Folding Bike vs Mountain Bike

Halo, apa kabar? Sudah hampir 2 bulan blog ini nggak ada postingan baru.

Nah, mumpung long weekend saya akan membuat sebuah review tentang 2 jenis sepeda yang saya gunakan yaitu folding bike atau sepeda lipat (si orens) dan mountain bike atau sepeda gunung (si pinky). Review atau ulasan ini sangat bersifat subyektif karena berdasar pengalaman pribadi saya menggunakan dua jenis sepeda tersebut.

Baik, kita mulai saja ya.

 

Si Orens

Si orens adalah sepeda lipat kedua, sebelumnya pake Si Kuning yang pernah saya review di sini.

Saat ini saya menggunakan sepeda lipat Tern seri Link D16 warna kombinasi orens dan putih, dibeli akhir tahun 2015 setelah saya dan mas Nug ikutan Jamselinas V di Solo. Spesifikasi roda berukuran 20 inch dan menggunakan ban kojak (sleek tanpa kembang). Speed 2 x 8, udah upgrade crank yang lebih ringan dari bawaan aslinya.

Sepeda lipat ini cukup sering saya gunakan sejak awal 2016 mengunjungi berbagai tempat di Jogja dan sekitarnya. Beberapa di antaranya gowes uphill ke Plunyon dan Kaliurang, juga mini touring Jogja-Kebumen.

Pengalaman saat gowes nanjak, si orens cukup lincah dan ringan. Kalopun beberapa kali saya berhenti untuk istirahat, lebih karena dengkul saya yang belum di-upgrade. Bukan karena sepedanya. Hehe. Cuman ya gitu, harus ektra hati-hati saat gowes turun dengan sepeda lipat, mengingat gak ada suspensi sehingga getaran sangat terasa. Handling harus lebih kuat.

Saat si orens dibawa gowes jarak jauh pun juga sangat nyaman, terutama melalui jalan aspal halus. Kelebihan ban kojak yang halus tanpa kembang adalah meminimalkan gesekan ban dengan aspal. Jadi bisa ngebut. Kalopun saya tetap dengan speed rendah, mungkin karbo loading-nya kurang. Hahaha.

Dulu, saya sempat berpikiran bahwa sepeda lipat itu hanya untuk santai kota-kota semata, tapi ternyata bisa juga dipake untuk jarak jauh. Roda yang kecil membuat sepeda jenis ini lincah bermanuver saat di jalanan padat, nyelip sana-sini.

Belum lama ini, si Orens dimodifikasi dengan memotong sekitar 5 cm tinggi handlepost-nya. Handlepost itu tiang penyangga setang. Ya, kekurangan Tern Link D16 itu adalah handlepost yang fix gak bisa dinaik-turunin. Setelah dipotong 5 cm, posisi berkendara saya lebih membungkuk ke depan dan lebih nyaman.

Atas : sebelum handlepost dipotong
Bawah : sesudah handlepost dipotong

 

Si Pinky

Si Pinky adalah mountain bike (MTB) anggota keluarga baru di rumah sejak Januari 2017 lalu, menggantikan city bike saya yang berwarna putih. Si Pinky menggunakan frame Polygon Cleo 2, sedangkan part lainnya diambil dari Kona Cindercone 2012. Cuman frame-nya aja yang diganti. Ukuran roda 26 inch, dengan ban Kenda yang banyak kembangnya. Speed 3 x 9 dan suspensi depan Rock Sox.

Si Pinky belum terlalu sering saya pake, tapi udah sempat saya ajak gowes uphill ke Hutan Pinus Dlinggo dan Kaliurang.

Namanya juga mountain bike ya, jadi emang terasa banget bedanya saat gowes uphill. Lebih ‘antep’ walaupun melalui medan yang terjal atau blusukan. Setang yang lebih lebar serta adanya suspensi depan membuat saya percaya diri saat gowes turun. Getaran bisa diredam dan handling jadi terasa lebih nyaman.

Ban dengan banyak kembang memungkinkan untuk jalan yang kasar atau berbatu, gak gampang selip. Tapi kalo dipake di jalan aspal halus, jadi terasa lebih lengket dan berat.

Si Pinky sampai juga ke Tugu Urang

***

 

Anyway, sebenernya masih ada 1 jenis sepeda lagi yang juga saya cobain, yaitu road bike. Saya menggunakan Polygon Helios 100 dengan flatbar atau setang datar. Jujur yak, saya belum bisa menemukan kenyamanan pake sepeda jenis ini. Mungkin karena saya belum terbiasa dan masih perlu penyesuaian. Sempat gowes dengan sepeda ini ke Tebing Breksi.

