Review Ala-ala : Sepeda Lipat Tern vs Brompton

Searah jarum jam dari kiri atas : Tern Link D16 @Rajinem, Brompton M6R @titik Nol km, sedikit ngebut pake si Orens, dan sepeda santai naik ke Warjo pake si Ndog Asin.

Postingan pertama di 2019!

Saat ini saya memiliki 2 sepeda lipat yang paling sering saya pakai, yaitu Tern Link D16 dan Brompton M6R. Di postingan ini saya pengen cerita pengalaman menggunakan 2 seli ini dan membuat sedikit perbandingan.

Tern Link D16 (Si Orens)

Sepeda ini saya gunakan sejak tahun 2016 dan sempat saya review di tulisan yang ini. Berbahan alumunium dengan ukuran roda 20 inch, menggunakan ban kojak (sleek tanpa kembang). Spesifikasi terbaru setelah mengalami beberapa upgrade yaitu menggunakan double crank 105 (52-36t) dan sproket 11-34t, speed 2 x 9.

Kalo dilihat dari spesifikasi di atas udah keliatan kalo sepeda ini lumayan ringan dibawa nanjak dan dipake ngebut. Apalagi kalo dengkul rider-nya juga udah di-upgrade, bisa lebih kenceng lagi. Hehe. Tapi kalo pas di turunan, getaran kerasa banget di setang. Jadi handling harus kuat biar gak jatuh.

Namun, sepeda ini cocok untuk gowes jarak jauh seperti touring antar kota/provinsi. Beberapa kali saya ikut event gowes jarak jauh dengan sepeda ini. Alhamdulillah finish dengan sehat, baik rider maupun sepedanya (alias gak trouble).

Brompton M6R (Si Ndog Asin)

Alhamdulillah kesampaian juga punya sepeda Inggris ini setelah nguras tabungan plus jual-jualin sepeda yang jarang kepake. Secara si Ndog Asin ini harganya gak murah, saya perlu mikir cukup lama untuk beli. Alhamdulillah sepeda ini emang nggak mengecewakan. Worth to buy.

Si Ndog Asin ini saya miliki sejak Juli 2018 dan masih standar, belum saya upgrade apapun. Masih dengan 6 speed terdiri dari 2 eksternal gear (11-16t) dan 3 internal gear. Berbahan hiten (besi), dengan ukuran roda sekitar 18 inch, menggunakan ban Marathon Racer, sleek dengan sedikit kembangan.

Kesan saat pertama kali nyoba Brompton adalah berat di kayuhannya, kayak ga bisa kenceng. Tapi ternyata setelah udah dapet momentum kayuhan, bisa juga ngebut dan stabil alias antep di jalan. Iya, ternyata bahan hiten itu bikin sepeda ini lebih stabil dibanding sepeda berbahan alumunium.

Trus enak dipake nanjak nggak? Sementara ini saya baru sampe Warung Ijo, Pakem dengan menggunakan sepeda ini. Belum pernah lebih nanjak lagi. Saat melalui turunan, sepeda ini juga stabil nggak gampang oleng. Handling jadi lebih enak. Sedangkan jarak terjauh yang pernah saya tempuh dengan si Ndog Asin adalah sekitar 70-an kilometer.

Cocok buat touring, nggak? Cocok banget, banyak kok yang sudah membuktikan bersepeda jarak jauh pake Brompton. Apalagi didukung dengan dengkul titan. Hahaha.

***

Trus, saya milih yang mana? Pilih semua aja. Karena menurut saya, baik si Orens atau si Ndog Asin, memiliki keistimewaan dan peruntukan yang berbeda.

Kalo pas pengen nanjak agak serius, pake Tern. Kalo pengen nanjak tipis dan foto-foto, pake Brompton aja. Kalo pengen agak ngebut pake Tern, kalo pengen santai ya pake Brompton.

Pada akhirnya kedua sepeda ini tidak bisa dibanding-bandingkan. Buat saya kedua sepeda ini punya ruang khusus di hati. Sama-sama disayang, dirawat, dan digunakan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s