Asisten oh asisten..

House of Sampoerna
@ House of Sampoerna Suarabaya. Kalo rumahnya begini, boleh ART punya 5.

Ya, tepatnya asisten rumah tangga.  Topik ibu-ibu banget nih..

Sudah setahun lebih ini saya punya asisten yang bantuin di rumah. Tepatnya mulai Oktober 2012, waktu itu saya baru aja sembuh dari sakit. Tadinya malah punya dua asisten.. Yang satu masak, yang satu bersih-bersih. Tapi, dua-duanya gak tinggal di rumah saya loh. Mbak yang bersih-bersih dateng seminggu 3x, ibu yang masak datang ke rumah tiap Senin-Jumat sore nganterin masakan siap makan.

Tapi yang bertahan tinggal satu aja, yaitu yang bersih-bersih.

Punya ART itu ternyata banyak suka dukanya ya. Harus pinter-pinternya kita menjaga hubungan karena kita saling membutuhkan. Dia butuh kerjaan, kita butuh dibantuin.

Saya pengen cerita kenapa ART yang bantuin masak akhirnya berhenti, atau lebih tepatnya saya berhentikan setelah 3 bulan bekerja.

Ada dua alasan, pertama.. Setelah saya sehat kembali kayaknya udah siap buat kembali ke rutinitas, termasuk kegiatan di dapur. Kedua, ada kejadian yang agak ga mengenakkan.

Saya orangnya ga tegaan. Suka ga enakan. Susah nolak kalo ada orang minta tolong. Suka gampang percaya sama orang lain. Ya, termasuk sama ibu ini.. Baruuuu juga kerja 1 bulan, dia mau pinjem uang yang katanya mau dipake modal bikin makanan kecil, karena dia dapet pesenan dari orang. Saya kasih karena pengen nolong dia cari tambahan duit. Lain hari, dia minta tambah pinjaman, katanya sih anak perempuannya yang usul supaya bisa nambah modal. Ya sudah, saya kasih. Dia janji akan ngembaliin uangnya setelah pesenan makanannya beres dan dibayar sama orang yang pesen.

Saya tunggu sampai waktu yang ditentukan. Ketika saya tanya, dia minta mundur waktu pembayaran. Sampai beberapa kali.

Kemudian menyadari betapa ga tegasnya saya, saya mencoba untuk sedikit tega dan tegas, yaitu bermaksud dengan memotong uang belanja dan upah yang saya kasih ke dia, untuk angsuran pinjaman. Dia dateng sorenya, minta ijin kalo selama seminggu ke depan nggak bisa masak, sehingga tugas dia limpahkan ke anaknya.

Saya bilang, “gapapa ibu, masakan mbak A juga enak kok. Uang belanja saya kasih mbak A aja ya, tapi ga kasih utuh untuk angsuran uang yang dipinjem kemaren.”

Tanpa saya duga, si ibu itu jawab, “uang belanja jangan dipotong mbak, trus tetep ke saya aja.. Tolong jangan bilang ke anak saya soal saya pinjem uang.”

Jeder!

Berarti yang tempo hari bohong dong, katanya pinjem dengan pake bawa nama anaknya. Lah, kok sekarang saya disuruh diem-diem. Sebenernya soal pinjem uang sih kalo dia emang butuh, gapapa. Tapi kalo udah pake bohong, ga jujur.. enggak banget!

Baiklah, saya masih belum ambil tindakan. Kerjaan masih jalan terus dan uang belum juga dikembalikan. Si ibu malah sering cerita tentang kondisi ekonomi di rumahnya, yang ini dan itu. Mungkin saya udah terlanjur kecewa karena dibohongi ya, jadi saya cuman diem ga respon.

Sampai pada akhirnya, saya merasa udah cukup sehat untuk handle urusan dapur sendiri.. Saya putuskan untuk cut si ibu itu. Kasian sih, tapi dia udah berani bohong ke saya.. ya apa boleh buat?

Uang pinjaman udah saya ikhlasin. Mungkin dia emang ga mampu balikin uangnya. Si ibu itu pun juga diam saja ga ada kata tentang uang yang dipinjam. Ya sudah, lupakan.

Ohya, si ibu yang bantuin masak itu tinggalnya ga jauh dari rumah saya, jadi kadang masih ketemu, saya pun bersikap biasa aja. Kalo ketemu tetap saya tegur, ga berharap dia balikin atau apa. Tapi mungkin dianya yang jadi keki.

Nah, sampe pada Idul Fitri, Agustus 2013 lalu.. Si ibu datang ke rumah untuk silaturahmi dan minta segala kekurangannya dimaafkan dan diikhlaskan. Dia gak ngomong secara eksplisit tentang uang pinjaman, tapi saya ngerti arahnya. Tapi.. saya apresiasi keberanian dia untuk datang dan ngomong ke saya. Jadi jelas duduk perkaranya bahwa dia ga sanggup balikin uang dan saya pun mengikhlaskan serta menganggap masalah selesai. Case closed.

Ada poin penting dari saya cerita ini, yaitu soal pinjem uang. Jangan main-main dengan yang namanya pinjem meminjam. Pernah saya tulis sebelumnya di sini.

Ketika kita sudah bilang pinjam, ada kewajiban lain yang mengikuti.. Yaitu mengembalikan. Beda perkara kalo minta, ya tidak perlu dikembalikan. Kadang kita bilang pinjam dengan gampangnya, tapi kemudian menyepelekan karena jumlahnya ga seberapa.

Poin kedua, jadi orang harus tegas jangan nggak enakan. Kadang ada orang yang malah memanfaatkan kebaikan kita.

Bagaimana dengan asisten yang satunya? Alhamdulillah masih lanjut dan so far so good.

Begitulah cerita saya tentang ART. Ada cerita apa dengan ART-mu, teman?

Published by

annafardiana

A happy wife of a happy hubby, pemeran utama di blog pribadi.

9 thoughts on “Asisten oh asisten..”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s