts on “Sepuluh”

  1. Happy 10 anniversary mbaa anna, semoga langgeng terus yaa, semoga selalu diberikan yang terbaik dari Allah SWT.

    Ngiri banget ihh kompakan nggowes kemana-mana. Itu air terjun mana mbaa?kerenn!

    Like

  2. Happy 10th anniversary anna n mas nugie…tdk kebetulan bahwa mas nugie lah suamimu n kaulah istri nya annaa😉..insyaAllah semakin samara yaa…Allah tau kebutuhan umat Nya…bukan keinginannya…kau top anna…sehat slu terbaik slu yaa…

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s