Gowes dengan Road Bike ke Tebing Breksi

Setiap jenis sepeda memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing dengan peruntukan medan yang berbeda. Jadi memang nggak bisa dibandingkan. Semakin ke sini, saya juga jadi sedikit lebih bisa merasakan bahwa memilih jenis sepeda itu tergantung tujuan penggunaannya.

Trus kalo tetep harus merangking berdasarkan pengalaman bersepeda, apa jawaban saya? Nomer 1 adalah sepeda lipat, runner-up adalah MTB, dan diikuti sepeda jenis lainnya. Boleh gak setuju, karena ini bersifat subyektif. 🙂

Advertisements

Gowes Uphill : Kaliurang dan Sekitarnya #2

Agenda wajib long weekend buat saya adalah gowes. Serasa ada yang kurang lengkap jika liburan ga dipake gowes, kecuali kalo ga kepaksa banget, ya. Bisa kok saya gak liburan keluar kota, cukup gowes seputar Jogja udah bahagia.

Sabtu, 31 Desember 2016 lalu, Jogja Folding Bike punya agenda gowes ke Turgo Hill.

Titik kumpul di Bunderan UGM pukul 06.00. Setelah menunggu beberapa lama, rombongan pesepeda lipat segera berangkat menuju Jogja kawasan utara. Melalui Jalan Kaliurang yang sedikit demi sedikit menanjak nggak habis-habis.

Sebenernya saya lumayan nekad loh ngikut rombongan ini, secara ya pesepeda yang ikutan udah pada senior dan kelas balap. Hehe. Padahal soal kecepatan, saya masih kurang banget. Untung ada mas suamik yang setia menemani. 🙂

Terbukti, belum juga sampai di Jakal kilometer 10, rombongan udah terpisah. Saya tentu saja di kelompok belakang dan memutuskan untuk istirahat di km 14 di UII. Begitu saya dan Mas Nug mulai jalan lagi, udah gak keliatan deh rombongan depan. Hehe.

Sampai di pertigaan Pakem, kami belok ke kiri menuju Warung Ijo mengisi perbekalan. Kemudian lanjut naik melalui Jalan Turi yang di sepanjang jalannya banyak terdapat kebun salak. Ya, daerah Turi dikenal sebagai penghasil salak di Yogyakarta. Jalan ini adalah jalur menuju Bukit Turgo yang sering dipake arena downhill.

Ternyata eh ternyata, kami salah persepsi nih, rombongan tidak menuju ke Bukit Turgo tapi ke Gardu Pandang Turgo untuk ngeliat Taman Lampion yang sering disebut Festival of Lights. Sebuah annual event yang digelar tiap jelang akhir tahun hingga awal tahun.

Waduh, tapi udah terlanjur sampai atas, masa ya turun. Ya sudah, saya dan Mas Nug tetap gowes dan mencari jalan tembus menuju Gardu Pandang.

Rupanya salah jalur membawa hikmah. Kami malah bisa melalui Jembatan Gantung Kali Boyong, yang terletak di Dusun Boyong, Pakem, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Jembatan ini hanya bisa dilalui mobil dari satu arah. Kalo motor atau sepeda masih bisa dari dua arah. Jadi, kalo ada mobil lewat, harus bergantian dan sabar mengantri. Di ujung jembatan pun juga ada ‘gapura’ besi dengan lebar dan tinggi 2 meter untuk membatasi ukuran mobil yang bisa melalui jembatan. Jadi kalo truk ga bakal bisa lewat.

Perjalanan kami lanjutkan dan tembus ke Jalan Boyong. Ga sengaja juga kami sampai ke Museum Ullen Sentalu. Sebenernya kami berniat untuk masuk, melihat-lihat barang sebentar. Tapi sayangnya tidak ada parkiran sepeda yang representatif. Sekadar diparkir dan tanpa penjagaan. Jadi kami hanya sampai area depan pintu masuk museum.

Selanjutnya kami bersegera menuju Gardu Pandang untuk melihat lampion di siang hari. Haha, liat lampion kok pas daylight ya. Tanjakan demi tanjakan kami lalui, walaupun dengkul udah terasa pegal. Tapi, adrenalin terpompa karena tujuan tinggal di depan mata.

Akhirnya sampai juga di Gardu Pandang Turgo. Mungkin karena udah lelah, kami lebih banyak duduk dan berfoto secukupnya. Istirahat sambil makan jadah, tempe, dan wajik, kuliner khas Kaliurang. Cukup membayar Rp.20.000,- udah dapat sepaket jadah tempe dan 7 buah wajik coklat.

