Folding Bike vs Mountain Bike

Halo, apa kabar? Sudah hampir 2 bulan blog ini nggak ada postingan baru.

Nah, mumpung long weekend saya akan membuat sebuah review tentang 2 jenis sepeda yang saya gunakan yaitu folding bike atau sepeda lipat (si orens) dan mountain bike atau sepeda gunung (si pinky). Review atau ulasan ini sangat bersifat subyektif karena berdasar pengalaman pribadi saya menggunakan dua jenis sepeda tersebut.

Baik, kita mulai saja ya.

 

Si Orens

Si orens adalah sepeda lipat kedua, sebelumnya pake Si Kuning yang pernah saya review di sini.

Saat ini saya menggunakan sepeda lipat Tern seri Link D16 warna kombinasi orens dan putih, dibeli akhir tahun 2015 setelah saya dan mas Nug ikutan Jamselinas V di Solo. Spesifikasi roda berukuran 20 inch dan menggunakan ban kojak (sleek tanpa kembang). Speed 2 x 8, udah upgrade crank yang lebih ringan dari bawaan aslinya.

Sepeda lipat ini cukup sering saya gunakan sejak awal 2016 mengunjungi berbagai tempat di Jogja dan sekitarnya. Beberapa di antaranya gowes uphill ke Plunyon dan Kaliurang, juga mini touring Jogja-Kebumen.

Pengalaman saat gowes nanjak, si orens cukup lincah dan ringan. Kalopun beberapa kali saya berhenti untuk istirahat, lebih karena dengkul saya yang belum di-upgrade. Bukan karena sepedanya. Hehe. Cuman ya gitu, harus ektra hati-hati saat gowes turun dengan sepeda lipat, mengingat gak ada suspensi sehingga getaran sangat terasa. Handling harus lebih kuat.

Saat si orens dibawa gowes jarak jauh pun juga sangat nyaman, terutama melalui jalan aspal halus. Kelebihan ban kojak yang halus tanpa kembang adalah meminimalkan gesekan ban dengan aspal. Jadi bisa ngebut. Kalopun saya tetap dengan speed rendah, mungkin karbo loading-nya kurang. Hahaha.

Dulu, saya sempat berpikiran bahwa sepeda lipat itu hanya untuk santai kota-kota semata, tapi ternyata bisa juga dipake untuk jarak jauh. Roda yang kecil membuat sepeda jenis ini lincah bermanuver saat di jalanan padat, nyelip sana-sini.

Belum lama ini, si Orens dimodifikasi dengan memotong sekitar 5 cm tinggi handlepost-nya. Handlepost itu tiang penyangga setang. Ya, kekurangan Tern Link D16 itu adalah handlepost yang fix gak bisa dinaik-turunin. Setelah dipotong 5 cm, posisi berkendara saya lebih membungkuk ke depan dan lebih nyaman.

Atas : sebelum handlepost dipotong
Bawah : sesudah handlepost dipotong

 

Si Pinky

Si Pinky adalah mountain bike (MTB) anggota keluarga baru di rumah sejak Januari 2017 lalu, menggantikan city bike saya yang berwarna putih. Si Pinky menggunakan frame Polygon Cleo 2, sedangkan part lainnya diambil dari Kona Cindercone 2012. Cuman frame-nya aja yang diganti. Ukuran roda 26 inch, dengan ban Kenda yang banyak kembangnya. Speed 3 x 9 dan suspensi depan Rock Sox.

Si Pinky belum terlalu sering saya pake, tapi udah sempat saya ajak gowes uphill ke Hutan Pinus Dlinggo dan Kaliurang.

Namanya juga mountain bike ya, jadi emang terasa banget bedanya saat gowes uphill. Lebih ‘antep’ walaupun melalui medan yang terjal atau blusukan. Setang yang lebih lebar serta adanya suspensi depan membuat saya percaya diri saat gowes turun. Getaran bisa diredam dan handling jadi terasa lebih nyaman.

Ban dengan banyak kembang memungkinkan untuk jalan yang kasar atau berbatu, gak gampang selip. Tapi kalo dipake di jalan aspal halus, jadi terasa lebih lengket dan berat.

Si Pinky sampai juga ke Tugu Urang

***

 

Anyway, sebenernya masih ada 1 jenis sepeda lagi yang juga saya cobain, yaitu road bike. Saya menggunakan Polygon Helios 100 dengan flatbar atau setang datar. Jujur yak, saya belum bisa menemukan kenyamanan pake sepeda jenis ini. Mungkin karena saya belum terbiasa dan masih perlu penyesuaian. Sempat gowes dengan sepeda ini ke Tebing Breksi.

Gowes dengan Road Bike ke Tebing Breksi

Setiap jenis sepeda memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing dengan peruntukan medan yang berbeda. Jadi memang nggak bisa dibandingkan. Semakin ke sini, saya juga jadi sedikit lebih bisa merasakan bahwa memilih jenis sepeda itu tergantung tujuan penggunaannya.

