My Grand Fondos

Grand Fondo (GF) adalah sebuah istilah yang tidak asing untuk para pesepeda khususnya pengguna tracking app Strava. Grand Fondo merujuk pada jarak tempuh 100 kilometer dalam satu kali perjalanan atau ride. Kalo dari segi bahasa, grand fondo berasal dari bahasa Itali yang berarti ‘bersepeda jarak jauh’.

Sebagai seorang pesepeda (lipat) saya pun juga beberapa kali GF. Buat saya penghobi sepeda yang lemah dan sekadar pesepeda akhir pekan, mencapai jarak 100 km adalah sesuatu yang istimewa. Padahal bisa jadi buat orang lain itu biasa aja. Ah, jadi malu.

Tapi tak mengapa, blog pribadi mah bebas. Hahaha. Baiklah, berikut 5 GF favorit saya.

PS : klik/tab foto untuk perbesar. 

1. Candi Borobudur

Pertama kali gowes mencapai 100 km terjadi di 30 Januari 2016 dengan rute Jogja – Candi Borobudur, Magelang (PP). Kami memilih rute ini karena relatif datar walaupun ada nanjak sedikit di beberapa jalan menuju Magelang. Kalo pas pulang sih, lebih banyak dronjong alias turunan menuju Jogja.

Teman seperjalanan saya adalah Mas Nug (suami) dan Henry (teman SMA). Alhamdulillah mereka sungguh sabar menemani dan menunggu saya yang dikit-dikit berhenti, terutama saat pulang. Udah panas, tenaga tinggal sisa-sisa pula!

Start pukul 05.30, finish pukul 14.00.

Anyway, perjalanan Grand Fondo ini pernah saya tulis di postingan yang ini.

2. Kabupaten Kebumen

Kamis, 5 Mei 2016. GF selanjutnya adalah menuju Kebumen, Jawa Tengah. Sebuah kabupaten yang terletak di barat Provinsi DIY, berbatasan dengan Kabupaten Purworejo. Kali ini gowes antar kota antar provinsi dengan rombongan, yaitu teman-teman dari Komunitas Jogja Folding Bike (JFB).

Gowes ini sebenernya dalam rangka menyertai beberapa teman yang mau gowes lebih jauh lagi yaitu menuju kota Purwokerto. Sebagian kami hanya sampai di Kebumen kemudian pulang dengan bis.

Jarak Jogja – Kebumen adalah 113,5 km. Lebih lengkapnya pernah saya tulis di sini.

Anyway, rute ini pernah saya ulang dengan rombongan berbeda yaitu Gamago (Gadjah Mada Gowes) di tahun yang sama.

3. Le Tour de Jogja 2017

GF kali ini didapat ketika mengikuti event Le Tour de Jogja (LTDJ) pada 7 Mei 2017. Ini adalah event bersepeda jarak jauh pertama yang saya ikuti. Sewaktu ditawari untuk ikut, saya agak ragu-ragu. Karena gowes saat event itu memiliki batas waktu atau cut off time. Tapi di sisi lain, gowes ini ada fasilitas pendukung seperti refreshment, water station, tim medis, dan mobil evakuasi.

Setelah berpikir masak, saya putuskan untuk ikut. Bismillah dan tentu saja porsi latihan harus ditambah. Bersama suami sekaligus coach tercinta, saya sempat mencoba rute LTDJ 2017. Biar agak lebih pede, gitu. 🙂

Le Tour de Jogja 2017 diselenggarakan oleh komunitas Jogja Gowes, mengambil start dan finish di Grha Sabha Pramana, UGM dengan titik terjauh adalah Waduk Sermo, Kulon Progo. Total jarak adalah 110 km (tapi di strava tercatat 124,32 km).

Saya mengikuti event ini bersama teman-teman Jogja Folding Bike. Awalnya kami berangkat dengan rombongan besar, namun semakin jauh rombongan terpisah dengan sendirinya sesuai kecepatan dan kekuatan masing-masing.

Rombongan kecil saya terdiri dari 4 (empat) pesepeda lipat perempuan, yaitu Mbak Dyah, Nte Endy, Devy dan saya. Walaupun kewer, kami berempat bisa bertahan hingga CP terakhir, di mana teman-teman JFB udah nungguin untuk gowes bareng menuju finish.

Alhamdulillah kami semua finish, walaupun udah mepet sama cut off time. Start pukul 06.30, finish pukul 15.00.

4. Boyseli 100K

Gowes 100 km berikut adalah mengikuti event Boyseli 100K, Numpak Seli Mubeng-mubeng Boyolali, pada 28 Juli 2018 yang diselenggarakan oleh Komunitas Sepeda Sampai Tua (SESAT).

Sebelum mengikuti event ini, saya sempat melakukan latihan juga dengan Mas Nug. Yaitu gowes 100 km di sekitar Jogja-Sleman-Bantul. Buat saya yang jarang-jarang gowes jauh, kalo mau ikut event harus banyak latihan.

Di event ini mas Nug juga ikut jadi Road Captain (RC). Jadi kami ga bisa gowes bareng-bareng, dia berada di rombongan lebih depan. Sedang saya termasuk rombongan tengah agak akhir. Gapapa deh, walaupun tidak finish bersama, yang penting kami pulang ke rumah yang sama. 😍

Boyolali yang dominan dengan jalan naik turun, cukup menjadi tantangan tersendiri. Bahkan di 20 kilometer terakhir, jalan nanjak sampai finish. Bersama teman-teman JFB saya menyelesaikan rute dengan sehat dan selamat. Start pukul 06.30, finish pukul 15.00.