By the way, lampion tidak hanya dijumpai di Gardu Pandang tapi juga di beberapa titik sekitar Kaliurang. Sepertinya masing-masing Rukun Tetangga (RT) juga membuat lampion untuk dilombakan.

Nah, kalo sudah sampai Kaliurang sayang kalo nggak mampir ke Taman Kaliurang. Yaitu taman bermain yang menurut sejarah digunakan sebagai tempat peristirahatan keluarga Hamengku Buwono XIII, kemudian sejak Sri Sultan HB IX naik tahta, taman dibuka untuk umum. Kami berfoto sebentar di gerbang masuk, kemudian meluncur turun untuk pulang. Lelah memang terasa, namun terbayar lunas dengan rasa senang di hati. 

Gowes sampai Gardu Pandang Turgo dan Taman Kaliurang adalah pengalaman dan pencapaian baru untuk saya, sehingga perlu dicatat dan ditulis di blog. Selain itu, gowes uphill kali ini telah menutup 2016 dengan sangat me-nye-nang-kan. 🙂

Alhamdulillah.

 

PS : Klik foto untuk perbesar. Baca juga postingan Gowes Uphill : Kaliurang dan Sekitarnya bagian 1.

Kilas Balik 2016

Hari pertama di tahun yang baru, 1 Januari 2017. Postingan pertama di tahun ini berisikan kilas balik 2016. Semacam tradisi di blog ini, selalu ada postingan semacam kaleidoskop peristiwa setahun terakhir.

Ada susah ada senang, seperti halnya ada siang ada malam. Ga bisa dipisahin kayak dua sisi mata uang.

 

1. Kehilangan. 

Rizqi di kala sehat. Foto diambil bulan Mei 2015, sekitar 3 bulan sebelum mulai sakit.

Tahun ini memiliki catatan penting bagi keluarga besar kami. Berpulangnya salah satu dari kami, yaitu keponakan saya, anak dari kakak sulung saya. Muhammad Nur Rizqi, telah berjuang dengan penuh semangat menjalani takdirnya melawan modulloblastoma (tumor otak) selama 1 tahun yaitu sekitar Agustus 2015 – Juli 2016.

Berjuang melalui rasa sakit dan serangkaian proses medis demi kesembuhan. Allah memberikan kesembuhan abadi, dengan memanggilnya pulang ketika Rizqi berusia 7 tahun 8 bulan. Sebuah tulisan saya posting untuk mengenang keponakan tersayang ada di sini.

Satu pelajaran penting yang saya dapat, bahwa setiap saat kita harus siap dengan kehilangan orang-orang tercinta, begitu juga sebaliknya. Bahwa mereka pun juga bisa kehilangan kita suatu saat nanti. Sedih ya, kalo membayangkan perpisahan itu. Namun kematian adalah sesuatu yang pasti, tidak bisa dihindari, tidak bisa ditunda, tidak bisa pula dipercepat.

Kematian adalah pemutus segala nikmat sekaligus sebaik-baiknya nasihat.

 

2. Diet Sosmed. 

Tahun ini saya memulai sebuah diet, yaitu sedikit demi sedikit mengurangi aktivitas di media sosial. Dimulai dengan menghapus beberapa akun yang saya miliki, seperti path, twitter, instagram, linkedin, dan foursquare. Tapi masih mempertahankan facebook dan blog ini.

Saya menghabiskan banyak waktu untuk main sosmed. Ketika masih punya instagram, saya suka banget ngeliat toko-toko online. Hehe, belanja tiada henti. Ngeliat selebgram yang tampil keren dan cantik, trus kepengen juga beli ini-itu. Selain itu, saya suka mampir ke akun yang berisi hal-hal kurang bermanfaat, yaitu gosip yang membuat saya jadi ngepoin beberapa akun.

Kayaknya sih sepele yah, tapi emang sayanya yang kurang bisa kontrol waktu saat main sosmed. Sejam-dua jam terlewati tanpa melakukan hal yang bermanfaat.

Belum lagi dengan banyaknya perang opini tentang berbagai isu panas, terutama soal politik. Namun saya memilih diam karena sadar pengetahuan dan pemahaman saya masih cetek sebatas permukaan saja. Bukan berarti saya apatis dan tidak peduli, saya pun tetap memiliki keberpihakan yang cukup saya diskusikan secara offline dengan orang-orang di sekitar saya.