Trus kalo tetep harus merangking berdasarkan pengalaman bersepeda, apa jawaban saya? Nomer 1 adalah sepeda lipat, runner-up adalah MTB, dan diikuti sepeda jenis lainnya. Boleh gak setuju, karena ini bersifat subyektif. 🙂

Advertisements

Gowes Uphill : Hutan Pinus Dlingo 

Hutan Pinus Dlingo, sebuah destinasi wisata alam di Yogyakarta yang terletak di Kabupaten Bantul, Yogyakarta. Tepatnya di sisi timur kota, naik ke perbukitan Pathuk. Tempat ini cukup populer di media sosial karena emang bagus buat selfie dan foto-foto.

Saya juga pengen ke sana, tapi bersepeda atau gowes. Sabtu, 21 Januari 2017, saya dan Mas Nug gowes ke Bukit Pathuk dengan tujuan utama Hutan Pinus Dlingo. Pukul 06.00 kami baru berangkat dari rumah, udah cukup siang.

Tanjakan Bukit Pathuk terasa lebih menantang karena ramainya lalu lintas. Berbagi jalan dengan kendaraan besar seperti truk dan bis. Cukup membuat saya panik dan senewen saat gowes di tanjakan yang cukup tinggi, kendaraan-kendaraan besar itu mengklakson dari belakang. Dua kali saya akhirnya mengalah untuk minggir demi keselamatan. Jalan mulai lengang setelah perempatan Pathuk dan kami belok ke kanan atau arah selatan ke arah Dlingo.

Satu setengah kilometer (1,5 km) kemudian dari perempatan Pathuk, kami sampai di titik pemberhentian pertama yaitu Watu Amben. Sebuah spot di sisi jalan dengan pemandangan landscape Kota Yogyakarta. Saat langit cerah, kita bisa menikmati gagahnya Gunung Merapi, Merbabu dan Sumbing yang berdiri di sisi utara.

Di sekitar spot ini terdapat banyak kedai kopi yang buka sejak sore hingga malam, untuk menemani pengunjung menyaksikan sunset dan kelap-kelip lampu Kota Yogyakarta di malam hari.

Saat kami naik, hujan mulai turun dengan cukup deras. Sempat berpikir untuk mencukupkan perjalanan, dan segera turun ke Jogja. Alhamdulillah, saat kami berhenti di Watu Amben untuk berfoto sejenak, hujan berhenti sehingga kami bisa meneruskan perjalanan.

Watu Amben

Watu Amben
Watu Amben

 

Pemberhentian kedua adalah Hutan Pinus Pengger. Sebuah kawasan wisata alam yang sepertinya belum terlalu banyak dikenal, sehingga cukup sepi pengunjung. Waktu itu hanya ada kami berdua dan serombongan anak-anak TK setempat yang sedang field trip.

Ternyata selain Hutan Pinus Dlingo yang hits itu, ada banyak tempat atau spot wisata alam baru yang sebenernya juga sama adem dan asrinya. Saya juga baru tahu kok. Kalo menurut pengamatan saya, perbedaan terletak pada luasan kawasan dan kerapatan pohon pinusnya. Di Pengger, pohonnya tidak serapat di Dlingo.

Pengunjung bisa membawa sepeda dan motor masuk ke dalam, sedangkan mobil parkit di luar. Tidak ada tiket masuk kecuali memasukkan uang seikhlasnya di dalam kotak sebagai biaya parkir.

Hutan Pinus Pengger

Hutan Pinus Pengger

 

Perjalanan kami lanjutkan menuju Puncak Becici, spot wisata yang sudah cukup dikenal luas untuk bike camp, outbound, dan kegiatan sejenisnya. Pohon pinus menjulang juga menjadi menu utama untuk memanjakan mata.

Tempat ini dikelola dengan lebih serius dibanding Hutan Pinus Pengger, ada gerbang masuk yang dijaga oleh petugas. Mereka memungut biaya parkir kendaraan yang masuk yaitu Rp.3.000,-/motor, Rp.10.000,-/mobil, dan Rp.20.000,-/bus.

Tidak lama kami berhenti di sana, hanya sekadar mengambil foto di depan pintu gerbang dan segera melanjutkan perjalanan ke Hutan Pinus Dlingo. 

Kami melalui kawasan pemukiman dan sebuah sekolah dasar. Suasana bersahaja dan sederhana kental terasa. Damai. Anak-anak berkulit lebih gelap karena mereka menghabiskan waktu bermain di luar rumah, tidak hanya duduk menekuri gagdet di tangan.

Puncak Becici
Puncak Becici

 

Sebelum sampai ke tujuan utama, kami sempat mampir ke Hutan Kayu Putih. Sesuai dengan namanya, pepohonan kayu putih menjadi sajian utama. Tempat ini sepertinya masih baru, karena sedang dalam tahap merapikan jalan setapak, penanaman pohon, dan pembangunan fasilitas pelengkap.

Tempat ini juga masih sepi, saat itu hanya kami berdua dan serombongan ibu-ibu yang piknik tanpa keluarga. Saking sepinya, petugas yang jaga aja juga belum ada. Hahaha. Jadi jelas aja masih gratis nggak ada biaya masuk termasuk parkir.

Hutan Kayu Putih
Hutan Kayu Putih

 

Akhirnya, sekitar pukul 10.30 kami tiba di tujuan utama yaitu Hutan Pinus Dlingo. Udah siang banget karena kami kebanyakan berhenti, dikit-dikit cekrek! Hutan Pinus Dlingo pun, ternyata juga terbagi-bagi menjadi beberapa kawasan. Kami berhenti di Hutan Pinus Asri untuk beristirahat.

