Folding Bike vs Mountain Bike

Halo, apa kabar? Sudah hampir 2 bulan blog ini nggak ada postingan baru.

Nah, mumpung long weekend saya akan membuat sebuah review tentang 2 jenis sepeda yang saya gunakan yaitu folding bike atau sepeda lipat (si orens) dan mountain bike atau sepeda gunung (si pinky). Review atau ulasan ini sangat bersifat subyektif karena berdasar pengalaman pribadi saya menggunakan dua jenis sepeda tersebut.

Baik, kita mulai saja ya.

 

Si Orens

Si orens adalah sepeda lipat kedua, sebelumnya pake Si Kuning yang pernah saya review di sini.

Saat ini saya menggunakan sepeda lipat Tern seri Link D16 warna kombinasi orens dan putih, dibeli akhir tahun 2015 setelah saya dan mas Nug ikutan Jamselinas V di Solo. Spesifikasi roda berukuran 20 inch dan menggunakan ban kojak (sleek tanpa kembang). Speed 2 x 8, udah upgrade crank yang lebih ringan dari bawaan aslinya.

Sepeda lipat ini cukup sering saya gunakan sejak awal 2016 mengunjungi berbagai tempat di Jogja dan sekitarnya. Beberapa di antaranya gowes uphill ke Plunyon dan Kaliurang, juga mini touring Jogja-Kebumen.

Pengalaman saat gowes nanjak, si orens cukup lincah dan ringan. Kalopun beberapa kali saya berhenti untuk istirahat, lebih karena dengkul saya yang belum di-upgrade. Bukan karena sepedanya. Hehe. Cuman ya gitu, harus ektra hati-hati saat gowes turun dengan sepeda lipat, mengingat gak ada suspensi sehingga getaran sangat terasa. Handling harus lebih kuat.

Saat si orens dibawa gowes jarak jauh pun juga sangat nyaman, terutama melalui jalan aspal halus. Kelebihan ban kojak yang halus tanpa kembang adalah meminimalkan gesekan ban dengan aspal. Jadi bisa ngebut. Kalopun saya tetap dengan speed rendah, mungkin karbo loading-nya kurang. Hahaha.

Dulu, saya sempat berpikiran bahwa sepeda lipat itu hanya untuk santai kota-kota semata, tapi ternyata bisa juga dipake untuk jarak jauh. Roda yang kecil membuat sepeda jenis ini lincah bermanuver saat di jalanan padat, nyelip sana-sini.

Belum lama ini, si Orens dimodifikasi dengan memotong sekitar 5 cm tinggi handlepost-nya. Handlepost itu tiang penyangga setang. Ya, kekurangan Tern Link D16 itu adalah handlepost yang fix gak bisa dinaik-turunin. Setelah dipotong 5 cm, posisi berkendara saya lebih membungkuk ke depan dan lebih nyaman.

Atas : sebelum handlepost dipotong
Bawah : sesudah handlepost dipotong

 

Si Pinky

Si Pinky adalah mountain bike (MTB) anggota keluarga baru di rumah sejak Januari 2017 lalu, menggantikan city bike saya yang berwarna putih. Si Pinky menggunakan frame Polygon Cleo 2, sedangkan part lainnya diambil dari Kona Cindercone 2012. Cuman frame-nya aja yang diganti. Ukuran roda 26 inch, dengan ban Kenda yang banyak kembangnya. Speed 3 x 9 dan suspensi depan Rock Sox.

Si Pinky belum terlalu sering saya pake, tapi udah sempat saya ajak gowes uphill ke Hutan Pinus Dlinggo dan Kaliurang.

Namanya juga mountain bike ya, jadi emang terasa banget bedanya saat gowes uphill. Lebih ‘antep’ walaupun melalui medan yang terjal atau blusukan. Setang yang lebih lebar serta adanya suspensi depan membuat saya percaya diri saat gowes turun. Getaran bisa diredam dan handling jadi terasa lebih nyaman.

Ban dengan banyak kembang memungkinkan untuk jalan yang kasar atau berbatu, gak gampang selip. Tapi kalo dipake di jalan aspal halus, jadi terasa lebih lengket dan berat.

Si Pinky sampai juga ke Tugu Urang

***

 

Anyway, sebenernya masih ada 1 jenis sepeda lagi yang juga saya cobain, yaitu road bike. Saya menggunakan Polygon Helios 100 dengan flatbar atau setang datar. Jujur yak, saya belum bisa menemukan kenyamanan pake sepeda jenis ini. Mungkin karena saya belum terbiasa dan masih perlu penyesuaian. Sempat gowes dengan sepeda ini ke Tebing Breksi.

