Folding Bike vs Mountain Bike

Halo, apa kabar? Sudah hampir 2 bulan blog ini nggak ada postingan baru.

Nah, mumpung long weekend saya akan membuat sebuah review tentang 2 jenis sepeda yang saya gunakan yaitu folding bike atau sepeda lipat (si orens) dan mountain bike atau sepeda gunung (si pinky). Review atau ulasan ini sangat bersifat subyektif karena berdasar pengalaman pribadi saya menggunakan dua jenis sepeda tersebut.

Baik, kita mulai saja ya.

 

Si Orens

Si orens adalah sepeda lipat kedua, sebelumnya pake Si Kuning yang pernah saya review di sini.

Saat ini saya menggunakan sepeda lipat Tern seri Link D16 warna kombinasi orens dan putih, dibeli akhir tahun 2015 setelah saya dan mas Nug ikutan Jamselinas V di Solo. Spesifikasi roda berukuran 20 inch dan menggunakan ban kojak (sleek tanpa kembang). Speed 2 x 8, udah upgrade crank yang lebih ringan dari bawaan aslinya.

Sepeda lipat ini cukup sering saya gunakan sejak awal 2016 mengunjungi berbagai tempat di Jogja dan sekitarnya. Beberapa di antaranya gowes uphill ke Plunyon dan Kaliurang, juga mini touring Jogja-Kebumen.

Pengalaman saat gowes nanjak, si orens cukup lincah dan ringan. Kalopun beberapa kali saya berhenti untuk istirahat, lebih karena dengkul saya yang belum di-upgrade. Bukan karena sepedanya. Hehe. Cuman ya gitu, harus ektra hati-hati saat gowes turun dengan sepeda lipat, mengingat gak ada suspensi sehingga getaran sangat terasa. Handling harus lebih kuat.

Saat si orens dibawa gowes jarak jauh pun juga sangat nyaman, terutama melalui jalan aspal halus. Kelebihan ban kojak yang halus tanpa kembang adalah meminimalkan gesekan ban dengan aspal. Jadi bisa ngebut. Kalopun saya tetap dengan speed rendah, mungkin karbo loading-nya kurang. Hahaha.

Dulu, saya sempat berpikiran bahwa sepeda lipat itu hanya untuk santai kota-kota semata, tapi ternyata bisa juga dipake untuk jarak jauh. Roda yang kecil membuat sepeda jenis ini lincah bermanuver saat di jalanan padat, nyelip sana-sini.

Belum lama ini, si Orens dimodifikasi dengan memotong sekitar 5 cm tinggi handlepost-nya. Handlepost itu tiang penyangga setang. Ya, kekurangan Tern Link D16 itu adalah handlepost yang fix gak bisa dinaik-turunin. Setelah dipotong 5 cm, posisi berkendara saya lebih membungkuk ke depan dan lebih nyaman.

Atas : sebelum handlepost dipotong
Bawah : sesudah handlepost dipotong

 

Si Pinky

Si Pinky adalah mountain bike (MTB) anggota keluarga baru di rumah sejak Januari 2017 lalu, menggantikan city bike saya yang berwarna putih. Si Pinky menggunakan frame Polygon Cleo 2, sedangkan part lainnya diambil dari Kona Cindercone 2012. Cuman frame-nya aja yang diganti. Ukuran roda 26 inch, dengan ban Kenda yang banyak kembangnya. Speed 3 x 9 dan suspensi depan Rock Sox.

Si Pinky belum terlalu sering saya pake, tapi udah sempat saya ajak gowes uphill ke Hutan Pinus Dlinggo dan Kaliurang.

Namanya juga mountain bike ya, jadi emang terasa banget bedanya saat gowes uphill. Lebih ‘antep’ walaupun melalui medan yang terjal atau blusukan. Setang yang lebih lebar serta adanya suspensi depan membuat saya percaya diri saat gowes turun. Getaran bisa diredam dan handling jadi terasa lebih nyaman.

Ban dengan banyak kembang memungkinkan untuk jalan yang kasar atau berbatu, gak gampang selip. Tapi kalo dipake di jalan aspal halus, jadi terasa lebih lengket dan berat.

Si Pinky sampai juga ke Tugu Urang

***

 

Anyway, sebenernya masih ada 1 jenis sepeda lagi yang juga saya cobain, yaitu road bike. Saya menggunakan Polygon Helios 100 dengan flatbar atau setang datar. Jujur yak, saya belum bisa menemukan kenyamanan pake sepeda jenis ini. Mungkin karena saya belum terbiasa dan masih perlu penyesuaian. Sempat gowes dengan sepeda ini ke Tebing Breksi.

Gowes dengan Road Bike ke Tebing Breksi

Setiap jenis sepeda memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing dengan peruntukan medan yang berbeda. Jadi memang nggak bisa dibandingkan. Semakin ke sini, saya juga jadi sedikit lebih bisa merasakan bahwa memilih jenis sepeda itu tergantung tujuan penggunaannya.

Trus kalo tetep harus merangking berdasarkan pengalaman bersepeda, apa jawaban saya? Nomer 1 adalah sepeda lipat, runner-up adalah MTB, dan diikuti sepeda jenis lainnya. Boleh gak setuju, karena ini bersifat subyektif. 🙂

Advertisements

Published by

annafardiana

A happy wife of a happy hubby, pemeran utama di blog pribadi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s