Tidak ada tiket masuk hanya biaya parkir saja, tapi untuk sepeda malah gratis dan boleh dibawa masuk ke dalam hutan.

Pengunjung di hutan ini jauh lebih banyak dari tempat-tempat sebelumnya. Kebanyakan datang dari arah selatan atau Imogiri, berlawanan dengan kami yang naik dari utara atau Pathuk. Bisa jadi mereka baru saja turun dari Kebun Buah Mangunan yang terkenal itu, menikmati kabut sejak subuh tadi.

Spot foto di kawasan ini cukup banyak, cocok buat kamu yang suka selfie! Termasuk saya juga, sih. Hehe.

Hutan Pinus Dlingo

Hutan Pinus Dlingo

Hutan Pinus Dlingo

Hutan Pinus Dlingo

Tanjakan Hutan Pinus

 

Waktu sudah menunjuk pukul 11.00. Matahari sudah tinggi namun tak terasa panas karena pohon pinus yang rimbun menjulang tinggi. Kami melanjutkan perjalanan ke selatan dan pulang turun lewat Imogiri. Sebenernya bisa juga mampir ke Kebun Buah Mangunan, tapi udah capek dan gak kuat kalo harus melewati tanjakan lebih tinggi. Sudah cukup. 🙂

Kami pulang menyusuri Jalan Imogiri Timur, saat hujan mulai turun. Sambil berteduh kami mampir makan Sate Klathak di Warung Sate Pak Salim yang walaupun gak se-famous Pak Bari maupun Pak Pong, soal rasa gak kalah enaknya. Warung Pak Salim terletak tidak jauh dari kawasan Imogiri. Kami berdua menghabiskan 2 porsi sate klathak, 1 porsi tongseng, 2 porsi nasi, dan 2 gelas jeruk hangat. Banyak yah! Itu pun cuman bayar Rp.70.000,-.

Sate klathak & Tongseng
Sate klathak & Tongseng

Hujan belum juga reda, padahal waktu sudah menunjuk angka 12.45. Padahal belum sholat Dhuhur, kan? Kami berdua putuskan melanjutkan perjalanan menembus hujan yang ternyata cuman lokal di wilayah selatan aja. Begitu sampai daerah Jejeran, hujan udah reda dan mulai panas.

Kami sampai di rumah udah pukul 13 lebih. Segera mandi dan sholat Dhuhur.

Resume gowes kali ini adalah menempuh jarak 53,2 km dengan elevasi 630 meter. Tapi, please jangan tanya soal average speed ya, biar pelan asal nyampe. Saya mah gitu orangnya. Hahaha.

Anyway, perjalanan gowes ke Hutan Pinus Dlingo adalah sebuah cita-cita sejak 2 tahun lalu. Sempat mencoba gowes naik dari arah Pathuk tapi gagal di tanjakan-tanjakan awal. Hahaha. Jantung berdegup kenceng banget, sehingga nggak boleh diterusin. Dua tahun berselang, saya mampu melewati dan sampai di Hutan Pinus Dlingo. Kenyataan ini semakin menegaskan bahwa latihan rutin dan kontinyu itu berpengaruh pada peningkatan kemampuan tubuh. Kebugaran itu gak bisa instan!

Gowes Uphill : Kaliurang dan Sekitarnya #2

Agenda wajib long weekend buat saya adalah gowes. Serasa ada yang kurang lengkap jika liburan ga dipake gowes, kecuali kalo ga kepaksa banget, ya. Bisa kok saya gak liburan keluar kota, cukup gowes seputar Jogja udah bahagia.

Sabtu, 31 Desember 2016 lalu, Jogja Folding Bike punya agenda gowes ke Turgo Hill.

Titik kumpul di Bunderan UGM pukul 06.00. Setelah menunggu beberapa lama, rombongan pesepeda lipat segera berangkat menuju Jogja kawasan utara. Melalui Jalan Kaliurang yang sedikit demi sedikit menanjak nggak habis-habis.

Sebenernya saya lumayan nekad loh ngikut rombongan ini, secara ya pesepeda yang ikutan udah pada senior dan kelas balap. Hehe. Padahal soal kecepatan, saya masih kurang banget. Untung ada mas suamik yang setia menemani. 🙂

Terbukti, belum juga sampai di Jakal kilometer 10, rombongan udah terpisah. Saya tentu saja di kelompok belakang dan memutuskan untuk istirahat di km 14 di UII. Begitu saya dan Mas Nug mulai jalan lagi, udah gak keliatan deh rombongan depan. Hehe.

Sampai di pertigaan Pakem, kami belok ke kiri menuju Warung Ijo mengisi perbekalan. Kemudian lanjut naik melalui Jalan Turi yang di sepanjang jalannya banyak terdapat kebun salak. Ya, daerah Turi dikenal sebagai penghasil salak di Yogyakarta. Jalan ini adalah jalur menuju Bukit Turgo yang sering dipake arena downhill.