Gowes dengan Road Bike ke Tebing Breksi

Setiap jenis sepeda memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing dengan peruntukan medan yang berbeda. Jadi memang nggak bisa dibandingkan. Semakin ke sini, saya juga jadi sedikit lebih bisa merasakan bahwa memilih jenis sepeda itu tergantung tujuan penggunaannya.

Trus kalo tetep harus merangking berdasarkan pengalaman bersepeda, apa jawaban saya? Nomer 1 adalah sepeda lipat, runner-up adalah MTB, dan diikuti sepeda jenis lainnya. Boleh gak setuju, karena ini bersifat subyektif. 🙂

Gowes Hore : Jembatan Sesek Bantul

Selamat akhir pekan!

Menjelang akhir tahun adalah masa-masa yang stressful untuk saya. Nasib orang-orang yang bekerja di bidang keuangan. Tapi, males ah bahas kerjaan. Mending cerita gowes hore saya bareng teman-teman, ya.

Tulisan ini cukup terlambat saya tulis, karena kejadiannya udah berlalu. Tepatnya Ahad, 1 November 2015. Bersama-sama Jogja Folding Bike, saya dan Mas Nugie ikutan Blusukan Bantul ke Jembatan Sesek yang terletak di perbatasan Bantul dan Kulon Progo.

Pagi-pagi pukul 5.35, saya dan mas Nug sudah meluncur dari Kotagede menuju Siti Hinggil, Alun-alun Selatan sebagai titik kumpul. Sudah ada sekitar 20an orang pesepeda yang berkumpul. Setelah briefing rute dan saling sapa sebentar, pukul 6 lebih dikit kami meluncur ke arah selatan.

Jembatan Sesek Utara

Tujuan pertama kami adalah Jembatan Sesek Utara. Di sini kami sempat berhenti sebentar untuk foto-foto. Saat kami ke sana, belum memasuki musim penghujan sehingga kami bisa turun ke sungai dan berfoto dengan latar belakang jembatan.

Jembatan bambu dengan lebar 1,5 meter ini, dibangun oleh warga sekitar dan digunakan untuk menyeberang dan memotong jalan. Mungkin kalo nggak ada jembatan ini, mereka harus berputar berkilo-kilo meter jauhnya.

Namanya juga jembatan bambu ya, ketika kendaraan melintas terdengar suara bambu yang saling bergesekan. Serasa mau ambruk ajah. Hehe. Di ujung jalan, setiap orang yang melintas memberikan kontribusi kepada warga sebesar Rp.2.000,-.

Bisa dipahami kenapa harus bayar ketika melewati jembatan ini, karena jembatan bambu tidak dapat bertahan lama, sehingga harus berganti baru setiap musim.

Jogja Folding Bike
Jogja Folding Bike di Jembatan Sesek Utara. Photo Credit Desem Ashari.
Sepeda Lipat Bike To Work di Jembatan Sesek Utara
Si Kuning dan Jembatan Sesek Utara. Photo Credit Anna.
Jembatan Sesek Utara
Jembatan Sesek Utara. Photo Credit Mas Desem Ashari.

 

Jembatan Sesek Selatan

Selanjutnya kami menuju Jembatan Sesek Selatan, jembatan bambu yang letaknya di perbatasan Bantul dan Kulon Progo. Jembatan ini lebih terkenal dibanding yang sebelumnya. Lebih hits dan instagramable banget. Hehe.

Kalo saya bilang sih, jembatan yang ini lebih epic. Lah gak ada pagarnya, bikin keder aja. Apalagi air sungainya lebih tinggi dari jembatan sebelumnya.

Di ujung jalan, setiap yang lewat juga harus membayar sebesar Rp.2.000,-. Menurut informasi, jembatan ini juga dibangun warga sekitar dan diperbarui setiap awal musim kemarau. Saat musim hujan jembatan digantikan oleh rakit bambu.

Jembatan Sesek Selatan.
Jembatan Sesek Selatan. Photo Credit Mas Nugie.
Jembatan Sesek Selatan
Should I ride? Sempet keder ketika mau melintas. Secara nggak ada pagernya. Photo Credit Mas Desem Ashari.
Jembatan Sesek Selatan.
Melintasi Jembatan Sesek Selatan. Photo Credit Mas Desem Ashari.

