My Personal Chef

Istilah ‘chef’ jadi booming beberapa tahun terakhir karena sebuah acara TV, sehingga siapapun yang bisa masak, dipanggil dengan sebutan ‘chef’. Padahal seseorang bisa dipanggil ‘chef’ itu harus memenuhi kriteria, salah satunya adalah memimpin sebuah dapur restoran kelas tertentu.

Saya ingat betul ketika bapak saya yang dulu kerja di hotel, dia pernah juga kerja di dapur, jadi anak buahnya chef, disebut koki.

Walaupun udah ngerti salah kaprahnya, gapapa ya kalo saya pake istilah chef dalam tulisan berikut. Soalnya saya mau cerita tentang My Personal Chef, yaitu suami tercintah, Mas Nugie.

Mas Nug itu termasuk pria yang suka di dapur. Dari hanya sekadar bantuin saya, sampe yang in charged juga bisa. Kami berdua punya spesifikasi yang berbeda. Kalo soal mengolah sayur-sayuran.. Itu bagian saya. Tapi kalo udah daging, ayam, ikan, makhluk hidup bergerak… Itu bagian Mas Nug. Kenapa begitu, soalnya saya suka geli megangnya. Kenyal amis gimana gitu..

Saking semangatnya dia akan masak memasak, dia juga suka yang namanya beli peralatan rumah. (Beli sendiri tanpa saya temani). Beberapa kali pulang ke rumah tau-tau bawa alat masak. Dari yang sekadar wajan sampe oven listrik. Saya ga minta loh! Tapi pernah juga saya titip minta dibeliin loyang kaca yang tahan dalam oven, he didn’t mind loh ngubek-ngubek toko peralatan rumah tangga. Mas Nug dititipin beli pembalut aja mau, apalagi cuman loyang… Keciiiil… Hehehe.

Momen Idul Adha kemaren juga salah satu ‘ajang’ buat dia menyalurkan hobi masaknya. Alhamdulillah kami dapet pembagian daging sapi maupun kambing, dia pilah-pilah sendiri. Mana yang mau disate, mana yang mau dibikin bakso, mana yang mau dibikin kaldu. Saya? Kebetulan sekali lagi tepar akibat PMS.

Tahun-tahun sebelumnya, daging kami bawa ke tukang giling sekaligus dibumbuin dan kami tinggal proses jadi bakso. Tapi rupanya tahun ini mas Nug punya obsesi, giling sendiri, bumbuin sendiri, dan bikin bakso sendiri. Untuk memuluskan cita-citanya, dia beli blender beserta asesorisnya.. Termasuk untuk giling daging. Saya takjub, lah dia pamit ke saya cuman mau beli magic jar untuk nanak nasi (yg lama perlu diganti).. Pulang-pulang bawa macem-macem.πŸ™‚

Saya cuman bantuin kupas bawang aja, semua dia yang kerjain. Dia juga browsing cari resep dan beli bahan yang belum ada.

Selain bikin bakso, dia juga masak sup iga.. Karena saya saya lagi sakit, saya ga boleh ikutan di dapur. Disuruh duduk manis. Okelah kalo begituuu.πŸ™‚

Daaan inilah penampakan hasil olahan my personal chef.. Taraaa….

SavedPicture-20131019212754.jpg
Bakso bikinan suami, giling sendiri, bumbuin sendiri, dimasak sendiri. Saya tinggal hap!

Sup Iga Sapi bikinan mas Nugie untuk saya yang lagi masuk angin. Istimewa!πŸ™‚

Selain masak yang di atas tadi, Mas Nugie yang pernah masak Steak Gindara, nih bisa dilihat di sini. Atau juga ketika saya masak kepiting, dia bantuin eksekusi si kepiting.. Bisa diliat di sini.

Sebagai istri, seneng ga punya suami yang bisa masak? Ya seneng lah.. Diringankan kerjaan di dapur, tapi jujur ya.. Kadang jadi minder, hehehe.

Published by

annafardiana

A happy wife of a happy hubby, pemeran utama di blog pribadi.

One thought on “My Personal Chef”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s