Pada akhirnya, saya semakin bersyukur memutuskan untuk diet sosmed. Mendingan posting foto-foto gowes aja deh. 🙂

 

3. Semangat gowes.

Sabtu, 31 Desember 2016. Gowes penutup ahir tahun, seputar Kalirang (Jembatan Boyong, Museum Ullen Sentalu, Gradu Pandang dan Taman Kaliurang).
Sabtu, 31 Desember 2016. Gowes penutup ahir tahun, seputar Kalirang (Jembatan Boyong, Museum Ullen Sentalu, Gardu Pandang Turgo dan Taman Kaliurang).

Tahun 2016 memberi banyak pengalaman baru dalam bersepeda. Mulai berani gowes nanjak, mengambil jarak yang jauhan, maupun mencoba jenis sepeda baru selain sepeda lipat.

Di blog ini saya sempat bikin postingan tentang gowes, yaitu ke Kali Kuning Plunyon, ke Borobudur PP, gowes Jogja-Kebumen, serta ke Kaliurang dan sekitarnya.

Cuman, ya gitu. Saya belum bisa recovery dengan cepat. Sehari setelah gowes yang lumayan berat (untuk ukuran saya), saya lebih banyak istirahat aja di rumah. Jadi, belum cocok ikutan event touring lebih dari satu hari. Bisa tepar. Hehe.

Masih harus belajar untuk menjaga stamina, dengan konsisten cukup istirahat, makan minum dengan gizi berimbang.

Sebenernya apa sih yang saya cari di sini?

Nggak, saya nggak cari apa-apa di gowes. Justru saya menemukan sesuatu, yaitu apa yang saya suka. Biar badan capek, hati senang dan lebih fresh di pikiran. Sekaligus jadi quality time sama suami, Mas Nug yang juga suka gowes. Trus bisa tidur nyenyak dan makan dengan enak. Saya nggak pengen apa-apa selain sehat dan pengalaman baru.

Itu aja. 🙂


4. Satu dekade pengabdian. 

Bersama temen kantor saat bertugas di sebuah acara.

Sepuluh tahun yang lalu, tepatnya 1 Juni 2006, saya memulai sebuah babak baru kehidupan, yaitu bekerja menjadi Pegawai Negeri Sipil.

Walaupun tidak pernah bercita-cita jadi PNS, sungguh saya bersyukur Allah kasih jalan ini. Di pekerjaan ini pun, saya belajar banyak hal. Saya yang ga punya background ilmu ekonomi akuntansi, ternyata bisa juga kerja ngurusin keuangan kantor. Trus sesekali tugas acara, dari bawa baki, ngurusin konsumsi sampai ngemsi, hayuk aja. 

Setelah 10 tahun bekerja, saat ini saya masih berada di posisi yang sama. Jadi staf di instansi yang sama pula. Geser-geser dikit di ketugasan aja. Gak bosen? Nggak, biasa aja.

Kalo jenuh melanda, saya rasa itu lumrah dan normal. Makanya, penting banget untuk punya hobi. Seperti yang saya bilang sebelumnya, abis gowes hati senang pikiran fresh. Ketika balik ke rutinitas kerja, mood udah bagus.

Gak kepikiran soal karir? Hm, belum berkesempatan, belum berminat, go with the flow. Santai kayak di pantai. Nggak takut stagnan? Nggak juga. Nanti kalo terlalu sibuk, ga sempat gowes. #eh 😀 

Saya dan Mas Nug juga pernah berdiskusi soal ini, kami sepakat biarlah suami yang memiliki peran utama di ekonomi keluarga. Namun, sebagai seorang karyawan saya tetap berkewajiban untuk bekerja dengan baik, amanah dan bertanggung jawab.

Jalani, nikmati, dan syukuri. Alhamdulillah. 🙂

***

Tahun 2016 telah usai. Kalo pun ada harapan yang belum tercapai, tidak mengapa. Saya percaya itu baik untuk saya.

Tahun 2017 telah hadir. Selalu ada semangat dan harapan baru tiap kali tahun berganti. Seperti mendapat kesempatan baru untuk memperbaiki yang telah lalu.

Tapi jangan lupa, di tahun yang baru usia akan bertambah, namun umur makin berkurang. Perbaikan kualitas ibadah maupun muamalah kepada sesama juga harus dilakukan. Dunia ini semacam permainan dan tempat persinggahan semata. *ngomong sambil ngaca

Selamat datang 2017!

Gowes Antar Kota Antar Provinsi

Satu lagi pengalaman seru saya gowes bareng teman-teman Jogja Folding Bike (JFB). Kamis, 5 Mei 2016 adalah hari pertama long weekend kali ini. JFB punya agenda gowes ke Purwokerto, Jawa Tengah.

