wp-1477311941223.jpeg

Topik Sensitif

Percakapan #1.

A : Jadi pindah ke Jogja?

B : Alhamdulillah, jadi. Tapi belum dapat SK penempatan. Tapi udah dipastikan diterima di Jogja.

A : Trus udah pindahan sekeluarga, dong? Anak istri udah di sini juga?

B : Hm, nggak. Aku sendiri aja.

A : Maksudnya?

B : Hm, sendiri aja. Aku udah nggak.. (sambil angkat bahu dan menggelengkan kepala).

A : Aah, sori-sori, aku nggak bermaksud. Duh, nggak enak banget aku.

***

Percakapan #2.

B : Rajin banget mbak sepedaan.

A : Hehe, iya.

B : Putrane pinten? (punya anak berapa?)

A : Belum, mbak.

B : Udah berapa tahun (nikah)?

A : Udah lama, mbak.

(kemudian hening)

***

Percakapan #3.

A : Kamu kapan kasih undangan ke Tante?

B : Belum tau kapan, Tante.

A : Nunggu apalagi, sih? Kalo perempuan ga bisa nanti-nanti, loh!

***

Di percakapan #1 saya adalah si A, mbak-mbak yang oon, agak lambat nangkap sinyal jadi terkesan kepo. Padahal nggak bermaksud sama sekali, loh. Uh, bodohnya saya.

Di percakapan #2, saya adalah B. Walaupun saya sudah cukup terbiasa dengan pertanyaan soal anak, kalo ada orang yang sekadar kenal tiba-tiba nanya, tetep ada uncertain feeling yang muncul. Buat saya, topik sensitif hanya dibicarakan dengan orang-orang terdekat dan tertentu saja.

Percakapan #3, sounds soo familiar, huh? Di arisan keluarga, nikahan sepupu, momen lebaran, pertanyaan semacam ‘kapan nikah’ sering terdengar.

Sebenernya, masih ada banyak topik sensitif lainnya. Soal berat badan, kerjaan, orangtua, karir, dan sebagainya. You name it, lah. Sensitif di saya, belum tentu sensitif di orang lain. Biasa aja menurut saya, belum tentu biasa juga untuk orang lain. Jadi tiap orang punya hal sensitifnya masing-masing yang gak bisa sembarangan untuk dibahas.

Suatu ketika saya ngobrol bertiga dengan teman-teman SMA di sebuah lesehan bawah Jembatan Layang (flyover) Janti. Obrolan santai lama-lama jadi ajang sharing menghadapi pertanyaan sensitif.

Saya yang bisa mendadak galau kalo ditanya soal anak, teman saya yang kurang suka ditanya soal jodoh, dan teman saya yang cukup terganggu kalo ditanya kenapa belum juga nambah anak. Tuh kan, setiap orang punya isu sensitifnya masing-masing.

Dari obrolan itu kami sepakat, bahwa bisa jadi, orang yang nanyain soal hal sensitif itu ga ada maksud selain basa-basi. It’s just way they say ‘hi’ to us. Bener-bener cuman buat ice breaking aja, karena ga punya bahan lain, alias daripada nggak ngomong. Bisa juga karena ga tau.

Walaupun cuman sekadar nanya atau basa-basi, sadarkah kalo itu bisa membuka luka lama? Buat kita yang sekadar ngomong, sadarkah ada orang lain yang kemudian jadi sedih, gara-gara keinget masalah yang berusaha dia pendam dan lupakan?

Buat saya, menghadapi percakapan sensitif itu juga susah-susah gampang. Berdasarkan pengalaman, kalo pas mood bagus, saya bisa tuh tetep tenang dan belokin ke topik lain. Tanpa berlama-lama membahas topik sensitif.

Tapi kalo bad mood, jatuhnya saya jadi kasih penjelasan ini-itu yang sebenernya ga terlalu penting untuk orang lain. Selesai perbincangan, tuh orang udah lupa sama penjelasan saya. Sayanya masih kepikiran. Hehe.

So, saya punya tips agar kita selamat dan sukses melalui topik-topik sensitif.

  1. Kalo ada yang nanya soal hal sensitif ke kita, jangan sensi dulu. Kalem. Mungkin dia cuman ga punya bahan lain atau nggak ada maksud. Secara halus, kita belokin aja ke topik lain. Ga perlu mendadak curhat. Kita gantian nanya-nanya aja, biar dia yang cerita tentang dirinya.
  2. Supaya kita juga ga keselip lidah bahas topik sensitif orang lain, mendingan pilih topik standar. Hindari bertanya soal keluarga, kerjaan, atau hal pribadi lainnya. Sekadar basa-basi kita bisa ngomongin cuaca, jalanan yang macet, atau bahas harga minyak dunia. Hahaha. Bisa juga bahas hobi, lebih seru dan aman. Jangan bahas politik ya, karena ga semua orang suka ngomong politik dan banyak orang sensi karena beda pilihan. Ups!
  3. Kalo udah terlanjur nanya hal sensitif harus gimana? Ucapkan maaf dan ganti topik pembicaraan. Kata maaf sudah cukup kok, gak perlu ditambahi kalimat penghiburan tentang hal sensitif yang udah terlanjur dibahas. Saya kasih contoh yang pernah saya alami ya.. “nggak papa mbak, tetangga saya ada yang nikahnya lebih lama akhirnya dikasih juga kok”. They don’t need to hear that.๐Ÿ™‚
  4. Kalo nggak pengen basa-basi, cukup diam dan senyum trus sibukkan diri sendiri, ngupil misalnya. Percaya deh, orang lain pasti ilfill dan males ngobrol sama kamu. Hehehe.

Wise man says, every journey has it own challenges and lessons. Behind every smile, there is always a battle to fight. Setiap orang punya isu sensitif dan masalahnya masing-masing. Be nice, welas asih kepada sesama.

Sekuat apapun seseorang, dia hanya manusia biasa yang punya sisi rapuh. Berhati-hatilah. ๐Ÿ˜‡

Ps. Cover foto dari experimentaltheology.blogspot.co.id

Published by

annafardiana

A happy wife of a happy hubby, pemeran utama di blog pribadi.

4 thoughts on “Topik Sensitif”

    1. Bener juga Qied. Nanti aku tambahin. Makasih sarannya๐Ÿ™‚

      Kalo aku sih, ucapkan maaf. Dah cukup. Kemudian ngomongin topik lain. Ga perlu bikin kalimat penghiburan tentang hal sensitif yg udah terlanjur dibahas.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s