Ternyata eh ternyata, kami salah persepsi nih, rombongan tidak menuju ke Bukit Turgo tapi ke Gardu Pandang Turgo untuk ngeliat Taman Lampion yang sering disebut Festival of Lights. Sebuah annual event yang digelar tiap jelang akhir tahun hingga awal tahun.

Waduh, tapi udah terlanjur sampai atas, masa ya turun. Ya sudah, saya dan Mas Nug tetap gowes dan mencari jalan tembus menuju Gardu Pandang.

Rupanya salah jalur membawa hikmah. Kami malah bisa melalui Jembatan Gantung Kali Boyong, yang terletak di Dusun Boyong, Pakem, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Jembatan ini hanya bisa dilalui mobil dari satu arah. Kalo motor atau sepeda masih bisa dari dua arah. Jadi, kalo ada mobil lewat, harus bergantian dan sabar mengantri. Di ujung jembatan pun juga ada ‘gapura’ besi dengan lebar dan tinggi 2 meter untuk membatasi ukuran mobil yang bisa melalui jembatan. Jadi kalo truk ga bakal bisa lewat.

Perjalanan kami lanjutkan dan tembus ke Jalan Boyong. Ga sengaja juga kami sampai ke Museum Ullen Sentalu. Sebenernya kami berniat untuk masuk, melihat-lihat barang sebentar. Tapi sayangnya tidak ada parkiran sepeda yang representatif. Sekadar diparkir dan tanpa penjagaan. Jadi kami hanya sampai area depan pintu masuk museum.

Selanjutnya kami bersegera menuju Gardu Pandang untuk melihat lampion di siang hari. Haha, liat lampion kok pas daylight ya. Tanjakan demi tanjakan kami lalui, walaupun dengkul udah terasa pegal. Tapi, adrenalin terpompa karena tujuan tinggal di depan mata.

Akhirnya sampai juga di Gardu Pandang Turgo. Mungkin karena udah lelah, kami lebih banyak duduk dan berfoto secukupnya. Istirahat sambil makan jadah, tempe, dan wajik, kuliner khas Kaliurang. Cukup membayar Rp.20.000,- udah dapat sepaket jadah tempe dan 7 buah wajik coklat.

By the way, lampion tidak hanya dijumpai di Gardu Pandang tapi juga di beberapa titik sekitar Kaliurang. Sepertinya masing-masing Rukun Tetangga (RT) juga membuat lampion untuk dilombakan.

Nah, kalo sudah sampai Kaliurang sayang kalo nggak mampir ke Taman Kaliurang. Yaitu taman bermain yang menurut sejarah digunakan sebagai tempat peristirahatan keluarga Hamengku Buwono XIII, kemudian sejak Sri Sultan HB IX naik tahta, taman dibuka untuk umum. Kami berfoto sebentar di gerbang masuk, kemudian meluncur turun untuk pulang. Lelah memang terasa, namun terbayar lunas dengan rasa senang di hati. 

Gowes sampai Gardu Pandang Turgo dan Taman Kaliurang adalah pengalaman dan pencapaian baru untuk saya, sehingga perlu dicatat dan ditulis di blog. Selain itu, gowes uphill kali ini telah menutup 2016 dengan sangat me-nye-nang-kan. 🙂

Alhamdulillah.

 

PS : Klik foto untuk perbesar. Baca juga postingan Gowes Uphill : Kaliurang dan Sekitarnya bagian 1.

Kilas Balik 2016

Hari pertama di tahun yang baru, 1 Januari 2017. Postingan pertama di tahun ini berisikan kilas balik 2016. Semacam tradisi di blog ini, selalu ada postingan semacam kaleidoskop peristiwa setahun terakhir.

Ada susah ada senang, seperti halnya ada siang ada malam. Ga bisa dipisahin kayak dua sisi mata uang.

 

1. Kehilangan. 

Rizqi di kala sehat. Foto diambil bulan Mei 2015, sekitar 3 bulan sebelum mulai sakit.

Tahun ini memiliki catatan penting bagi keluarga besar kami. Berpulangnya salah satu dari kami, yaitu keponakan saya, anak dari kakak sulung saya. Muhammad Nur Rizqi, telah berjuang dengan penuh semangat menjalani takdirnya melawan modulloblastoma (tumor otak) selama 1 tahun yaitu sekitar Agustus 2015 – Juli 2016.

Berjuang melalui rasa sakit dan serangkaian proses medis demi kesembuhan. Allah memberikan kesembuhan abadi, dengan memanggilnya pulang ketika Rizqi berusia 7 tahun 8 bulan. Sebuah tulisan saya posting untuk mengenang keponakan tersayang ada di sini.

Satu pelajaran penting yang saya dapat, bahwa setiap saat kita harus siap dengan kehilangan orang-orang tercinta, begitu juga sebaliknya. Bahwa mereka pun juga bisa kehilangan kita suatu saat nanti. Sedih ya, kalo membayangkan perpisahan itu. Namun kematian adalah sesuatu yang pasti, tidak bisa dihindari, tidak bisa ditunda, tidak bisa pula dipercepat.

Kematian adalah pemutus segala nikmat sekaligus sebaik-baiknya nasihat.