Peserta terdiri dari 2 grup. Grup 1 gowes Jogja-Kebumen, langsung pulang ke Jogja naik bis, grup 2 lanjut gowes ke Gombong untuk bermalam, trus finish di Purwokerto. Saya ikut grup 1.

Pagi-pagi kami semua ketemuan di Sasono Hinggil, Alun-alun Selatan pukul 6 pagi untuk briefing dan tentu saja berdoa bersama. Sekitar 6.30 kami start gowes menuju arah selatan Jogja. Melalui Jalan Bantul, Jalan Srandakan, dan lanjut lewat Jalan Daendels jalur selatan.

Sebenernya ini pengalaman kedua saya gowes AKAP. Yang pertama adalah gowes ke Borobudur, Magelang yang pernah saya tulis di sini. Tapi keduanya memberi pengalaman yang berbeda.

Gowes bareng mereka yang udah punya banyak pengalaman touring itu sempat bikin saya keder dan ga pede. Takut ga bisa mengimbangi speed, bakal lemes, dan ngrepotin teman yang lain. Tapi, bismillah ikut dengan persiapan carbo loading yang cukup dan sepeda dipastikan dalam kondisi prima.

Selain makan cukup dan sepeda yang prima, ternyata ada hal lain yang perlu dipelajari untuk gowes jarak jauh. Yaitu shifting, itu loh mindah-mindahin gigi. Supaya tidak mudah capek dan menghemat tenaga karena perjalanan masih jauh.

Goweser perempuan yang ikut cuman berdua, saya dan Mbak Dyah. Beliau pernah ikutan Srikandi 5 gowes dari Bima, NTB – Denpasar, Bali sejauh 700 km. Wow banget. Nah, mbak Dyah ini yang sering ngasih saran ke saya soal shifting, nggak cuman pas gowes kali ini aja tapi juga di kesempatan gowes sebelumnya. And I really appreciate it.

Rombongan berhenti beberapa kali, tidak hanya untuk istirahat dan mengisi perbekalan tapi juga regrouping. Secara ada yang di depan dan jauh di belakang. Hihi, saya tuh yang di belakang. Terutama saat melalui Jalan Daendels yang sedang diperbaiki dan saat-saat setelahnya.

Ya, melalui Jalan Daendels yang nggronjal-nggronjal tiada tara itu betul-betul menguras energi saya. Konsentrasi penuh, handling juga harus lebih kuat supaya sepeda tetap stabil. Selepas dari jalan Daendels, mulai ketinggalan deh saya.

Pas adzan Dhuhur kami mulai memasuki Kecamatan Ambal, Kabupaten Kebumen. Pemberhentian kami selanjutnya adalah makan siang dengan menu khas Kebumen, Sate Ambal. Bedanya dengan sate ayam lain adalah pada bumbu kacangnya yang dicampur tempe dan terasa pedas. Kalo sate ayam yang biasa kita makan adalah Sate Madura dengan bumbu kacang manis.

Setelah istirahat makan dan sholat dirasa cukup, kami melanjutkan perjalanan. Pada suatu persimpangan, kami berpisah. Grup 1 yang terdiri dari Mas Bobby, Mas Ganang, Mas Pras, Om Dedi, Mas Franky, Mas Nug, dan saya menuju ke rest area Bus Efisiensi. Sedangkan grup 2 yang terdiri dari Mbak Dyah, Om Chandra, mas Kardjok, dan Mas Irfan lanjut menuju Gombong untuk bermalam di sana dan meneruskan ke titik finish yaitu Purwokerto di keesokan harinya.

Total jarak yang saya tempuh dari rumah di Jogja sampai ke rest area Bus Efisiensi Kebumen adalah 113,5 km. Sedangkan grup 2 menempuh jarak Jogja-Kebumen-Gombong 128 km ditambah Gombong-Purwokerto 57 km.

Nah, keunggulan sepeda lipat adalah bisa dilipat. Ya iyalah. Kami grup 1 pulang ke Jogja dengan bis Efisiensi, tiketnya 60 ribu/orang dan 25 ribu/sepeda. Alhamdulillah semua sampai di rumah dengan sehat dan selamat.

Trus, apakabar keesokan harinya? Hehe, Jumat-nya saya cuman makan dan tidur. Belum biasa nih gowes jarak jauh. Recovery dari rasa capek perlu sehari, aduh gimana kalo mau touring berhari-hari ya? Harus menambah jam gowes.