 

RM Legokan Ngancar

Waktu sudah menunjukkan pukul 9 pagi ketika seluruh anggota rombongan melintasi jembatan kedua. Perut sudah mulai lapar. Kami menuju RM Legokan Ngancar, rumah makan lesehan yang menyajikan menu mangut lele, wader goreng, lalapan beserta sambel terasi. Yes banget lah pokoknya.

Jogja Folding Bike @ RM Legokan Ngancar
Jogja Folding Bike @ RM Legokan Ngancar. Photo Credit Mas Nugie.
Jogja Folding Bike @ RM Legokan Ngancar
Jogja Folding Bike @ RM Legokan Ngancar. Photo Credit Mas Nugie.
Jogja Folding Bike @ RM Legokan Ngancar
Jogja Folding Bike @ RM Legokan Ngancar. Photo Credit Mas Desem Ashari.

 

Saatnya kami pulang. Perjalanan pulang terasa cukup aduhai karena panas yang luar biasa. Ditambah lagi kena macet karena bersamaan dengan Pawai Budaya di Slarong, Bantul.

Pukul 12 siang lebih saya dan mas Nugie baru sampai ke rumah. Capek tapi hati senang. Jarak yang kami tempuh kurang lebih 50 km.

Rute menuju Jembatan Sesek Bantul
Rute menuju Jembatan Sesek Bantul

 

Kalo nggak rame-rame, nggak bakalan saya sampe ke Jembatan Sesek yang cihuy itu. Terima kasih buat teman-teman Jogja Folding Bike, yang ngadain acara seru semacam ini. Thanks juga buat mas Desem Ashari, foto-fotonya bagus banget, saya pinjam ya. Satu lagi, Mas Desem sang fotografer punya page di facebook, please kindly visit and drop your likes.

Yes, demikian cerita gowes hore kali ini. 🙂

Si Kuning pergi ke Solo (Jamselinas V)

Hai semua!

Akhir minggu lalu (16-18 Oktober 2015) saya dan Mas Nug ikutan Jambore Sepeda Lipat Nasional V di Solo. Walaupun saya udah pake Si Kuning seli saya sejak tahun 2012, ini adalah keikutsertaan saya yang pertama di acara Jamselinas.

Sekitar bulan Agustus 2015 lalu saya udah dengar kabar adanya Jamselinas V di Solo. Mau daftar masih ragu-ragu, belum pernah kan. Daftar pun di hari terakhir, ngajakin suami yang nggak punya sepeda lipat. Alhamdulillah dapat pinjeman seli dari temen kantornya Mas Nug. Hehe. Makasih mbak Esti 🙂 Pendaftaran dan pembayaran dilakukan secara online.

IMG_2118

 

Jumat, 16 Oktober 2015

Hari itu saya nggak libur, tetep masuk biasa. Sempat diajakin gowes Jogja-Solo oleh komunitas JogjaFoldingBike (JFB). Tapi jujur saja, saya masih keder alias nggak pede untuk gowes sejauh 60 km. Ditambah saya kurang tidur beberapa hari sebelumnya. Jadi dua seli masuk ke mobil Starlet. Alhamdulillah cukup. Kami berangkat kurang lebih jam 5 sore.

Setiba di D’Wangsa Hotel Anugrah Palace, Jalan Slamet Riyadi Solo, ratusan seliers atau lipaters udah bersiap untuk night ride menuju Warung Krupuk di Jalan Dokter Rajiman. Sudah tak sabar ingin segera bergabung.

Saya segera registrasi ke panitia. Peserta mendapatkan dua buah identitas, yaitu nomer yang dipasang di sepeda dan gelang tangan. Kedua identitas itu berisi nomer peserta dan tidak boleh dilepas selama pelaksanaan. Pemakaian identitas ini penting banget, supaya sepeda tidak tertukar satu sama lain.

Identitas sepeda dan peserta Jamselinas V
Identitas peserta Jamselinas V
Goody bag Jamselinas V
Goody bag untuk peserta

Peserta juga dapat goody bag yang komplit, hanya dengan biaya pendaftaran Rp.250.000,- kami mendapatkan rompi, kaos, topi, produk-produk dari sponsor dan beberapa voucher diskon.

