Sampai Jumpa Lagi, Buk.

Genap 1 bulan sudah, sebuah episode perpisahan terjadi. Sebuah perpisahan yang cepat atau lambat pasti terjadi. Ibundaku telah dipanggil ke haribaan, kembali kepada Sang Pencipta pada hari Sabtu, 3 Agustus 2019.

Lewat tulisan ini, saya ingin berbagi sedikit cerita tentang beliau. Perempuan yang melahirkan saya. Bukan untuk meratapi perpisahan, namun mencoba untuk mengabadikan kenangan.

Sebelum memasuki masa pensiun, Ibuk berprofesi sebagai guru Taman Kanak-kanak (TK). Ibuk adalah seorang guru PNS yang beberapa kali dipindahtugaskan, sesuai dengan Surat Tugas.

Saya dan bisa jadi kakak-kakak saya, sering ikut ke TK tempat ibuk mengajar. TK Mekar Sari yang berada di sekitar daerah Gondomanan, mengisi ruang-ruang pertama memori saya. Sebuah TK yang sangat sederhana di tengah pemukiman Jogja.

Di rumah Eyang di Pakuncen
Di rumah Ambarrukmo

Tapi, saya nggak pernah jadi murid di sekolah ibuk ngajar, loh. Saya justru masuk ke TK lain di dekat rumah. Begitu juga ketiga kakak saya, Mas Fajar, Mbak Ida, dan Mas Aan. Mungkin ibuk nggak pengen urusan kerjaan campur aduk sama pribadi. Misal saya jadi murid ibuk, trus saya nakal/dinakalin, pasti jadi nggak enak sendiri kan. Antara jadi guru yang harus obyektif dan jadi orang tua yang pasti membela anaknya. Jadi, ibuk pengen profesional.

TK lain yang saya ingat adalah TK ABA Sapen, di mana ibuk jadi Kepala Sekolah. TK ini bersebelahan dengan SD Muhammadiyah Sapen, tempat saya belajar. Kalo pas istirahat, saya sering nyamperin ibuk. Ikut mainan di ayunan dan perosotan. Kadang ikut beresin meja kursi di kelas.

Ketika saya udah agak gedean, udah bisa nulis rapi dan bagus, saya bantuin ibuk nulis di rapor murid-muridnya. Nilainya A B C, plus nulis sedikit catatan-catatan. Cuman saya lupa, catatan apa saja yang pernah saya tulis. Hehe.

Saat akhir tahun ajaran, saya juga sibuk nulisin ijazah murid-muridnya Ibuk. Tulis nama, tanggal lahir, dan sebagainya. Trus ibuk tinggal tanda tangan. Kan dia kepala sekolah. 😁

Ibuk di mata saya, adalah seorang ibu yang jarang memaksakan kehendak. Saya diberi kebebasan untuk memilih sekolah, bahkan saat mau masuk SD, saya sendiri yang memilih.

Waktu itu saya milih SD Muhammadiyah Sapen karena tetangga sekolah di situ. Setiap hari Jumat dia libur. Wih, beda dari yang lainnya kan? Saya pikir dapat libur 2 hari yaitu Jumat dan Ahad. Mau dong sekolah di situ. Alasan ini cuman saya simpan dalam hati.

Setelah jadi murid di SD itu, baru tahu kalo liburnya Jumat doang, hari Ahad masuk sekolah. Ah, tidak sesuai harapan. πŸ˜‚

Begitu juga dengan masuk SMP, SMA, kuliah. Ibuk cuman ngasih saran, keputusan ada di saya. Tapi, saya tipikal anak penurut. Masukan dari orang tua saya resapi betul-betul.

Eh, tapi sebenernya pas milih jurusan kuliah saya agak ngeyel ding. Waktu itu bapak nyuruh saya ambil jurusan Ekonomi. Tapi saya nggak mau dan pilih jurusan lain. Padahal sekarang, saya malah kerja ngurus keuangan. Duh, sekalinya ngeyel, malah fatal. πŸ˜‘

Nah soal jodoh, bapak dan ibuk nggak banyak ngatur. Cuman ngasih saran. Tapi saran dan restu orang tua jadi patokan nomor satu. 😍

Ada cerita mengharukan sekaligus lucu setelah saya menikah. Seminggu setelah nikah, saatnya saya diboyong ke rumah suami. Saya nangis kayak anak kecil, suara kenceng sampai sesenggukan sambil meluk ibuk. Padahal rumah keluarga suami dengan rumah kami, cuman beda kecamatan doang! Hahaha. Saya nangis kenceng karena takut berpisah sama ibuk.

Jadi, nggak bisa dibayangin kan perasaan saya ketika berpisah karena ibuk meninggal. Sedihnya luar biasa. πŸ˜₯ (Saya nulis paragraf ini juga sambil nangis).

Ibuk juga yang meminta saya daftar CPNS. Sebenernya saya males, merasa bakal ga lolos karena saingannya banyak. Tapi ya gitu, saya kan anak penurut. Nggak pake ngeyel, terus cari info dan mendaftar tes masuk CPNS. Alhamdulillah, saya lulus dan diterima CPNS. Makasih ya, Buk! 😘

Foto terakhir lengkap ber-6 (Juni 2019).
2 minggu sebelum berpulang, sempat jalan bertiga makan ayam ingkung di Pajangan Bantul
Foto terakhir saya dengan ibuk πŸ’• (2 minggu sebelum ibuk berpulang)
Seminggu sebelum berpulang masih sempat minta dianterin beli selop ini.
Foto dengan keluarga calon besan, saat lamaran untuk Mas Aan, 7 Juni 2019 di Magelang.
26 Agustus 2019, di pernikahan mas Aan. Tiada lengkap rasanya tanpa kehadiran Ibuk.

Kehilangan akan ibuk justru semakin terasa saat suasana duka telah berangsur pergi. Saat hidup harus kembali berjalan. Dulu, saat saya tugas keluar kantor, yang searah dengan rumah Ibuk, saya sering mampir tanpa terencana. Ga perlu nelpon atau janjian, karena ibuk selalu ada. Selalu di rumah.

Kini, nggak bisa begitu lagi. Harus telpon dulu, karena rumah bisa jadi kosong. Karena kalo bapak masih sering ada kegiatan di luar rumah. Ketemu temen pensiunan atau aktivitas lain. Ah, terasa sekali bedanya. πŸ˜₯

Sebagai ibu dari 4 orang anak, saya yakin ibuk mengisi ruang khusus di hati anak-anaknya. Masing-masing memiliki kenangan yang pasti istimewa.

Begitu juga dengan rekan-rekan sejawat. Saat melayat, mereka menyampaikan bahwa ibuk memiliki peran besar membangun dan mengembangkan sekolah-sekolah Taman Kanak-kanak. Semoga ini menjadi amal jariyah ibundaku, sehingga pahala akan terus mengalir sampai kapan pun.

Suasana di rumah duka
Bapak menaburkan bunga saat pemakaman

Ya Allah, ampuni segala dosa dan maafkan kesalahan ibundaku. Rahmati dan sayangilah ibundaku dalam tidur panjangnya. Tempatkan ia di tempat yang terbaik di sisi-Mu. Ijinkan kami berkumpul kembali di surga-Mu.

Insya Allah doa akan selalu kukirimkan hingga waktuku tiba. Selamat jalan, till we meet again.

Sampai jumpa lagi, Buk. 😘😘

3 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s