Trus beda gowes AKAP kali ini dengan gowes ke Borobudur waktu itu apa? Saat gowes ke Borobudur, saya ‘manja’ banget karena persiapan carbo loading nya kurang, sering berhenti. Orang lain yang menyesuaikan ke saya. Kurang persiapan tidak hanya merugikan diri sendiri, tapi juga teman seperjalanan.

Sejak bergabung dengan Jogja Folding Bike, saya memiliki banyak pengalaman baru dalam bersepeda. Termasuk gowes ke Kebumen kali ini. Seru, menantang, tapi tetap menyenangkan! Terima kasih JFB!

Last but not least, syukur alhamdulillah diberi nikmat sehat, yang semoga bermanfaat menjadikan kami semakin taat pada-Nya.

PS : Foto diambil dari berbagai sumber (Mbak Dyah, Mas Franky, Mas Nug dan saya). Klik foto untuk perbesar.

Bike To Borobudur

Setelah minggu lalu saya gowes ke Kalikuning, Plunyon, Sleman, kali ini saya gowes ke Candi Borobudur yang terletak di Magelang, Jawa Tengah. Tepatnya Sabtu, 30 Januari 2016. Perjalanan ini adalah gowes lintas provinsi yang pertama bagi saya.

Borobudur sepertinya cukup populer dijadikan destinasi bagi goweser atau pesepeda dari Jogja. Saya pun juga ingin mencoba ditemani Mas Nug, suami saya dan seorang teman, Henry.

Saya dan Mas Nug berangkat dari rumah pukul 05.30 kurang. Titik kumpul di perempatan ringroad Jakal. Istirahat sebentar dan lanjut ke Borobudur.

Jalan yang dilalui adalah aspal halus. Ya, sepanjang jalan. Jadi semua jenis sepeda bisa melalui jalur ini. Ketika berangkat, jalanan relatif menanjak walaupun tidak tajam. Beberapa kali saya berhenti untuk istirahat makan dan minum, otomatis mas Nug dan Henry juga ikut berhenti. Hehe, ngajak saya gowes tuh ngrepotin banget lah. Banyak berhentinya.

Kami juga sempatkan berhenti di Candi Mendut, yang lokasinya tidak jauh dari Candi Borobudur. Kawasan ini cukup ramai oleh wisatawan dan anak-anak sekolah yang berdarma wisata. Sayangnya, sepeda tidak boleh masuk ke kawasan candi. Foto-foto hanya bisa dilakukan di luar pagar.

Sekitar pukul 09.00 kami tiba di Borobudur. Berfoto adalah kewajiban, sebagai bukti kalo kami sudah sampai di sana. Sekaligus istirahat plus memperbarui olesan sunblock di wajah. Hehe, iya emang perlu sunblock mengingat teriknya matahari. Seperti halnya di Candi Mendut, sepeda juga dilarang masuk ke area candi.

Perjalanan pulang terasa lebih berat, panasnya itu loh. Harus banyak-banyak minum daripada dehidrasi. Selain itu, sangat disarankan menggunakan penutup wajah dan kacamata hitam. Kalo ga pake kacamata, berasa banget silau dari cahaya matahari. Silau yang berlebih bisa bikin pusing.

Kami sempat mampir ke Bakso Balungan “Pak Granat” di jalan Magelang. Kami memesan Mie Ayam Bakso. Sayang lupa difoto, udah keburu lapar. Recommended banget dan ternyata sudah cukup populer untuk pecinta kuliner. Search aja di maps, udah ada kok.

Sesampainya di ringroad Jalan Magelang, Henry memisahkan diri melanjutkan perjalanan ke Prambanan. Ya, rumah dia di daerah Prambanan. Sedangkan kami melalui jalur perkotaan yang ramenya masya Allah, plus panas matahari.

Resume gowes ke Borobudur pergi pulang adalah 100,68 km, dengan total waktu sekitar 8 jam, moving time 5 jam 33 menit. Sisanya atau 2,5 jam buat berhenti istirahat dan foto-foto.

Akhirnya, pecah juga angka 100 km. This is my first 100 km! Walaupun pelan-pelan dan banyak berhenti. Lagian ini gowes santai dan hore-hore saja. #menghiburdiri 😄

Terimakasih buat Mas Nug dan Henry yang ‘ngemong’ saya, ikut berhenti dan sabar menunggu saya.

Break The Limit : Gowes Uphill ke Kalikuning

Hai!

Postingan pertama di tahun 2016. Januari udah mau abis, baru deh bikin postingan. Hehe.

Bagaimana bulan pertama di tahun baru ini, teman? Semoga selalu sehat, bahagia, penuh berkah, dan tetap asik!