Selain makan malam, acara welcome dinner juga digunakan sebagai sarana pembagian kelompok untuk Gowes Seru keliling Solo Raya. Saya dan Mas Nug yang anak baru di acara ini, bergabung dengan JFB. Mereka pun ramah dan seru.

 

Sabtu, 17 Oktober 2015.

Pagi-pagi setelah sarapan, seliers segera bersiap di depan hotel. Tim marshal (penunjuk jalan) telah siap memimpin kami menuju Balekambang, sebuah taman kota yang sejuk karena banyak pepohonan besar dan rindang. Seremonial pembukaan dilaksanakan oleh Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutan Kabinet Kerja, Dr. Ir. Siti Nurbaya, M.Sc.

Kami start dari Balekambang pukul 8 pagi. Marshal memimpin kami melintasi kota Solo dan sekitarnya, melewati Bundaran Manahan, Kampung Batik Laweyan, Stasiun Gawok, Singopuran, Malangjiwan, Bolon, Waduk Cengklik, Manahan, dan finish di Balekambang. Jarak yang ditempuh adalah 44, 73 kilometer.

Panitia menyediakan beberapa pit stop sebagai tempat istirahat sebelum peserta kembali mengayuh di bawah terik matahari. Panasnya luar biasa. Tapi kami tetap mengayuh hingga finish. Berikut video bikinan mas Nug yang diunggah ke youtube.

SavedPicture-2015102321503.jpg
Atas : bersama JogjaFoldingBike. Iya, saya yang pink, anak baru belum punya seragam. Bawah kanan : bareng Kang Odie Project Pop. Bawah kiri : Jatuh cinta ama Solo yang rindang.

Sesampai di Balekambang, panitia udah nyiapin hiburan dan makan siang yang berlimpah. Luar biasa. Gak pake kurang-kurang makanannya. Alhamdulillah. Setelah selesai sholat, makan siang, dan istirahat saya dan mas Nug balik ke hotel.

Malam harinya, bertempat di Balekambang diadakan farewell dinner. Katanya acara ini seru. Iya, katanya. Soalnya saya dan mas Nug ngantuk berat dan stay di hotel. Tidur pulas. 😀

 

Ahad, 18 Oktober 2015.

Acara bebas. Beberapa ngikutin gowes enduro yang menuju ke Kemuning, Karanganyar. Kabarnya hanya 11 orang yang ikut, mereka udah master, tingkat dewa lah. Hehe. Mereka melalui track menanjak dan jarak tempuhnya sekitar 80 km.

Beberapa yang lain mengikuti acara Car Free Day di sepanjang Jalan Slamet Riyadi. Ada panggung hiburan yang juga dihadiri oleh Walikota Surakarta. Ada pula yang keliling kota menikmati kuliner dan mengunjungi tempat-tempat menarik.

Panitia pun juga menyediakan bis tingkat Werkudoro untuk mengunjungi sentra batik di Kota Solo. Saya pun ikut juga, mengunjungi Danar Hadi, Batik Soka, dan beberapa tempat lainnya. Belanja? Beli kemeja batik buat Mas Nug.

Car Free Day di Jalan Slamet Riyadi, Solo.
Car Free Day di Jalan Slamet Riyadi, Solo.

Trus bagaimana kesan saya sebagai peserta Jamselinas V di Solo?

Salut untuk panitia yang kerjanya rapi. Dari sejak pendaftaran, mereka melayani sms dengan baik. Saat acara, marshall atau penunjuk jalan juga selalu mendampingi. Makanan pun berlimpah. Hotel yang dipake cukup nyaman. Colokan listrik di kamar lebih dari cukup, ada 6 colokan. #penting. 😀

Saat kami pulang, mereka mengucapkan maaf jika ada kekurangan. Ya ampun, acara ini lancar banget deh. Terima kasih buat panita penyelenggara, temen-temen Seli Solo Raya.

Kami berdua pulang dengan gembira. Bener loh, suami yang baru kali ini gowes jarak jauh pake seli jadi kepincut dan kepengen punya seli juga. Susah move on nya dari acara ini. Hehe. Hal lain yang membekas di hati adalah panggilan seliers untuk satu sama lain, Om dan Tante. Terus terang aja, saya kagok dan belum biasa. 😀

Anyway, Jamselinas VI tahun 2016, rencananya akan digelar di Muntok, Bangka, Bangka Belitung. Seru banget nih. Sampai jumpa tahun depan Oms dan Tantes!

