Gowes Uphill : Kaliurang dan Sekitarnya #2

Agenda wajib long weekend buat saya adalah gowes. Serasa ada yang kurang lengkap jika liburan ga dipake gowes, kecuali kalo ga kepaksa banget, ya. Bisa kok saya gak liburan keluar kota, cukup gowes seputar Jogja udah bahagia.

Sabtu, 31 Desember 2016 lalu, Jogja Folding Bike punya agenda gowes ke Turgo Hill.

Titik kumpul di Bunderan UGM pukul 06.00. Setelah menunggu beberapa lama, rombongan pesepeda lipat segera berangkat menuju Jogja kawasan utara. Melalui Jalan Kaliurang yang sedikit demi sedikit menanjak nggak habis-habis.

Sebenernya saya lumayan nekad loh ngikut rombongan ini, secara ya pesepeda yang ikutan udah pada senior dan kelas balap. Hehe. Padahal soal kecepatan, saya masih kurang banget. Untung ada mas suamik yang setia menemani. 🙂

Terbukti, belum juga sampai di Jakal kilometer 10, rombongan udah terpisah. Saya tentu saja di kelompok belakang dan memutuskan untuk istirahat di km 14 di UII. Begitu saya dan Mas Nug mulai jalan lagi, udah gak keliatan deh rombongan depan. Hehe.

Sampai di pertigaan Pakem, kami belok ke kiri menuju Warung Ijo mengisi perbekalan. Kemudian lanjut naik melalui Jalan Turi yang di sepanjang jalannya banyak terdapat kebun salak. Ya, daerah Turi dikenal sebagai penghasil salak di Yogyakarta. Jalan ini adalah jalur menuju Bukit Turgo yang sering dipake arena downhill.

Ternyata eh ternyata, kami salah persepsi nih, rombongan tidak menuju ke Bukit Turgo tapi ke Gardu Pandang Turgo untuk ngeliat Taman Lampion yang sering disebut Festival of Lights. Sebuah annual event yang digelar tiap jelang akhir tahun hingga awal tahun.

Waduh, tapi udah terlanjur sampai atas, masa ya turun. Ya sudah, saya dan Mas Nug tetap gowes dan mencari jalan tembus menuju Gardu Pandang.

Rupanya salah jalur membawa hikmah. Kami malah bisa melalui Jembatan Gantung Kali Boyong, yang terletak di Dusun Boyong, Pakem, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Jembatan ini hanya bisa dilalui mobil dari satu arah. Kalo motor atau sepeda masih bisa dari dua arah. Jadi, kalo ada mobil lewat, harus bergantian dan sabar mengantri. Di ujung jembatan pun juga ada ‘gapura’ besi dengan lebar dan tinggi 2 meter untuk membatasi ukuran mobil yang bisa melalui jembatan. Jadi kalo truk ga bakal bisa lewat.

Perjalanan kami lanjutkan dan tembus ke Jalan Boyong. Ga sengaja juga kami sampai ke Museum Ullen Sentalu. Sebenernya kami berniat untuk masuk, melihat-lihat barang sebentar. Tapi sayangnya tidak ada parkiran sepeda yang representatif. Sekadar diparkir dan tanpa penjagaan. Jadi kami hanya sampai area depan pintu masuk museum.

Selanjutnya kami bersegera menuju Gardu Pandang untuk melihat lampion di siang hari. Haha, liat lampion kok pas daylight ya. Tanjakan demi tanjakan kami lalui, walaupun dengkul udah terasa pegal. Tapi, adrenalin terpompa karena tujuan tinggal di depan mata.

Akhirnya sampai juga di Gardu Pandang Turgo. Mungkin karena udah lelah, kami lebih banyak duduk dan berfoto secukupnya. Istirahat sambil makan jadah, tempe, dan wajik, kuliner khas Kaliurang. Cukup membayar Rp.20.000,- udah dapat sepaket jadah tempe dan 7 buah wajik coklat.

By the way, lampion tidak hanya dijumpai di Gardu Pandang tapi juga di beberapa titik sekitar Kaliurang. Sepertinya masing-masing Rukun Tetangga (RT) juga membuat lampion untuk dilombakan.

Nah, kalo sudah sampai Kaliurang sayang kalo nggak mampir ke Taman Kaliurang. Yaitu taman bermain yang menurut sejarah digunakan sebagai tempat peristirahatan keluarga Hamengku Buwono XIII, kemudian sejak Sri Sultan HB IX naik tahta, taman dibuka untuk umum. Kami berfoto sebentar di gerbang masuk, kemudian meluncur turun untuk pulang. Lelah memang terasa, namun terbayar lunas dengan rasa senang di hati. 

Gowes sampai Gardu Pandang Turgo dan Taman Kaliurang adalah pengalaman dan pencapaian baru untuk saya, sehingga perlu dicatat dan ditulis di blog. Selain itu, gowes uphill kali ini telah menutup 2016 dengan sangat me-nye-nang-kan. 🙂

Alhamdulillah.

 

PS : Klik foto untuk perbesar. Baca juga postingan Gowes Uphill : Kaliurang dan Sekitarnya bagian 1.

Advertisements

Published by

annafardiana

A happy wife of a happy hubby, pemeran utama di blog pribadi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s