 

2. Diet Sosmed. 

Tahun ini saya memulai sebuah diet, yaitu sedikit demi sedikit mengurangi aktivitas di media sosial. Dimulai dengan menghapus beberapa akun yang saya miliki, seperti path, twitter, instagram, linkedin, dan foursquare. Tapi masih mempertahankan facebook dan blog ini.

Saya menghabiskan banyak waktu untuk main sosmed. Ketika masih punya instagram, saya suka banget ngeliat toko-toko online. Hehe, belanja tiada henti. Ngeliat selebgram yang tampil keren dan cantik, trus kepengen juga beli ini-itu. Selain itu, saya suka mampir ke akun yang berisi hal-hal kurang bermanfaat, yaitu gosip yang membuat saya jadi ngepoin beberapa akun.

Kayaknya sih sepele yah, tapi emang sayanya yang kurang bisa kontrol waktu saat main sosmed. Sejam-dua jam terlewati tanpa melakukan hal yang bermanfaat.

Belum lagi dengan banyaknya perang opini tentang berbagai isu panas, terutama soal politik. Namun saya memilih diam karena sadar pengetahuan dan pemahaman saya masih cetek sebatas permukaan saja. Bukan berarti saya apatis dan tidak peduli, saya pun tetap memiliki keberpihakan yang cukup saya diskusikan secara offline dengan orang-orang di sekitar saya.

Pada akhirnya, saya semakin bersyukur memutuskan untuk diet sosmed. Mendingan posting foto-foto gowes aja deh. 🙂

 

3. Semangat gowes.

Sabtu, 31 Desember 2016. Gowes penutup ahir tahun, seputar Kalirang (Jembatan Boyong, Museum Ullen Sentalu, Gradu Pandang dan Taman Kaliurang).
Sabtu, 31 Desember 2016. Gowes penutup ahir tahun, seputar Kalirang (Jembatan Boyong, Museum Ullen Sentalu, Gardu Pandang Turgo dan Taman Kaliurang).

Tahun 2016 memberi banyak pengalaman baru dalam bersepeda. Mulai berani gowes nanjak, mengambil jarak yang jauhan, maupun mencoba jenis sepeda baru selain sepeda lipat.

Di blog ini saya sempat bikin postingan tentang gowes, yaitu ke Kali Kuning Plunyon, ke Borobudur PP, gowes Jogja-Kebumen, serta ke Kaliurang dan sekitarnya.

Cuman, ya gitu. Saya belum bisa recovery dengan cepat. Sehari setelah gowes yang lumayan berat (untuk ukuran saya), saya lebih banyak istirahat aja di rumah. Jadi, belum cocok ikutan event touring lebih dari satu hari. Bisa tepar. Hehe.

Masih harus belajar untuk menjaga stamina, dengan konsisten cukup istirahat, makan minum dengan gizi berimbang.

Sebenernya apa sih yang saya cari di sini?

Nggak, saya nggak cari apa-apa di gowes. Justru saya menemukan sesuatu, yaitu apa yang saya suka. Biar badan capek, hati senang dan lebih fresh di pikiran. Sekaligus jadi quality time sama suami, Mas Nug yang juga suka gowes. Trus bisa tidur nyenyak dan makan dengan enak. Saya nggak pengen apa-apa selain sehat dan pengalaman baru.

Itu aja. 🙂


4. Satu dekade pengabdian. 

Bersama temen kantor saat bertugas di sebuah acara.

Sepuluh tahun yang lalu, tepatnya 1 Juni 2006, saya memulai sebuah babak baru kehidupan, yaitu bekerja menjadi Pegawai Negeri Sipil.

Walaupun tidak pernah bercita-cita jadi PNS, sungguh saya bersyukur Allah kasih jalan ini. Di pekerjaan ini pun, saya belajar banyak hal. Saya yang ga punya background ilmu ekonomi akuntansi, ternyata bisa juga kerja ngurusin keuangan kantor. Trus sesekali tugas acara, dari bawa baki, ngurusin konsumsi sampai ngemsi, hayuk aja. 

Setelah 10 tahun bekerja, saat ini saya masih berada di posisi yang sama. Jadi staf di instansi yang sama pula. Geser-geser dikit di ketugasan aja. Gak bosen? Nggak, biasa aja.

Kalo jenuh melanda, saya rasa itu lumrah dan normal. Makanya, penting banget untuk punya hobi. Seperti yang saya bilang sebelumnya, abis gowes hati senang pikiran fresh. Ketika balik ke rutinitas kerja, mood udah bagus.

Gak kepikiran soal karir? Hm, belum berkesempatan, belum berminat, go with the flow. Santai kayak di pantai. Nggak takut stagnan? Nggak juga. Nanti kalo terlalu sibuk, ga sempat gowes. #eh 😀 

Saya dan Mas Nug juga pernah berdiskusi soal ini, kami sepakat biarlah suami yang memiliki peran utama di ekonomi keluarga. Namun, sebagai seorang karyawan saya tetap berkewajiban untuk bekerja dengan baik, amanah dan bertanggung jawab.

Jalani, nikmati, dan syukuri. Alhamdulillah. 🙂

***

Tahun 2016 telah usai. Kalo pun ada harapan yang belum tercapai, tidak mengapa. Saya percaya itu baik untuk saya.