Nah, ngomongin yang asik-asik.. Ahad, 24 Januari 2016 lalu, saya juga mendapat pengalaman baru yang asiknya kebangetan. Yaitu gowes uphill ke Kalikuning, Desa Plunyon, Sleman. Sebuah desa yang berada di lereng Gunung Merapi, yang memiliki tinggi kurang lebih 800 meter di atas permukaan air laut.

Ya, buat yang udah biasa gowes uphill atau menanjak, bisa jadi ini adalah hal yang nggak istimewa. Tapi buat saya, spesial banget, karena ini adalah pengalaman pertama.

Pukul 05.45 pagi saya dan Mas Nug berangkat dari rumah. Awalnya cuman pengen nguntapke/melepas teman-teman di titik kumpul Bunderan UGM. Apadaya rombongan udah berangkat duluan. Ragu-ragu muncul ketika mas Nug ngajakin saya untuk menyusul rombongan. Kuat nggak ya? Tapi kalo nggak dicoba, nggak bakal tau batas atau limit kemampuan kita.

Saat itu saya menggunakan sepeda lipat Tern seri Link D16 (depan 2 dan belakang 8 speed). Pelan-pelan saya mengayuh, kalo merasa capek saya berhenti mampir ke Ind*maret. Beli jajan dan mengisi persediaan air sekaligus istirahat.

Titik kumpul yang kedua adalah Warung Ijo, Pakem atau Jl. Kaliurang km 17. Sesampainya di sana, udah banyak goweser yang datang. Bisa sampai ke warung ini, adalah di luar ekspektasi saya. Di Warung Ijo, biasanya para goweser beristirahat untuk melanjutkan perjalanan naik atau kembali turun. Warung ini berjualan makanan kecil saja, bukan meal atau makan besar.

Setelah beristirahat sejenak, rombongan segera gowes ke Kalikuning, Plunyon. Saya pun turut serta, walaupun dalam hati menanamkan rasa tidak boleh memaksakan diri. Jadi kalo fisik udah ga mampu, harus balik kanan. Bagaimana pun juga, hanya kita sendiri yang tau kondisi dan kemampuan kita.

Awalnya masih bisa bareng-bareng sama goweser lain, lama-lama mereka melaju di depan. Sedangkan saya pun makin melambat, sedikit-sedikit berhenti buat istirahat minum. Untungnya ada Mas Nug yang setia menemani dan memompa semangat, sekaligus semacam coach yang memberi arahan speed shifting. Kapan saya harus pindah gigi saat melibas tanjakan.

Alhamdulillah sampai juga di Kalikuning, Desa Plunyon. Sebuah sungai yang dilalui lahar dingin dan awan panas (wedhus gembel) saat erupsi Gunung Merapi, 2010 lalu. Saya dan Mas Nug jadi yang terakhir dari rombongan. Bahkan ketika saya sampai, sudah ada yang turun. Hehe. Tapi gapapa deh, biar pelan asal sampai.

Pemandangan Kalikuning luar biasa indah. Subhanallah. Segarnya air pegunung yang jernih mengalir di sungai, tak mampu ditolak para goweser. Banyak yang nyemplung buat mandi. Saya yang ga bawa baju ganti cuman keceh, buka sepatu, cuci muka.

Setelah puas foto-foto sekalian istirahat, saya dan Mas Nug pulang ke rumah. Pukul 13.30 baru sampai rumah. Overall time gowes selama kurang lebih 6 jam 45 menit. Terdiri dari 4,5 jam gowes dan 2 jam berhenti buat istirahat plus foto-foto.

Thank you hubbiby for being my number one supporter in every (literally) up and down. 🙂

Gowes Hore : Jembatan Sesek Bantul

Selamat akhir pekan!

Menjelang akhir tahun adalah masa-masa yang stressful untuk saya. Nasib orang-orang yang bekerja di bidang keuangan. Tapi, males ah bahas kerjaan. Mending cerita gowes hore saya bareng teman-teman, ya.

Tulisan ini cukup terlambat saya tulis, karena kejadiannya udah berlalu. Tepatnya Ahad, 1 November 2015. Bersama-sama Jogja Folding Bike, saya dan Mas Nugie ikutan Blusukan Bantul ke Jembatan Sesek yang terletak di perbatasan Bantul dan Kulon Progo.

Pagi-pagi pukul 5.35, saya dan mas Nug sudah meluncur dari Kotagede menuju Siti Hinggil, Alun-alun Selatan sebagai titik kumpul. Sudah ada sekitar 20an orang pesepeda yang berkumpul. Setelah briefing rute dan saling sapa sebentar, pukul 6 lebih dikit kami meluncur ke arah selatan.

