Sleman Temple Run 2019, my first race

Selalu ada pertama kali untuk segala hal. Sleman Temple Run 2019 yang berlangsung pada hari Minggu, 14 Juli 2019 adalah event lari pertama yang saya ikuti. Saya mendaftar secara kolektif melalui seorang teman sesama pesepeda di komunitas Jogja Women Cyclists.

Saya sempat menyesal mendaftar, setelah tahu bahwa STR adalah trail run dengan rute naik turun. Akibat nggak cari info dulu, asal daftar dan bayar. Baca-baca segala info lewat website-nya di slemantemplerun.com.

Tapi, ya sudahlah. Bismillah dan kemudian berlatih mempersiapkan fisik dan mental. Saya mendaftar di last minutes, hanya berjarak 14 hari sebelum hari H. Dengan adanya target, membuat saya jadi lebih bersemangat berlatih.

Anyway, saya jarang banget lari. Olahraga yang sering saya lakukan adalah bersepeda. Belum pernah ikut race lari apapun.

Latihan saya lakukan sebanyak 7 kali selama 14 hari. Kalo dirata-rata, setiap 2 hari, latihan 1 kali. 3 kali pertama cuman ambil jarak 2,5 km saja setiap jogging. Masih campur jalan.

Latihan ke-4 coba jarak yang lebih jauh. Berangkat ke kantor dengan berlari, sejauh 5,47 km.

Trus ada yang pernah bilang, kalo mau race jarak tertentu, dalam sesi latihan harus pernah menempuh jarak yang sama. Tujuannya agar otot pernah merasakan ditempa dengan jarak tersebut.

Jadi, latihan ke-5 saya mencoba jarak yang lebih jauh yaitu 10 km. And it was my first 10 K. Ever. Latihan ke-6 saya cukup berlari 3,28 km di sekitar rumah. Latihan ke-7 adalah 5 km.

Semua sesi latihan saya lakukan sendiri dengan share live location ke suami. Takut ilang! Kemudian pace saya masih di atas 10.

Beberapa sesi latihan persiapan STR 2019

Malam sebelum race, saya nggak bisa tidur, klisak-klisik, ga nyenyak. Gelisah tiada tara. Hehe.

Sampailah di hari yang ditunggu. Dianterin suami ke lokasi start dan finish, yaitu Candi Banyunibo. Berangkat pukul 05.15 dan sampai di venue sekitar pukul 06.00. Ohya, waktu start untuk 7K adalah pukul 06.30.

Panitia menyediakan tempat penitipan barang khusus peserta. Saya cuman bawa tas pinggang untuk bawa sebotol air mineral ukuran kecil, KTP plus duit, bryton, dan energy gel (yang akhirnya nggak saya makan).

Kemudian, peserta segera mengambil chip yang wajib dipasang di sepatu, sebagai alat sensor pencatat waktu.

Selama race, saya ditemani oleh mas Imam. Pacer yang memberi berbagai arahan yang sangat bermanfaat buat saya, the newbie runner.

Beberapa tanjakan dan turunan di sepanjang rute

Rute yang kami lalui sungguh menarik. Tanjakan tajam di awal, kemudian turunan, naik lagi menuju water station di Spot Riyadi, kemudian turun lagi melalui Abhayagiri. Tanjakan selanjutnya adalah menuju Candi Ratu Boko. Kirain lewat jalur utama yak, ternyata dilewatin tanjakan berundak di sisi belakang candi. Kemudian lewat Candi Barong dan turun sampai ke finish.

Alhamdulillah finish strong, nggak ada cidera. Finish dalam waktu 1,5 jam, mendapat urutan 154 dari 240 peserta.

Bersama teman-teman JWC Runner dan mas Imam

Kesan pertama ikutan race lari adalah seru dan menyenangkan, sekaligus menantang. Naik turun bukit yang terjal dan berliku. Saat naik, jantung berpacu cepat. Saat turun, dengkul atau lutut menjadi tumpuan utama. Newbie seperti saya, cukup berjalan pelan. Ketika medan memungkinkan, barulah saya berlari.

Olahraga lari bisa menjadi alternatif selain bersepeda. Cukup dengan waktu singkat, keringat sudah mengalir deras.

3 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s