Masjid Raya Sultan Riau di Pulau Penyengat

Hello Februari!

Sudah lama nggak bikin postingan tentang traveling atau jalan-jalan, padahal saya sempat mengunjungi beberapa tempat, tapi karena ditunda-tunda terus bikin postingannya, akhirnya lewat begitu saja tanpa sempat saya ceritain di sini.

Nah, akhir Januari kemarin saya sempat berkunjung ke Kota Tanjung Pinang, Kepulauan Riau dalam rangka jalan-jalan sambil dinas.. eh, kebalik ya? Hehe. Mumpung masih seger, harus segera ditulis nih.. keburu lupa!

Kota Tanjung Pinang adalah ibukota Provinsi Kepulauan Riau, pemekaran dari Provinsi Riau. Ini adalah kali pertama bagi saya menjejakkan kaki ke kota ini, walaupun pada tahun 2012 saya sempat mengunjungi kota tetangga yaitu Batam yang hanya berjarak 2 jam dengan kapal ferry.

Suasana Imlek sudah sangat terasa di Kota Tanjung Pinang.
Suasana Imlek sudah sangat terasa di Kota Tanjung Pinang.

Setelah acara kami di Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau selesai, kami menuju ke sebuah pulau kecil yang bernama Pulau Penyengat. Sebuah pulau terpencil yang gak bakal keliatan di peta dunia.🙂 Luasnya cuma 1,7 kilometer persegi.

Pulau ini berjarak 2 km dari pusat kota Tanjung Pinang, cukup 15 menit naik perahu bermotor atau yang disebut pompong. Satu perahu bisa diisi 10-15 orang, tapi ga ada pelampungnya😦 antara takut-takut tapi penasaran. Di pelabuhan ini saya melihat banyak sepeda motor yang terparkir, milik para penghuni pulau yang kebanyakan bekerja di Tanjung Pinang. Setiap pagi mereka menyeberang ke kota dengan pompong, kemudian pergi kerja naik sepeda motor. Trus sore mereka pulang, sepeda motor dititipin di pelabuhan dan mereka balik lagi ke pulau naik pompong. Semacam titipan motor di terminal atau di stasiun kereta api.

Pompong / perahu bermotor di Pulau Penyengat
Pompong / perahu bermotor di Pulau Penyengat
Naik pompong
Naik pompong
Pelabuhan di Pulau Penyengat
Pelabuhan di Pulau Penyengat

Sesampainya di Pulau Penyengat kami segera menuju Masjid Raya Sultan Riau. Sebuah masjid yang konon dibangun dengan campuran putih telur, kapur, pasir, dan tanah liat. Masjid yang masuk sebagai benda cagar budaya ini ini dibangun tahun 1803 oleh Sultan Mahmud dari Kerajaan Riau. Bangunan masjid kemudian dipugar menjadi bentuk yang terlihat saat ini, ketika Riau dipimpin oleh Yang Dipertuan Muda VII Raja Abdurrahman tahun 1832.

Begitu melihat masjid ini, rasanya mata jadi cerah. Kuning dan hijau muda, warna khas bangsa melayu sangat mendominasi. Masjid ini tidak terlalu besar, 18 x 20 meter dengan 4 buah tiang beton sebagai penopang. Di tiap sudut masjid ada 4 buah menara yang dulu digunakan oleh muadzin mengumandangkan panggilan sholat (adzan).

Masjid Raya Sultan Riau, Pulau Penyengat
Masjid Raya Sultan Riau, Pulau Penyengat
Rumah Sotoh / tempat pertemuan
Rumah Sotoh / tempat pertemuan yang berada di bagian depan kanan dan kiri Masjid Raya
Berbagai sudut Masjid Raya Sultan Riau
Berbagai sudut Masjid Raya Sultan Riau
Terdapat Al-Quran Tulis Tangan
Al-Quran Tulis Tangan di dalam Masjid Raya Sultan Riau

Ketika masuk ke dalam masjid, kita dapat melihat sebuah Al-Quran yang ditulis tangan oleh seorang penduduk Pulau Penyengat, bernama Abdurrahman Stambul yang dikirim ke Mesir untuk memperdalam agama Islam. Beliau selesai menulis Al-Quran ini pada tahun 1867.

Pulau Penyengat yang tidak terlalu luas ini bisa dikelilingi dengan naik becak motor, dengan Rp.30.000,- kita bisa melihat-lihat pemandangan dan mengunjungi beberapa bangunan cagar budaya. Sayangnya saya nggak sempat keliling pulau karena waktunya terbatas. Tapi saya masih sempat melihat-lihat di sekitar masjid, melihat aktivitas warga.

Becak Motor
Becak Motor

Menurut pemandu wisata, pompong sebagai transportasi utama dari dan ke Pulau Penyengat hanya beroperasi dari pagi hingga sebelum maghrib serta tergantung pada cuaca dan tinggi gelombang. Jadi, sebelum langit gelap pengunjung harus segera kembali ke Tanjung Pinang.

Published by

annafardiana

A happy wife of a happy hubby, pemeran utama di blog pribadi.

5 thoughts on “Masjid Raya Sultan Riau di Pulau Penyengat”

  1. Heiii!!! Kok kaya nyetrum to, Mbak Anna? Barusan saya juga nulis tentang Tanjung Pinang dan Pulau Penyengat, loh… :mgreen:

    Wah, emang keren banget ya, Mbak? Udah nyobain kulinernya belum? Gimana dengan Gong Gong? (aduh aku excited banget sih?😳 )

    Kalau pengen tahu sedikit sejarah tentang Pulau Penyengat dan Masjid Raya Sultan Riau, bisa berkunjung ke http://cagakurip.com/2015/02/05/berkunjung-ke-kota-gurindam/

    Hehehe… Mudah-mudahan nanti bisa jalan-jalan sambil dinas ke Singapura, ya Mbak. Bias bisa kopdar…😎

    Like

    1. hehe, iya nih nyetrumnya sampe Jogja..😀

      sayangnya gak sempat makan Gong Gong tuh mas.. padahal itu kuliner khas Tanjung Pinang ya. Sayang banget,

      Saya kemaren juga nyebrang ke Singapura, tapi cuman sebentarrrr banget. Cuman menclok sana, menclok sini.. capek di jalan😀

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s