Jembatan Sesek Utara

Tujuan pertama kami adalah Jembatan Sesek Utara. Di sini kami sempat berhenti sebentar untuk foto-foto. Saat kami ke sana, belum memasuki musim penghujan sehingga kami bisa turun ke sungai dan berfoto dengan latar belakang jembatan.

Jembatan bambu dengan lebar 1,5 meter ini, dibangun oleh warga sekitar dan digunakan untuk menyeberang dan memotong jalan. Mungkin kalo nggak ada jembatan ini, mereka harus berputar berkilo-kilo meter jauhnya.

Namanya juga jembatan bambu ya, ketika kendaraan melintas terdengar suara bambu yang saling bergesekan. Serasa mau ambruk ajah. Hehe. Di ujung jalan, setiap orang yang melintas memberikan kontribusi kepada warga sebesar Rp.2.000,-.

Bisa dipahami kenapa harus bayar ketika melewati jembatan ini, karena jembatan bambu tidak dapat bertahan lama, sehingga harus berganti baru setiap musim.

Jogja Folding Bike
Jogja Folding Bike di Jembatan Sesek Utara. Photo Credit Desem Ashari.
Sepeda Lipat Bike To Work di Jembatan Sesek Utara
Si Kuning dan Jembatan Sesek Utara. Photo Credit Anna.
Jembatan Sesek Utara
Jembatan Sesek Utara. Photo Credit Mas Desem Ashari.

 

Jembatan Sesek Selatan

Selanjutnya kami menuju Jembatan Sesek Selatan, jembatan bambu yang letaknya di perbatasan Bantul dan Kulon Progo. Jembatan ini lebih terkenal dibanding yang sebelumnya. Lebih hits dan instagramable banget. Hehe.

Kalo saya bilang sih, jembatan yang ini lebih epic. Lah gak ada pagarnya, bikin keder aja. Apalagi air sungainya lebih tinggi dari jembatan sebelumnya.

Di ujung jalan, setiap yang lewat juga harus membayar sebesar Rp.2.000,-. Menurut informasi, jembatan ini juga dibangun warga sekitar dan diperbarui setiap awal musim kemarau. Saat musim hujan jembatan digantikan oleh rakit bambu.

Jembatan Sesek Selatan.
Jembatan Sesek Selatan. Photo Credit Mas Nugie.
Jembatan Sesek Selatan
Should I ride? Sempet keder ketika mau melintas. Secara nggak ada pagernya. Photo Credit Mas Desem Ashari.
Jembatan Sesek Selatan.
Melintasi Jembatan Sesek Selatan. Photo Credit Mas Desem Ashari.

 

RM Legokan Ngancar

Waktu sudah menunjukkan pukul 9 pagi ketika seluruh anggota rombongan melintasi jembatan kedua. Perut sudah mulai lapar. Kami menuju RM Legokan Ngancar, rumah makan lesehan yang menyajikan menu mangut lele, wader goreng, lalapan beserta sambel terasi. Yes banget lah pokoknya.

Jogja Folding Bike @ RM Legokan Ngancar
Jogja Folding Bike @ RM Legokan Ngancar. Photo Credit Mas Nugie.
Jogja Folding Bike @ RM Legokan Ngancar
Jogja Folding Bike @ RM Legokan Ngancar. Photo Credit Mas Nugie.
Jogja Folding Bike @ RM Legokan Ngancar
Jogja Folding Bike @ RM Legokan Ngancar. Photo Credit Mas Desem Ashari.

 

Saatnya kami pulang. Perjalanan pulang terasa cukup aduhai karena panas yang luar biasa. Ditambah lagi kena macet karena bersamaan dengan Pawai Budaya di Slarong, Bantul.

Pukul 12 siang lebih saya dan mas Nugie baru sampai ke rumah. Capek tapi hati senang. Jarak yang kami tempuh kurang lebih 50 km.

Rute menuju Jembatan Sesek Bantul
Rute menuju Jembatan Sesek Bantul

 

Kalo nggak rame-rame, nggak bakalan saya sampe ke Jembatan Sesek yang cihuy itu. Terima kasih buat teman-teman Jogja Folding Bike, yang ngadain acara seru semacam ini. Thanks juga buat mas Desem Ashari, foto-fotonya bagus banget, saya pinjam ya. Satu lagi, Mas Desem sang fotografer punya page di facebook, please kindly visit and drop your likes.

Yes, demikian cerita gowes hore kali ini. 🙂