Tahun 2017 telah hadir. Selalu ada semangat dan harapan baru tiap kali tahun berganti. Seperti mendapat kesempatan baru untuk memperbaiki yang telah lalu.

Tapi jangan lupa, di tahun yang baru usia akan bertambah, namun umur makin berkurang. Perbaikan kualitas ibadah maupun muamalah kepada sesama juga harus dilakukan. Dunia ini semacam permainan dan tempat persinggahan semata. *ngomong sambil ngaca

Selamat datang 2017!

Gowes Uphill : Kaliurang dan sekitarnya

Kaliurang adalah kawasan di lereng Gunung Merapi yang menjadi salah satu destinasi wisata di Jogja bagian utara (Sleman). Udara dingin dan pemandangan hijau jadi hal yang pasti didapat kalo piknik ke sana.

Kaliurang juga jadi destinasi para pesepeda, untuk ngetes kemampuan gowes uphill. Tantangannya adalah jalan menanjak tiada henti sampai ke puncak. Saya pun juga pengen ngerasain gowes uphill, sekaligus untuk mengetahui progres yang udah saya capai setelah sekian lama punya hobby bersepeda.

 

Sabtu, 3 September 2016.

Kami gowes ke Omah Petruk yang terletak di Karangklethak, Hargobinangun, Pakem, Sleman, DIY. Bersebelahan dengan Sungai Boyong. Omah Petruk adalah fasilitas penginapan yang cocok untuk acara gathering, outbound dan berbagai kegiatan sejenisnya.

Jalur yang kami tempuh adalah Jalan Boyong. Sebelumnya sempat mampir dan isi perut di Warung Ijo, Pakem.

Saat kami ke sana, ada rombongan lain yang mengadakan outbound. Suasana yang sejuk dengan banyak pepohonan membuat nyaman dan segar. Saya berjalan mengelilingi area Omah Petruk untuk melihat fasilitas yang tersedia. Kamar-kamar yang disewakan berbentuk rumah-rumah kecil yang tersebar di beberapa sudut, dengan kamar mandi terpisah. Ada juga fasilitas ibadah berupa musholla dan ruang berdoa. Fasilitas kamar mandi ditempatkan di salah sudut area, dengan air bersih yang mengalir.

Di bagian tengah area terdapat kolam sedalam 1,5 meter dengan air pegunungan. Nggak terlalu besar sih kolamnya, tapi lumayanlah bisa buat ciblon atau kecipak-kecipuk main air.

Di berbagai sudut Omah Petruk, pengunjung disuguhi dengan karya seni patung. Katanya sih, karya seni yang dipajang bisa dibeli.

Setelah cukup puas ngerasain sejuknya Omah Petruk, rombongan berpisah. Tiga teman kami pulang, sedangkan saya dan mas Nug melanjutkan perjalanan menuju Tugu Urang.

Tugu Urang terletak di kawasan wisata Kaliurang, tepatnya di kilometer 24 Jalan Kaliurang. Tugu ini jadi semacam titik target para pesepeda. Puas rasanya udah sampai di sana, melewati tanjakan yang tiada habisnya.

Ketika sampai Tugu Urang, waktu sudah menunjukkan pukul 11.00, panas pake banget! Tapi saking senangnya sampe sana, foto-foto juga dijabanin. Maklum yah, baru sekali ini sampai sana. Hehe. Sepertinya pun, orang-orang di sekitar Tugu Urang udah biasa alias gak heran ngeliat pesepeda pota-poto di sana.

Matahari udah hampir tepat di atas kepala, artinya kami berdua harus segera pulang. Meluncur turun melalui Jalan Kaliurang, menyatu dengan hiruk pikuknya lalu lintas. Sampai rumah udah pukul 13.30.

 

Sabtu, 10 September 2016.

Masih penasaran dengan tanjakan, saya, mas Nug, Henry, dan Pepi gowes lagi ke utara. Kali ini menuju Museum Gunung Merapi yang di dalamnya memuat sejarah erupsi Gunung Merapi.

Lokasinya sedikit di atas Omah Petruk. Melalui jalan Boyong kami naik perlahan. Henry dan Pepi sudah jauh di depan, saya ditemani Mas Nug minthik-minthik merambat naik. Saking pelannya, jarak saya dan Henry sampai ke Museum Gunung Merapi adalah 30 menit loh. Pukul 09.00 tepat, saya sampai di sana.

Tiket masuk ke museum hanya Rp5.000,-. Banyak pengunjung dari luar Jogja dan anak-anak sekolah. Di dalam museum, pengunjung bisa melihat replika Gunung Merapi dan foto-fotonya dari masa ke masa. Dari erupsi satu ke erupsi selanjutnya. Seperti yang udah kita tahu, Merapi adalah salah satu gunung teraktif di dunia.

Paling menyentuh saya adalah sudut tentang erupsi tahun 2010. Secara saat itu dampaknya cukup besar dan mempengaruhi kehidupan masyarakat sekitar Merapi selama beberapa waktu. Replika rumah yang kena wedhus gembel atau awan panas, menimbulkan suasana gloomy yang menyayat.