Foldingbike vs Citybike

Lagi-lagi soal sepeda, gapapa ya? 🙂

Di postingan ini saya pengen kasih perbandingan tentang dua sepeda yang saya pake, yaitu folding bike atau sepeda lipat (si kuning) dan city bike atau sepeda kota (si putih). Tulisan ini bakalan subyektif banget, karena yang saya bandingkan adalah khusus sepeda yang saya miliki, bukan jenis sepedanya secara umum. Hanya berdasar pada pengalaman pribadi semata.

Ohya, kedua sepeda ini lebih sering saya pake seputaran kota aja dengan range jarak 20-40 kilometer. Sering juga dipake untuk kendaraan ke kantor (bike to work). Kadang-kadang aja dibawa blusukan, naik dan turun.

Si Kuning

Si Kuning adalah sepeda lipat dari Polygon. Sering disebut Bike To Work edition. Sepeda ini termasuk DLT atau Dahon Licensed Technology. Roda berukuran 20 inch, 6 speed di belakang, fix gear di depan, fork ga pake suspensi.

Saya beli sepeda ini lewat Forum Jual Beli Kaskus awal tahun 2012. Sepeda second gitu, tapi alhamdulillah masih perform banget. Kelebihan dari sepeda ini adalah ringan, ringkas, dan enak dipake manuver karena roda yang kecil. Cocok banget buat sepedaan dalam kota, bisa nyelip-nyelip di antara kendaraan lain saat jalanan padat.

Selain di jalanan datar perkotaan, si kuning juga bisa unjuk kemampuan di tanjakan loh. Pernah saya bawa naik ke Candi Ratu Boko, walaupun campur dorong. Hehe. Kalo untuk tanjakan level perkotaan macam Jogja, dengan 6 speed udah mencukupi banget.

Saya yang memiliki tinggi 160 cm dan berat badan kurang lebih 47 kg, merasa pas dengan sepeda lipat ini yang mudah untuk dikuasai. Controlling-nya gampang. Ketika menghadapi situasi yang tidak terkira, misal harus berhenti mendadak, keseimbangan saya masih sangat baik.

Hanya saja, karena roda yang berukuran kecil membuat jumlah kayuhan jadi lebih banyak. Setang yang pendek (tidak lebar) kadang bikin goyang nggak steady. Trus karena dia gak pake suspensi, saat melewati jalan yang nggak mulus terasa banget getarannya.

Ohya, satu hal lagi yang saya suka dari sepeda lipat saya ini adalah warna kuningnya. Looks great on camera. 😀

Si Putih

Si putih adalah Sierra Deluxe Sport Edition keluaran dari Polygon. Sepeda kota tapi edisi sport, dengan ukuran frame 43, ukuran roda cukup besar yaitu 700x40c atau sekitar 27 inch, 3 speed di depan, 7 speed di belakang, dan suspensi di fork depan. Posisi setang juga bisa disetting ketinggiannya hingga menyerupai MTB.

Sepeda ini saya beli baru di toko pada awal tahun 2015. Kelebihan dari sepeda ini adalah stabil karena setang yang cukup lebar dan frame yang besar tapi ringan. Trus juga lebih yahud saat diajak naik karena memiliki 21 speed. Pernah saya bawa ke Goa Selarong, Bantul dan ke Bukit Pathuk (walaupun nggak sampe puncak, karena heart beat saya udah ga karuan). Selain itu dengan roda yang cukup besar membuat jumlah kayuhan lebih irit. Kalo pake sepeda ini average pace saya pun juga lebih kecil. Adanya suspensi mengurangi getaran di setang ketika harus melalui jalanan yang tidak rata.

Saat mengendarai sepeda ini, terasa ‘antep’ atau gak gampang goyah. Terasa banget ketika diselip ama kendaraan bermotor berkecepatan tinggi, sepeda ini tetep anteng saat dikayuh. Nggak seperti si kuning kalo kena angin udah kayak goyang.

Tapi, tetep aja ada kekurangannya. Roda yang cukup besar membuat agak sulit bermanuver. Gak selincah si kuning. Sepeda ini pun relatif cukup besar untuk ukuran tubuh saya. Agak ketinggian kalo saya bilang, sehingga penguasaan saat harus berhenti mendadak agak kesulitan. Yang salah bukan sepedanya sih, sayanya aja yang kurang tinggi. Hehehe.

