Donat dan Keragu-raguan

Iya nih, saya sempat merasakan keraguan.

Jadi, tadi sore kantor saya mendapatkan kiriman berkotak-kotak donat keluaran sebuah outlet internasional dari seorang kolega yang lagi punya event. Semua orang di kantor kebagian, bahkan saya dapat dua buah. Dimasukkan ke dalam kotak dan ditaruh meja saya.

Sebelumnya, sudah beberapa kali saya makan donat dari outlet ini, enak dan manis. Pilihan topping-nya pun sangat beragam, mulai dari coklat, strawberry, greentea, sampe yang bertaburan irisan kacang almond. Saya suka semua.

Sayangnya, kemudian muncul isu kalo outlet tersebut belum punya sertifikat halal dari Majelis Ulama Indonesia. Saya sih udah cukup lama mendengar isu tersebut. Tapi, tetep aja kalo kepengen ya beli, kalo dikasih ya dimakan. Tanpa pikir panjang.

Tapi tidak dengan sore tadi. Dua buah donat rasa tiramisu dan oreo itu berhasil membuat saya bimbang. Antara pengen makan karena keduanya adalah topping favorit saya, dan ragu mau makan karena ga jelas halal haramnya.

Saya sempat cari tau di internet, dan berharap mendapatkan info kalo donat dari outlet itu sudah mendapatkan sertifikat halal. Sehingga dua donat dalam kotak di atas meja bisa segera berpindah tempat ke dalam perut saya. Hehe. Tapi sungguh sayang, yang saya dapati malah perdebatan panjang yang gak ada kesimpulannya.

Saya sempat mengunjungi fanpage outlet itu di facebook. Adminnya pernah bikin status kalo donat mereka halal, nyatanya bisa buka outlet di Malaysia yang kabarnya proses sertifikasi halalnya jauh lebih ketat dari Indonesia. Ada 160 komen masuk, bersilang pendapat satu sama lain. Ada yang bilang, kalo isu halal haram itu dimunculkan karena persaingan bisnis. Ada pula yang bilang kalo belum jelas hukumnya, sebaiknya ditinggalkan. Adminnya pun gak kasih respon apa-apa. Status itu dibuat tanggal 12 April 2009 dan sepertinya 6 tahun berlalu masih belum ada kejelasan tentang kehalalan donat dari outlet itu.

Akhirnya, donat itu saya angsurkan ke meja sebelah. Yaitu kepada temen saya yang non muslim dengan catatan kecil yang saya berikan sebelumnya, berbunyi, “Mbak, mohon dengan sangat mau menerima donat punyaku ya. Aku agak ragu-ragu karena keyakinanku.” Alhamdulillah teman saya mengerti dan mau menerimanya. Padahal, biasanya dia lebih suka bagi-bagi makanan daripada dikasih. Hehe.

Setelah itu, sambil nyetir pulang ke rumah terasa ada angin segar berdesir di hati. Lega.

Sempat muncul pertanyaan dalam diri saya :

  1. Bagaimana jika ternyata donat itu halal? Apakah ada kerugian bagi saya karena tidak memakannya? Jawabannya adalah TIDAK ADA.
  2. Bagaimana jika ternyata donat itu haram? Jawabannya jelas, saya wajib meninggalkannya.

Perkara yang tidak jelas halal dan haramnya, atau masih samar-samar hukumnya disebut syubhat. Kalo halal ya harus jelas, kalo haram pun juga harus jelas. Sedangkan perkara yang masih menjadi perdebatan, sebaiknya ditinggalkan.

Cerita tentang donat di atas sebenernya cuman sebuah contoh yang kebetulan saya hadapi secara nyata. Bukan perkara donat, bukan pula perkara isu halal haram yang bisa jadi dihembuskan karena persaingan bisnis, tapi tentang kewajiban muslimin meninggalkan perkara syubhat.

Demikian dari saya, yang masih fakir ilmu.🙂

Published by

annafardiana

A happy wife of a happy hubby, pemeran utama di blog pribadi.

4 thoughts on “Donat dan Keragu-raguan”

  1. memang sekarang ngeri kalau jajan di luar. Daripada beli donat yang belum tentu halal lebih baik bikin sendiri mbak, saya punya resep nya yuk di intip di blog saya… kalau buatan sendiri di jamin halal dan hygienis. Salam kenal dari jogja🙂

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s