Sekitar 1 jam kami di sana kemudian turun lewat Jalan Boyong yang aspalnya nggak halus dan rata. Kondisi seperti ini cukup berbahaya untuk sepeda tanpa suspensi depan seperti sepeda lipat dan road bike. Handling harus kuat untuk menjaga keseimbangan dan tentu saja tangan harus siap sedia untuk ngerem, mengingat sepeda meluncur turun dengan cepat.

Ban belakang sepeda Mas Nug bocor di turunan ini. Alhamdulillah bawa ban dalam serep dan alat congkel ban. Makanya sampai rumah udah siang banget, pukul 14.00.

***

Dari dua kali gowes uphill ini saya merasakan adanya progres yang cukup baik, yaitu tidak banyak berhenti untuk istirahat. Beda banget ketika awal tahun 2016 lalu, mencoba gowes uphill untuk pertama kalinya menuju Kalikuning Plunyon, yang selama perjalanan sering banget berhenti dan istirahat. Walaupun kalo bicara kecepatan, saya masih ketinggal jauh dari pesepeda lainnya. Tapi walaupun begitu saya tetap semangat kok, biar pelan asal sampai dengan selamat. Pantang pulang sebelum sampai tujuan.

Walaupun postingan ini termasuk latepost alias telat, tetap perlu saya buat untuk mencatat pencapaian saya sebagai atlet gowes hore. Hahaha.

Salam gowes, teman!

PS : semua foto milik pribadi, klik foto untuk perbesar.

Gowes Antar Kota Antar Provinsi

Satu lagi pengalaman seru saya gowes bareng teman-teman Jogja Folding Bike (JFB). Kamis, 5 Mei 2016 adalah hari pertama long weekend kali ini. JFB punya agenda gowes ke Purwokerto, Jawa Tengah.

Peserta terdiri dari 2 grup. Grup 1 gowes Jogja-Kebumen, langsung pulang ke Jogja naik bis, grup 2 lanjut gowes ke Gombong untuk bermalam, trus finish di Purwokerto. Saya ikut grup 1.

Pagi-pagi kami semua ketemuan di Sasono Hinggil, Alun-alun Selatan pukul 6 pagi untuk briefing dan tentu saja berdoa bersama. Sekitar 6.30 kami start gowes menuju arah selatan Jogja. Melalui Jalan Bantul, Jalan Srandakan, dan lanjut lewat Jalan Daendels jalur selatan.

Sebenernya ini pengalaman kedua saya gowes AKAP. Yang pertama adalah gowes ke Borobudur, Magelang yang pernah saya tulis di sini. Tapi keduanya memberi pengalaman yang berbeda.

Gowes bareng mereka yang udah punya banyak pengalaman touring itu sempat bikin saya keder dan ga pede. Takut ga bisa mengimbangi speed, bakal lemes, dan ngrepotin teman yang lain. Tapi, bismillah ikut dengan persiapan carbo loading yang cukup dan sepeda dipastikan dalam kondisi prima.

Selain makan cukup dan sepeda yang prima, ternyata ada hal lain yang perlu dipelajari untuk gowes jarak jauh. Yaitu shifting, itu loh mindah-mindahin gigi. Supaya tidak mudah capek dan menghemat tenaga karena perjalanan masih jauh.

Goweser perempuan yang ikut cuman berdua, saya dan Mbak Dyah. Beliau pernah ikutan Srikandi 5 gowes dari Bima, NTB – Denpasar, Bali sejauh 700 km. Wow banget. Nah, mbak Dyah ini yang sering ngasih saran ke saya soal shifting, nggak cuman pas gowes kali ini aja tapi juga di kesempatan gowes sebelumnya. And I really appreciate it.

Rombongan berhenti beberapa kali, tidak hanya untuk istirahat dan mengisi perbekalan tapi juga regrouping. Secara ada yang di depan dan jauh di belakang. Hihi, saya tuh yang di belakang. Terutama saat melalui Jalan Daendels yang sedang diperbaiki dan saat-saat setelahnya.

Ya, melalui Jalan Daendels yang nggronjal-nggronjal tiada tara itu betul-betul menguras energi saya. Konsentrasi penuh, handling juga harus lebih kuat supaya sepeda tetap stabil. Selepas dari jalan Daendels, mulai ketinggalan deh saya.

Pas adzan Dhuhur kami mulai memasuki Kecamatan Ambal, Kabupaten Kebumen. Pemberhentian kami selanjutnya adalah makan siang dengan menu khas Kebumen, Sate Ambal. Bedanya dengan sate ayam lain adalah pada bumbu kacangnya yang dicampur tempe dan terasa pedas. Kalo sate ayam yang biasa kita makan adalah Sate Madura dengan bumbu kacang manis.

Setelah istirahat makan dan sholat dirasa cukup, kami melanjutkan perjalanan. Pada suatu persimpangan, kami berpisah. Grup 1 yang terdiri dari Mas Bobby, Mas Ganang, Mas Pras, Om Dedi, Mas Franky, Mas Nug, dan saya menuju ke rest area Bus Efisiensi. Sedangkan grup 2 yang terdiri dari Mbak Dyah, Om Chandra, mas Kardjok, dan Mas Irfan lanjut menuju Gombong untuk bermalam di sana dan meneruskan ke titik finish yaitu Purwokerto di keesokan harinya.

