Rewang

Sabtu siang yang sangat sempurna…

Duduk tepat di depan jendela dengan angin sepoi-sepoi, sambil menulis postingan ini. Hari ini saya menghabiskan waktu dengan tidur, bukan bermalas-malasan.. tapi mengganti waktu tidur saya selama 2 hari kemaren. Ya.. 2 hari kemaren, saya bener2 kurang tidur dan kelelahan. Kenapa? Karena saya abis rewang.

Hm, pasti banyak yang nggak ngerti ya apa rewang itu?

Baiklah, mungkin kita cari padanan kata rewang ke dalam bahasa Indonesia dulu. Rewang bisa diartikan sebagai ‘membantu’. Membantu saat apa? Saat sebuah keluarga tengah memiliki hajat besar atau punya gawe. Misalnya pernikahan, kelahiran, sunatan, dll. Biasanya tetangga dan kerabat akan membantu untuk mempersiapkan segala sesuatunya. Terutama soal memasak.

Biasanya sebelum hajat dimulai, si empunya hajat akan datang atau sowan kepada tetangga untuk meminta bantuan. Ya nggak semua tetangga ato sodara didatengi ya.. cukup perwakilan yang dituakan atau pak RT misalnya. Nah, setelah itu.. secara gethok-tular atau saling memberitahu kepada yang lain. Sehingga ketika tiba masanya, bantuan tenaga dari tetangga dan kerabat akan datang dengan sendirinya.

Rewang juga menjadi salah satu sarana berinteraksi, bersosialisasi dengan tetangga dan kerabat. Walopun, ada kesan seperti repot dan ribet.. tetep hal ini punya nilai positif. Yaitu kekerabatan akan terasa lebih kental dan dekat.

Saya sendiri tidak dibesarkan dalam lingkungan dengan konsep rewang yang kental. Ada sih, tapi jaraaaang ada. Mungkin karena lokasi tempat tinggal dan lingkungan yang udah mulai mau ambil praktisnya aja.. pake catering.๐Ÿ™‚

Baru setelah saya nikah, di keluarga suami saya konsep rewang ini masih sangat kental. Saya pun harus bisa menyesuaikan. Tapi untungnya, keluarga suami paham betul dengan kesibukan saya yang bekerja. Jadi kehadiran saya dalam rewang, kadang-kadang sekadar formalitas.. yang penting setor muka..:mrgreen: Apalagi setelah saya pindah dari rumah mertua dan punya rumah sendiri… makin jarang deh.

Biasanya, dalam rewang ini.. ada 1 orang yang jadi komandannya. Yaa kalo istilah sekarang sih chef kepala-lah ya.. dia yang bertanggungjawab atas ketersediaan konsumsi untuk hajatan tersebut. Dialah yang ngracik, bikin bumbu.. ya.. hal-hal penting lah. Sedangkan yang lain, membantu sang chef kepala itu.

Posisi saya? Ya jelaslah… hanya sekadar membantu. Heheh, saya pun memilih posisi yang ‘tidak beresiko’๐Ÿ˜€ Misalnya, ngupas bawang, marut kelapa, nglipetin tissue, ngelap piring.. yaaa gitu deh. Tidak beresiko merusak masakan… hehehe.

Dalam rewang inilah mereka saling bertukar informasi. Termasuk bertukar gosip. Hehehe… ya perempuan ngumpul tuh seringnya begitu, tinggal gimana kita menempatkan diri aja. Nah saya.. biasanya akan memilih pasif alias diam.. Kecuali ngomongin hal-hal umum.. barulah saya ikutan ngobrol.

Nah, balik lagi soal rewang yang kemaren, katanya cuman formalitas? katanya cuman setor muka? Kok sampe 2 hari kurang tidur? Ya karena kebetulan acaranya di rumah mertua. Saya pun ikut bangun jam 1 pagi untuk memarut kelapa.. alhasil sekarang tangan saya jadi berotot.. *le to the bay..lebay๐Ÿ˜€

Tradisi rewang lambat laun mulai memudar. Saat orang semakin disibukkan dengan kegiatan masing-masing, sehingga waktu bersosialisasi dengan lingkungan semakin terbatas. Banyak orang nggak terbiasa lagi dengan hal-hal seperti rewang, kerja bakti, ronda dan semacam itu. Dan orang pun lebih memilih hal yang bersifat praktis.

Trus-trus.. pertanyaannya.. apa yang bakal saya lakuin seandainya suatu saat tiba masanya saya yang punya hajat? *menerawang melihat masa depan* Hm.. saya akan pake catering.. jujur aja.. nggak pengen repot. Tapi bukan berarti menghilangkan tradisi rewang yah.. insya allah tetep akan melibatkan tetangga dan kerabat untuk mempersiapkan hajatan tersebut.