***

Kedua sepeda memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing, namun ada satu alasan yang membuat saya menjatuhkan pilihan pada sepeda lipat dan sepeda kota. Yaitu posisi berkendaranya yang tegak.

Posisi tegak terasa nyaman untuk saya yang beraliran gowes santai dan hore-hore seputar kota. Posisi tegak membuat punggung lurus dan tidak memberi beban untuk pundak dan lengan. Tapi kedua sepeda ini tetap bisa disetting ‘balap’ kok, dengan posisi setang lebih diturunkan sehingga punggung lebih membungkuk agar lebih enak kalo mau ngebut.

Kalo harus merangking keduanya, rangking 1 diraih Si Kuning dan Si Putih sebagai runner-up. Sekali lagi, ini pendapat subyektif loh.

Salam saya, penggemar gowes santai lagi hore. 🙂

Gowes Hore!

Ah, suami lagi keranjingan bikin video sepedaan nih. Sayanya juga seneng-seneng aja, itung-itung ada dokumentasinya saat gowes. Kali ini merekam gowes hore saya bersama temen-temen SMA, yaitu Mita, Pepi dan Henry pada Sabtu, 29 Agustus lalu.

Rute gowes adalah seputar Segoroyoso, Pleret, Bantul. Mas Nug selaku cameraman masih setia pake Xiaomi Yi yang dipasang di atas helm sepedanya. Durasi video ini cuman 40 detik.

Selamat menyaksikan!

Bike to Ratu Boko

Yap it’s another story sepeda santai di akhir pekan. Ke mana saya kali ini?

Kali ini saya berdua dengan suami gowes ke Candi Ratu Boko yang terletak di Bokoharjo, Prambanan, Sleman. Sebenernya gowes ke sana udah beberapa minggu yang lalu, tepatnya Jumat 18 April 2014 lalu. Cuman baru sempat saya ceritain di blog, sayang juga gak ditulis. Soalnya perjalan gowes ini menempuh jarak 41,76 kilometer. Jarak ini sementara jadi rekor terjauh saya dalam sepedaan.

Sreenshot dari app Endomondo di hape saya.

Ohya, udah pada ngerti Candi Ratu Boko kan ya? Sebuah candi yang letaknya berada di puncak bukit sebelah selatan Candi Prambanan, Sleman, DIY. Dari Candi Ratu Boko kita juga bisa ngeliat Prambanan. Pokoknya view-nya bagus deh, jangan sampe terlewatkan kalo pas jalan-jalan ke Jogja.

Candi Ratu Boko. Captured by Mas Nugie (2007)
Candi Ratu Boko. Captured by Mas Nugie (2007)

Eniwei, udah dari beberapa hari sebelumnya saya nanya ke suami, mungkin ga sih Candi Ratu Boko dicapai dengan gowes? Suami jawab, bisa. Tapi plus dorong. Maksudnya sepeda dituntun karena jalannya naik. Berasa challenging banget kan? Challenge accepted!

Ya sudah, pas hari pertama long weekend kami berdua langsung gowes ke sana berangkat jam 6 pagi. Termasuk kesiangan inih. Apalagi kami suka mampir-mampir buat motret. Ternyata, emang bener.. Kami sempat berhenti di beberapa titik. Ya motret, ya mampir ke masjid buat pipis, ya makan, dan sebagainya.

Daripada saya banyak cerita mending saya kasih liat foto-fotonya aja ya.

Yellow and its shadow.
Yellow and its shadow. Berhenti di sebuah kawasan tambak ikan di daerah Wiyoro Bantul, DIY.

Dalam perjalanan berangkat kami melalui Pangkalan TNI Angkatan Udara dan sempat berhenti pula untuk motret. View-nya bagus banget, Gunung Merapi tidak terhalang apapun. Sayangnya kami gak dikasih ijin ama tentara yang jaga di pos.

Pemandangan di sekitar Sumberharjo, Sleman.
Pemandangan di sekitar Sumberharjo, Sleman.

Sampailah kami di kawasan Candi Ratu Boko. Mas Nugie ngajak lewat pintu belakang, berharap bisa bawa masuk sepeda ke komplek candi. Jalannya naik banget, nggak mungkin sepeda dinaikin, harus didorong.

Bike to Ratu Boko
Jalan belakang masuk Ratu Boko. Berharap siapa tahu sepeda bisa masuk dan bisa foto-foto berlatar candi nan eksotis ituh. Sayangnya gak bisa 😦
Bike to Ratu Boko
Mengobati kekecawaan karena gak boleh masuk, akhirnya cuman bisa foto di depan tulisan Keraton Ratu Boko. Sebagai bukti nyata udah gowes sampe ke sana.