Total jarak yang saya tempuh dari rumah di Jogja sampai ke rest area Bus Efisiensi Kebumen adalah 113,5 km. Sedangkan grup 2 menempuh jarak Jogja-Kebumen-Gombong 128 km ditambah Gombong-Purwokerto 57 km.

Nah, keunggulan sepeda lipat adalah bisa dilipat. Ya iyalah. Kami grup 1 pulang ke Jogja dengan bis Efisiensi, tiketnya 60 ribu/orang dan 25 ribu/sepeda. Alhamdulillah semua sampai di rumah dengan sehat dan selamat.

Trus, apakabar keesokan harinya? Hehe, Jumat-nya saya cuman makan dan tidur. Belum biasa nih gowes jarak jauh. Recovery dari rasa capek perlu sehari, aduh gimana kalo mau touring berhari-hari ya? Harus menambah jam gowes.

Trus beda gowes AKAP kali ini dengan gowes ke Borobudur waktu itu apa? Saat gowes ke Borobudur, saya ‘manja’ banget karena persiapan carbo loading nya kurang, sering berhenti. Orang lain yang menyesuaikan ke saya. Kurang persiapan tidak hanya merugikan diri sendiri, tapi juga teman seperjalanan.

Sejak bergabung dengan Jogja Folding Bike, saya memiliki banyak pengalaman baru dalam bersepeda. Termasuk gowes ke Kebumen kali ini. Seru, menantang, tapi tetap menyenangkan! Terima kasih JFB!

Last but not least, syukur alhamdulillah diberi nikmat sehat, yang semoga bermanfaat menjadikan kami semakin taat pada-Nya.

PS : Foto diambil dari berbagai sumber (Mbak Dyah, Mas Franky, Mas Nug dan saya). Klik foto untuk perbesar.

Bike To Borobudur

Setelah minggu lalu saya gowes ke Kalikuning, Plunyon, Sleman, kali ini saya gowes ke Candi Borobudur yang terletak di Magelang, Jawa Tengah. Tepatnya Sabtu, 30 Januari 2016. Perjalanan ini adalah gowes lintas provinsi yang pertama bagi saya.

Borobudur sepertinya cukup populer dijadikan destinasi bagi goweser atau pesepeda dari Jogja. Saya pun juga ingin mencoba ditemani Mas Nug, suami saya dan seorang teman, Henry.

Saya dan Mas Nug berangkat dari rumah pukul 05.30 kurang. Titik kumpul di perempatan ringroad Jakal. Istirahat sebentar dan lanjut ke Borobudur.

Jalan yang dilalui adalah aspal halus. Ya, sepanjang jalan. Jadi semua jenis sepeda bisa melalui jalur ini. Ketika berangkat, jalanan relatif menanjak walaupun tidak tajam. Beberapa kali saya berhenti untuk istirahat makan dan minum, otomatis mas Nug dan Henry juga ikut berhenti. Hehe, ngajak saya gowes tuh ngrepotin banget lah. Banyak berhentinya.

Kami juga sempatkan berhenti di Candi Mendut, yang lokasinya tidak jauh dari Candi Borobudur. Kawasan ini cukup ramai oleh wisatawan dan anak-anak sekolah yang berdarma wisata. Sayangnya, sepeda tidak boleh masuk ke kawasan candi. Foto-foto hanya bisa dilakukan di luar pagar.

Sekitar pukul 09.00 kami tiba di Borobudur. Berfoto adalah kewajiban, sebagai bukti kalo kami sudah sampai di sana. Sekaligus istirahat plus memperbarui olesan sunblock di wajah. Hehe, iya emang perlu sunblock mengingat teriknya matahari. Seperti halnya di Candi Mendut, sepeda juga dilarang masuk ke area candi.

Perjalanan pulang terasa lebih berat, panasnya itu loh. Harus banyak-banyak minum daripada dehidrasi. Selain itu, sangat disarankan menggunakan penutup wajah dan kacamata hitam. Kalo ga pake kacamata, berasa banget silau dari cahaya matahari. Silau yang berlebih bisa bikin pusing.

Kami sempat mampir ke Bakso Balungan “Pak Granat” di jalan Magelang. Kami memesan Mie Ayam Bakso. Sayang lupa difoto, udah keburu lapar. Recommended banget dan ternyata sudah cukup populer untuk pecinta kuliner. Search aja di maps, udah ada kok.

Sesampainya di ringroad Jalan Magelang, Henry memisahkan diri melanjutkan perjalanan ke Prambanan. Ya, rumah dia di daerah Prambanan. Sedangkan kami melalui jalur perkotaan yang ramenya masya Allah, plus panas matahari.

Resume gowes ke Borobudur pergi pulang adalah 100,68 km, dengan total waktu sekitar 8 jam, moving time 5 jam 33 menit. Sisanya atau 2,5 jam buat berhenti istirahat dan foto-foto.

Akhirnya, pecah juga angka 100 km. This is my first 100 km! Walaupun pelan-pelan dan banyak berhenti. Lagian ini gowes santai dan hore-hore saja. #menghiburdiri 😄

Terimakasih buat Mas Nug dan Henry yang ‘ngemong’ saya, ikut berhenti dan sabar menunggu saya.