Nah, apakah temen2 pernah terlibat dalam rewang?

PS. Foto saya pinjem dari masdhoni.jogjaphoto.net. Nuwun mas..

Published by

annafardiana

A happy wife of a happy hubby, pemeran utama di blog pribadi.

12 thoughts on “Rewang”

  1. Kalau di Bali istilahnya nguopin๐Ÿ™‚ – setiap ada hajatan, biasanya warga desa membantu keluarga yang punya gawe๐Ÿ™‚. Tapi kalau berhubungan dengan kegiatan adat desa, istilahnya ngayah.

    Like

  2. Haduuhh… kalau ngomongin “rewang”,, pastinya sudah terpikirkan ribetnya. Seperti dikampung saya, kalau ada suatu hajatan, pasti yang disuruh rewang banyak banget (sanak saudara dan tetangga). Huuhh… bayangin tuh berapa orang yang akan hadir dalam acara untuk sekedar rewang, padahal pekerjaannya tidak banyak-banyak banget. Kadang masih ada yang hanya duduk-duduk dan bercanda tawa dengan sesama perewang.
    Tapi beda di tempat suamiku,, kalau rewang itu namanya “Biodo”, tapi yang jadi boido g’ banyak2 bgt, mungkin ya hanya orang-orang tertentu yang ditugaskan untuk masak atau menghendel pekerjaan tertentu. Bahkan walaupun tetangga dekatpun kalau tak ada kerjaan untuknya ya g’ mungkin akan disuruh biodo. Heemm.. kalau ini praktis bgt,, tak banyak orang tapi kerjaan kelar semua.

    Like

  3. Kalau nggak salah, pas saya kecil dulu ibu saya pernah ikut kaya’ gini: bantu-bantu masak, nyiapin makanan macam-macam… tapi saya tidak tahu apakah itu Rewang atau bukan. Kami tinggal di Jawa sejak lama, tapi saya sampai sekarang masih belum benar-benar mengerti…

    Saya sendiri belum pernah terlibat Rewang. Ya jelaslah, masak aja paling banter bisanya cuma masak nasi goreng. Kalau saya ikut kaya’ begini, bisa bahaya malah๐Ÿ˜›

    Like

  4. Kirain rewang bahasa Jawa dan Plembang sama, agak beda dikit ternyata. Rewang plembang itu artinya teman atau menemani.

    Kalau soal bantuin yang hajatan waktu di Bengkulu dulu memangada tradidi rewang ini. Yg punya hajat hanya mengupah satu juru masak saja yg bertugas meracik.
    Urusan kecil2 nya ya ibu2 tetangga, seperti ngupas dan ngiris. Jadi ibu2 yg datang itu biasanya masing2 bawa dari rumah pisau dan baskom. Yg punya rumah biasanya juga sekalian siapkan makan siang.

    Like

  5. namanya yang berbeda, tapi untuk orang Karo kegiatan rewang jelas ada, persis malah. bahkan ketika mamak masih hidup, alm. sering jadi kepala koki atau bahasa sana disebut BAS๐Ÿ˜€ tapi budaya rewang semakin jarang terlihat sejak kami tinggal di kota sebesar Jakarta ini, semua sudah diserahkan pada jasa catering, baik u/ hajatan besar maupun kecil. jika masih sebatas keluarga kecil, tentu memasak sendiri lebih hemat.

    khusus untuk acara kedukaan, biasanya masih masak sendiri, kegiatan ini mirip rewang, beberapa orang akan berinisiatif untuk memasak makanan sederhana untuk pelayat yang datang.

    kegiatan rewang sebetulnya bagus, karena terlihat kental sekali nuansa kekeluargaan dan gotong royongnya, cuma ya itu tadi, semakin ke sini semakin repot, karena kebanyakan punya jam kerja tertentu, dan ga mungkin juga bolos kan hehee

    Like

  6. Rewang … ?
    Yang dalam bentuk sibuk di dapur … jujur tidak pernah …
    namun konsep rewang tersebut saya ejawantahkan dalam bentuk lain …

    apa lagi kalau bukan … Seksi Dokumentasi …
    hahaha

    Yang jelas … Rewang ini adalah tradisi gotong royong yang mengakar di budaya kita …
    semoga tidak lekang oleh jaman …

    memang nanti bentuknya bukan memasak didapur …
    tetapi saya rasa bisa diejawantahkan dalam bentuk gotong royong yang lain

    salam saya Mbak Anna

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s