5. Glagah Grand Fondo

Sabtu, 20 April 2019. My latest Grand Fondo adalah kencan dengan mas cuamik. Sebelum bulan puasa, saya ngajakin dia untuk gowes ke Pantai Glagah, Kulon Progo. Sebuah pantai yang dikenal dengan gugusan pemecah ombaknya. Udah lama banget pengen ke sana, tapi belum kesampaian juga. Mumpung long weekend, mumpung ada waktu, piknik murah meriah lah kami berdua dengan modal dengkul saja. 😍😅

Karena lama nggak gowes jarak jauh, di awal perjalanan saya merasa badan lama panasnya. Perlu 10 sampai 15 km pertama, badan merasa enak untuk gowes. Nah, pertanda kurang warming up!

Gowes menuju pantai selatan itu selalu menyenangkan karena jalan ndronjong atau menurun dan arah angin yang mendorong kita, sehingga terasa lebih ringan. Kurang dari 3 jam, kami berdua sampai di Pantai Glagah. Foto sana sini aja, udah menghabiskan waktu lebih dari 1 jam. Terlalu lama berhenti, badan jadi dingin lagi.

Ujian sesungguhnya adalah di saat perjalanan pulang. Jalan menanjak tipis tapi tiada henti ke arah utara. Ditambah lagi ketika di jalan Daendels, arah angin berlawanan arah sehingga membuat kayuhan semakin berat. Kondisi lalu lintas yang didominasi oleh truk juga menambah kesulitan. Supir truk seringkali ngebut sampai mepet banget ke kita, Belum lagi panasnya udara dan matahari yang membara. Kabur kanginan, wis!

Sempet kewer karena manajemen waktu makan yang kurang baik. Ya, asupan tubuh harus terjaga karena gowes jarak jauh. Sebelum terasa lapar, harus makan agar cadangan energi di tubuh selalu ada. Saat itu saya belum terasa lapar, jadi melewatkan sebuah kesempatan istirahat untuk makan. Cuman ngemil doang, padahal mumpung istirahat harus makan yang berat.

Alhamdulillah, setelah berangkat kurang lebih pukul 06.00 pagi, kami bisa finish sampai di rumah pukul 15.30.

***

Yak, demikian beberapa grand fondo yang pernah saya lalui. Nah, agar grand fondo berjalan aman dan nyaman, ada beberapa hal yang perlu dipersiapkan. Tentu saja sepeda harus dalam kondisi prima dan rider pun harus menggunakan berbagai kelengkapan yang mendukung. Nah, saya telah merekomendasikan 8 Produk Pendukung untuk Bersepeda yang Aman dan Nyaman. Dijamin, gowes jarak jauh terasa menyenangkan dan bikin ketagihan!

Trus, ada juga persiapan non teknis yang perlu kamu tahu. Apa aja?

1. Carbo loading

Makanlah yang cukup mulai dari 2 hari sebelum gowes jauh. Sebagai penyiapan energi dalam tubuh yang nantinya dilepaskan saat gowes. Jangan sampai kurang makan, akan membuat tubuh lemas alias kewer.

2. Cukup istirahat

Kurang tidur adalah salah satu penyebab tubuh jadi lemas dan tidak fit. Malam sebelum gowes jauh, tidurlah yang cukup. Jangan begadang, ya.

3. Cukup minum

Hidrasi tubuh secara berkala saat gowes. Nggak harus menunggu merasa haus. Beberapa orang percaya, bahwa minuman berelektrolit itu bagus untuk mengganti cairan tubuh, seperti Pocar*, hydrococ*, atau bahkan oralit. Tapi nggak setiap orang cocok sih. Kalo saya lebih suka minuman manis, misal teh atau air madu.

Intinya cairan tubuh yang keluar sebagai keringat harus segera diganti dengan cukup minum air.

4. Tidak boleh lapar

Ya, betul sekali. Asupan makanan selama gowes jauh itu harus cukup. Walaupun sudah carbo loading sebelumnya, asupan harus dijaga agar tidak lemas di tengah jalan. Buah pisang adalah salah satu makanan yang cepat diserap oleh tubuh menjadi energi. Saat ada kesempatan istirahat, cukuplah minum dan makan sebelum lapar.

5. Masa Pemulihan (recovery)

Setelah gowes jauh, asupan tetap diatur. Makan, minum dan istirahat yang cukup. Selain itu tubuh tetap perlu bergerak atau latihan ringan. Misal dengan gowes jarak dekat dan santai.

***

Selain tips diatas, tidak lupa latihan yang cukup. Agar tubuh terbiasa untuk ‘bekerja’. Seperti yang pernah saya tulis di postingan-postingan sebelumnya, bahwa strong atau kuat itu adalah sebuah titik yang tidak absolute. Sesuatu yang perlu dilatih, dirawat, dan tergantung dengan situasi serta kondisi saat itu. Strong hari ini belum tentu strong di lain hari.

Capaian saya ini masih belum seberapa dibanding dengan teman-teman yang lain, tapi bolehlah saya berbagi. Semoga tulisan ini bisa bermanfaat buat saya maupun kamu. Tujuan utama berolahraga adalah sehat dan bahagia. Karena buat saya, ada bahagia di setiap kayuhan. 😘

Sampai jumpa di Grand Fondo selanjutnya!

2 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s