Saya dan mas Nugie akhirnya tidak masuk untuk melihat Candi Ratu Boko, cuman foto-foto di area parkir mobil saja. Itu pun udah disuruh pergi sama satpamnya, agak sebel sih.. tapi pak satpam itu cuman menjalankan tugasnya. Jadi, ya sudah..

Tidak jauh dari Candi Ratu Boko, ternyata ada dua candi lain, yaitu Candi Ijo dan Candi Banyunibo. Setelah turun dari Ratu Boko, saya dan mas Nugie menuju Candi Ijo, tapi kami batalkan di tengah jalan karena jalannya cukup menanjak. Tenaga udah cukup terkuras sebelumnya untuk naik ke Ratu Boko.

Sedangkan Candi Banyunibo sangat mudah dijangkau dengan sepeda. Jalannya datar dan tidak terlalu jauh dari jalan utama. Candi Banyunibo termasuk candi yang kecil, sekitar 15 x 14 meter aja. Bagaimana penampakannya, liat foto-foto di bawah ini ya.

Candi Banyunibo
Candi Banyunibo, Bokoharjo, Prambanan, Sleman. (Tampak depan)
Candi Banyunibo
Candi Banyunibo, Bokoharjo, Prambanan, Sleman. (tampak depan samping)
Sisi dalam Candi Banyunibo.
Sisi dalam Candi Banyunibo.
Sisi dalam Candi Banyunibo.
Sisi dalam Candi Banyunibo.
Sisi depan Candi Banyunibo.
Sisi depan Candi Banyunibo.
Sisi belakang Candi Banyunibo.
Sisi belakang Candi Banyunibo.

Sepulang dari Candi Banyunibo, kami sempat mampir makan di sebuah warung bakso di Jalan Piyungan. Lumayan untuk istirahat dan isi perut sedikit. Nggak boleh terlalu kenyang, karena masih harus ngayuh sekitar 20 kilometer lagi.

Jam sudah menunjuk pukul setengah 11 siang ketika kami sampe ke daerah Sentonorejo. Pas panas-panasnya tuh. Gak sengaja kami melihat penunjuk jalan menuju Gua Jepang, hanya 500 meter. Tanpa pikir panjang langsung belok kanan, gak taunya jalannya naik turun dan off road. Sepeda lipat saya yang didesain khusus on road saya paksa untuk bisa nyampe. Alhamdulillah bisa, walopun berasa banget getarannya mengingat sepeda saya gak punya suspensi alias fix fork.

Gua Jepang ini adalah satu dari banyak gua yang dibuat oleh Tentara Jepang pada masa pendudukan di Indonesia. Fungsi gua ini adalah untuk pengintaian, logistik, serta akomodasi. Gua ini memiliki 4 buah terowongan yang saling terhubung satu sama lain. Saya sempat masuk, tapi gak berani dalem-dalem. Gelap banget soalnya. Merinding.

Gua Jepang.
Gua Jepang yang terletak di Dusun Sentonorejo, Kel. Jogotirto, Kec. Berbah, Sleman.
Gua Jepang Sleman
Ada 4 terowongan semacam ini yang saling terhubung di dalam. Muka saya sampe gosong-gosong tuh sepedaan sampe jam 12 siang. Belang di tangan juga masih awet biarpun udah lewat 2 minggu. 🙂

Perjalanan gowes kali ini memakan waktu 3, 5 jam dan menempuh 41,76 km. And I’m proud of myself. Ternyata saya cukup bertenaga juga ya. Hihi. Jalur yang dilalui pun juga gak melulu jalan datar halus nan nyaman, tapi juga naik turun, nggak rata juga kami lewati. Kalo soal capek ya, jelas. Apalagi saya pake sepeda lipat yang ukuran rodanya 20 inch. Ngulirnya jadi lebih banyak. Alhamdulillah perjalanan tetep lancar dan aman. 🙂

Tapi saya juga sering ngingetin diri sendiri, sepedaan yang ambil jarak jauh begini gak harus tiap weekend. Kadang-kadang aja. Sesekali boleh lah, ngeliat kondisi kesehatan, sepeda, dan cuaca.

Olahraga itu harus terukur dan teratur. 🙂